Persib Bandung memasuki musim kompetisi Super League 2025/26 dengan status yang paradoksal: sebagai dinasti yang sedang berkuasa sekaligus sebagai tim yang nyaris memulai dari nol. Keberhasilan fenomenal meraih gelar juara Liga 1 secara beruntun pada musim 2023/24 dan 2024/25 menahbiskan Maung Bandung sebagai kekuatan dominan sepakbola Indonesia. Pencapaian ini, yang menyamai rekor pelatih legendaris Indra Thohir, seharusnya menjadi fondasi untuk kesinambungan dan stabilitas. Namun, manajemen dan tim pelatih memilih jalan yang lebih radikal dan penuh risiko. Alih-alih mempertahankan formula kemenangan, Persib justru melakukan perombakan skuad paling masif dalam beberapa tahun terakhir, sebuah "reset" strategis yang mengejutkan banyak pihak.
Keputusan untuk melepas hampir seluruh legiun asing yang menjadi tulang punggung tim, termasuk pahlawan-pahlawan seperti David da Silva, Ciro Alves, dan Pemain Terbaik Liga 1 2024/25 Tyronne del Pino, menandakan sebuah era baru yang berani. Langkah ini bukanlah cerminan dari kepanikan atau masalah internal, melainkan sebuah pertaruhan yang diperhitungkan dengan cermat. Ambisi klub tidak lagi hanya sebatas mempertahankan hegemoni domestik dengan mengincar hat-trick gelar juara yang bersejarah, tetapi juga untuk menancapkan kuku lebih dalam di panggung kontinental, yakni AFC Champions League Two. Perombakan ini adalah upaya proaktif untuk membangun sebuah tim dengan kedalaman, fleksibilitas taktis, dan daya tahan fisik yang dianggap lebih mumpuni untuk bertarung di dua medan berat secara simultan. Musim 2025/26 akan menjadi jawaban atas pertanyaan fundamental: apakah transformasi radikal ini merupakan langkah jenius untuk membangun dinasti yang lebih superior, atau sebuah perjudian nekat yang berpotensi mengakhiri dominasi mereka di puncak kejayaan?
.jpeg?auto=webp&format=pjpg&width=3840&quality=60)





