Arsenal v Sunderland - Premier LeagueGetty Images Sport

Diterjemahkan oleh

Penggemar Arsenal yang paling disukai mengungkapkan keluhan besar tentang kehidupan di London

  • Kekecewaan terhadap kebiasaan mengemudi orang Inggris

    Meskipun banyak pemain sepak bola ternama dikenal karena koleksi mobil mewah mereka, Calafiori telah mengambil pendekatan yang sangat berbeda dalam menavigasi jalanan London. Pemain internasional Italia berusia 23 tahun, yang bergabung dengan Arsenal dari Bologna pada 2024, mengungkapkan bahwa ia merasa lalu lintas kota tersebut begitu menyebalkan sehingga ia memilih untuk tidak memiliki kendaraan sama sekali. London secara konsisten dinobatkan sebagai salah satu kota megapolitan paling padat di dunia, dengan kecepatan rata-rata seringkali turun drastis, dan ketidakmampuan untuk bergerak ini jelas telah menguji kesabaran sang bek.

    Selain volume kendaraan yang padat di jalan, Calafiori juga mengungkapkan kebingungan khusus terkait pola pikir pengemudi Inggris. Terbiasa dengan gaya mengemudi yang lebih lancar dan mungkin lebih agresif di negaranya, ia merasa kepatuhan yang kaku terhadap aturan di Inggris justru menjadi hambatan rather than bantuan. "Saya tidak mengemudi, tapi saya berkeliling dengan sopir. Saya lebih suka tidak mengemudi di sini. Saya tidak punya mobil, tapi saya bisa mengemudi," katanya dalam podcastSupernova. "Saya tidak suka cara mereka mengemudi di sini. Mereka terlalu patuh pada aturan dan agak lambat. Terkadang Anda melihat kemacetan besar tanpa alasan."

  • Iklan
  • FBL-EUR-C1-ARSENAL-TRAININGAFP

    Perjalanan pulang-pergi yang sepi seorang warga kota

    Geografi tim papan atas seringkali membuat para pemain berkumpul di pinggiran kota yang tenang dan rindang dekat dengan lapangan latihan untuk mempermudah perjalanan harian mereka. Namun, sebagai seorang pemuda yang tinggal sendirian, Calafiori memilih energi yang ramai di Pusat London, sebuah pilihan yang membuatnya berjarak dari kebanyakan rekan setimnya. Keputusan ini mengharuskannya melakukan perjalanan 50 menit ke fasilitas latihan klub untuk check-in pukul 09.15, perjalanan yang ia lebih suka lakukan sebagai penumpang daripada mengemudi.

    Tinggal di pusat kota memberikan gaya hidup yang berbeda dibandingkan dengan rutinitas keluarga rekan-rekannya. "Saya tinggal cukup jauh dari rekan-rekan tim saya; tidak ada yang tinggal di tempat saya. Sebagian besar dari mereka memiliki keluarga dan anak-anak, dan tinggal di rumah-rumah dekat lapangan latihan," katanya.

  • Biaya judul dan ambisi Eropa

    Di lapangan, frustrasi yang dialami M25 tidak menghambat momentum Arsenal dalam mengejar kampanye historis mereka. The Gunners kini unggul lima poin dari Manchester City di puncak klasemen Premier League, meskipun telah memainkan satu pertandingan lebih banyak. Kedatangan Calafiori bertepatan dengan periode perkembangan yang stabil di bawah asuhan Mikel Arteta, dan sang bek optimis bahwa skuad saat ini memiliki kedalaman psikologis dan teknis yang diperlukan untuk akhirnya menyeberangi garis finis setelah beberapa kali hampir gagal dalam beberapa musim terakhir.

    Pemain Italia ini tidak meremehkan skala tugas yang dihadapi, namun tetap optimis tentang arah klub. "Sejak manajer ada di sini, kami selalu berada di posisi teratas atau dekat dengan itu, sering kali finis kedua dengan selisih tipis, tapi saya pikir ada perbaikan setiap tahun," kata Calafiori. "Saya harap ini adalah tahun yang menentukan."

  • Calafiori ArsenalGetty Images

    Menyesuaikan diri dengan permainan sepak bola Inggris

    Transisi dari ketatnya taktik Serie A ke tempo yang tak kenal lelah di Premier League telah menjadi proses pembelajaran bagi sang bek. Ia mencatat pergeseran budaya yang signifikan, mulai dari durasi sesi latihan hingga atmosfer di tribun penonton. Salah satu pengamatan yang membuatnya terkejut adalah pemandangan stadion kosong selama pemanasan pra-pertandingan, kontras yang mencolok dengan tribun yang cepat terisi yang sering terlihat di benua Eropa. Selain itu, ia memandang sepak bola Inggris lebih berorientasi serangan, membutuhkan pendekatan mental yang berbeda dibandingkan dengan pertandingan taktis defensif di Italia. "Jelas, budayanya benar-benar berbeda. Misalnya, jika saya memikirkan Italia, sesi latihan berlangsung dua jam, taktiknya juga berbeda. Sepak bola di Italia lebih taktis, sedangkan di sini mereka lebih fokus pada serangan," katanya.

    Minggu-minggu mendatang akan menjadi ujian sejati bagi Calafiori dan rekan-rekannya, yang tetap aktif di empat front. Dengan laga knockout Liga Champions melawan Bayer Leverkusen dan final Carabao Cup melawan Manchester City di depan mata, performa tim dan ketahanan cedera mereka akan menjadi sorotan. Jika Arsenal dapat mempertahankan konsistensi mereka melalui jadwal padat ini, Calafiori mungkin akan menemukan bahwa parade trofi membuat kemacetan lalu lintas di London sedikit lebih mudah ditanggung.

0