Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
FC Barcelona v Paris Saint-Germain - UEFA Champions League Round of 16: Second LegGetty Images Sport
Diterjemahkan oleh

Paris Saint Germain vs Barcelona: Laga klasik, bedah taktik La Remontada

Pada 8 Maret 2017, Camp Nou menyaksikan peristiwa yang menentang logika dan hingga kini menjadi contoh utama dalam kajian psikologi olahraga. Setelah dihajar 4-0 di Parc des Princes, Barcelona asuhan Luis Enrique memasuki leg kedua dengan peluang yang, secara matematis, tampak amat tipis. Belum pernah ada tim dalam sejarah Piala Champions Eropa yang membalikkan defisit sebesar itu.

Namun, 96.290 penonton berkumpul di bawah langit yang sebagian berawan, bukan sekadar untuk menyaksikan pertandingan, melainkan juga untuk turut larut dalam halusinasi kolektif yang akhirnya menjadi kenyataan bersejarah. Udara dipenuhi aroma optimisme yang putus asa, tetapi indah.

  • TOPSHOT-FBL-EUR-C1-BARCELONA-PSGAFP

    Geometri awal yang bak mimpi

    Pendekatan taktik Barcelona merupakan pertaruhan besar pada permainan vertikal. Enrique mengesampingkan kehati-hatian dengan menerapkan sistem yang dirancang untuk membatasi ruang gerak para pengatur serangan PSG yang bermain jauh di belakang. Strategi itu membuahkan hasil dalam tiga menit pertama.

    Luis Suarez, yang selalu berbahaya di kotak kecil, menjadi pemain pertama yang bereaksi terhadap bola lambung. Sundulannya melewati garis gawang sebelum Thomas Meunier sempat menyapu bola. Gol cepat yang krusial itu memangkas ketertinggalan empat gol Barcelona.

    PSG di bawah Unai Emery tampak solid secara struktur permainan, tetapi rapuh secara mental. Tekanan terus meningkat hingga menit ke-40, ketika umpan tumit Andres Iniesta yang lahir dari intuisi kreatifnya memaksa Layvin Kurzawa mencetak gol bunuh diri. Skor saat jeda adalah 2-0; sesuatu yang mustahil mulai tampak sebagai hasil yang mungkin dicapai lewat taktik Barcelona.

  • FBL-EUR-C1-BARCELONA-PSGAFP

    Kekacauan, patah hati, dan pukulan telak tak terduga dari Cavani

    Babak kedua dimulai dengan lonjakan adrenalin. Dalam lima menit, Meunier terpeleset dengan ceroboh hingga terjadi pelanggaran terhadap Neymar, dan Lionel Messi menuntaskan penalti yang dihasilkan dengan tenang. Pada kedudukan 3-0, stadion benar-benar bergetar.

    Namun, jalannya sepakbola jarang bisa ditebak. Pada menit ke-62, Edinson Cavani melepaskan tendangan setengah voli keras ke bagian atas gawang. Bagi tim Paris, gol ini dianggap sebagai pukulan telak. Karena aturan gol tandang, Barcelona kini membutuhkan tiga gol lagi untuk lolos.

    Camp Nou seketika sunyi senyap. PSG mendapat kesempatan untuk bertahan, dan ketika waktu melewati menit ke-87, pertarungan taktik tampak telah usai. Para suporter mulai bergerak menuju pintu keluar, yakin bahwa mereka baru saja menyaksikan kegagalan yang terhormat.

  • FC Barcelona v Paris Saint-Germain - UEFA Champions League Round of 16: Second LegGetty Images Sport

    Tujuh menit penuh kegilaan dan keajaiban Roberto

    Yang terjadi kemudian bukan sekadar pertandingan sepakbola; itu adalah pertunjukan tekad yang tak tergoyahkan, dipelopori oleh seorang pemain yang tak lama lagi akan menjadi pemain termahal di dunia. Pada menit ke-88, Neymar melengkungkan tendangan bebas indah ke pojok atas gawang. Pada menit ke-91, setelah Suarez dinyatakan dilanggar, Neymar kembali maju dan dengan tenang mengeksekusi penalti untuk mengubah skor menjadi 5-1.

    Skor agregat menjadi 5-5, tetapi PSG masih unggul. Lalu, pada menit ke-95, seluruh susunan taktik terakhir berubah menjadi kekacauan yang memukau. Ter Stegen berada di wilayah pertahanan lawan. Neymar melambungkan bola melewati garis pertahanan, sebuah upaya putus asa yang masih menyimpan harapan. Sergi Roberto, pemain serbabisa yang jarang mendapat sorotan, melompat tinggi dan menyodok bola melewati Kevin Trapp. Skor malam itu 6-1. Agregat 6-5.

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • FC Barcelona v Paris Saint-Germain - UEFA Champions League Round of 16: Second LegGetty Images Sport

    Warisan dan pergeseran peta kekuasaan

    Data pascapertandingan dari para ahli seismologi setempat mengonfirmasi bahwa gemuruh setelah gol Roberto tercatat sebagai gempa mikro. Bagi PSG, keruntuhan itu digambarkan media sebagai “mimpi buruk” dan “penghinaan” yang akan menjadi penanda proyek mereka selama bertahun-tahun.

    Cavani belakangan mengakui bahwa keterkejutan akibat malam itu begitu mendalam hingga ia membutuhkan terapi psikologis untuk memprosesnya. Bagi Barca, itu adalah puncak era MSN. Pada malam itu, Neymar, yang dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Pertandingan, keluar dari bayang-bayang Messi dan menghadirkan penampilan singkat selama tujuh menit paling berpengaruh dalam sejarah kompetisi. Itu tetap menjadi kebangkitan terbesar yang pernah tercatat di Liga Champions.

    Jika ditilik kembali, La Remontada lebih dari sekadar hasil pertandingan. Peristiwa itu menjadi katalis bagi era modern sepakbola Eropa. Malam itulah yang meyakinkan petinggi Qatar di Paris untuk mengaktifkan klausul pelepasan Neymar senilai €222 juta hanya beberapa bulan kemudian, mengubah lanskap bursa transfer untuk selamanya.

    Meski Blaugrana akhirnya tersingkir oleh Juventus pada babak berikutnya, kenangan akan kemenangan 6-1 itu menjadi pengingat abadi bahwa keajaiban bisa terjadi dalam sepakbola. Pada malam itu, diagram taktik seolah tercabik oleh kekuatan keyakinan manusia semata, menyisakan gambaran yang terus melekat dalam ingatan: sepatu Roberto yang terjulur dan suara 96.000 jiwa yang berteriak ke arah bintang-bintang.