Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Halaman ini berisi tautan afiliasi. Ketika Anda melakukan pembelian melalui tautan yang disediakan, kami dapat memperoleh komisi.
إنزاجي - بنزيما - الهلالkooora

Diterjemahkan oleh

Miliaran dan Permainan Finansial Bersih: Kejutan Benzema dan Lini Serang Emas Menyeret Al-Hilal!

Al Hilal tak sekadar terjun ke bursa transfer, melainkan seolah membukanya kembali setiap kali semua orang mengira tirai telah diturunkan. Nama-nama besar berdatangan, sebagian lainnya pergi, kontrak-kontrak diteken dengan nilai fantastis, lalu muncul pemutusan kontrak dan peminjaman yang mengembalikan situasi ke titik nol, dalam salah satu proses pembangunan ulang skuad paling kontroversial di sepakbola Saudi belakangan ini.

Sejak Januari lalu, gerak-gerik "Sang Pemimpin" menjadi bahan perbincangan tak berkesudahan di kalangan suporter dan media, bukan hanya karena nilai transfer, tetapi juga karena kecepatan berubahnya wajah tim. 

Baca juga: Video: Walid Al Faraj membongkarnya, inilah alasan Benzema memutuskan pensiun!

Al Hilal merekrut sejumlah bintang, lalu melepas sebagian dari mereka, dan kembali mendatangkan nama-nama baru di posisi yang nyaris sama, seakan klub tidak memberi dirinya sendiri waktu yang cukup untuk menguji satu proyek sebelum beralih ke proyek lainnya.

Yang lebih menarik, suara-suara yang menuntut penerapan aturan financial fair play terhadap Al Hilal semakin meninggi seiring membengkaknya besaran pengeluaran, terlebih klub memiliki daya beli yang memberinya kemewahan yang tak dimiliki dalam kadar serupa oleh banyak pesaingnya.

 Namun, terlepas dari kontroversi regulasi, pertanyaan dari sisi olahraga tetap lebih memalukan: jika semua dana ini digelontorkan, mengapa hingga kini belum berubah menjadi dominasi penuh di liga dan Asia?

  • Sejak Januari, Al Hilal Tak Kunjung Tenang

    Daftar itu sendiri sudah mengungkap besarnya pergerakan yang dialami Al Hilal. Sejak Januari hingga saat ini, klub telah menjalin serangkaian kesepakatan yang mencakup Karim Benzema, Rayan Al Dossari, Pablo Mari, Murad Hawsawi, Sultan Mandash, Karim Benzema, Simon Bouabre, dan Mohamed Kader Meite..

    Ditambah Abdullah Al Anazi, Sabri Dahel, Nawaf Al Habashi, Mohamed Al Sarnukh, dan Mohamed Mahzari mulai dari bursa transfer yang sedang berjalan, kemudian perhatian tertuju pada nama-nama besar. Muncullah pemain Belanda Crysencio Summerville, disusul pemain Inggris Ollie Watkins, lalu pemain Brasil Gabriel Martinelli, hingga lini depan Al Hilal berubah menjadi bengkel terbuka yang tak pernah berhenti.

    Dan di sinilah letak paradoksnya; klub sebenarnya tidak menderita kemiskinan lini serang sampai harus memulai seluruh pengeluaran ini, melainkan sejak awal sudah memiliki sekelompok nama yang mampu menciptakan perbedaan. 

    Meski demikian, manajemen memilih untuk menambah lagi, seolah tujuannya bukan lagi sekadar memperkuat lini serang, melainkan menciptakan lini depan yang bisa menyaingi tim mana pun di dunia dari segi nama.

    Namun sepak bola tidak memberikan gelar kepada yang memiliki nama-nama paling bersinar. Kadang banyaknya bintang menjadi awal dari masalah baru, karena setiap pemain membutuhkan perannya, setiap bintang membutuhkan menit bermain, dan sistem membutuhkan waktu untuk memahami dirinya sendiri.

  • Iklan
  • Al Nassr vs Al Hilal - Saudi Pro LeagueGetty Images Sport

    Benzema: Transfer besar dengan akhir yang lebih cepat dari perkiraan

    Di tengah semua pengeluaran ini, berkas Karim Benzema menjadi yang paling kontroversial. Seorang penyerang sekelas peraih Ballon d'Or, direkrut oleh Al Hilal, namun tak lama berselang muncul kabar kepergiannya, sebelum beredar angka-angka besar terkait penyelesaian pembayaran yang diperkirakan mencapai sekitar 25 juta euro.

    Di sinilah pemandangan menjadi lebih rumit; bukan hanya karena Benzema tidak berhasil, melainkan karena transfer itu sendiri tidak berlangsung lama sebelum klub mulai mencari solusi alternatif.

     Sekitar enam bulan sudah cukup bagi Al Hilal untuk kembali dihadapkan pada sebuah keputusan baru, kemudian muncul Watkins sebagai alternatif yang mungkin, membuka babak lain dalam kisah ini.

    Masalahnya bukan pada gagalnya sebuah transfer, karena hal ini biasa terjadi dalam sepak bola. Masalah sesungguhnya adalah ketika siklus yang sama terus berulang: transfer besar, lalu ketidakpuasan, kemudian pemutusan kontrak atau peminjaman, lalu transfer besar lainnya. Pada saat itu, persoalannya tidak lagi sekadar teknis, melainkan berubah menjadi pertanyaan tentang biaya kesalahan dan kecepatan pengambilan keputusan.

    Dari sudut pandang ini, Benzema menjadi simbol dari sebuah fase utuh di dalam Al Hilal; sebuah fase di mana nama besar kelas dunia bisa datang hari ini, lalu berada di luar proyek keesokan harinya jika tidak segera menyatu dengan visi teknis.

  • imago-sport-1080255964.jpgIcon Sportswire

    Uang jumbo, hasil yang masih diuji

    Al Hilal tak hanya menggelontorkan dana untuk Benzema, tetapi skuad mereka juga menyaksikan serangkaian pergerakan yang mencakup pelepasan sejumlah nama lain melalui pemutusan kontrak, seperti Joao Cancelo, Mateo Retegui, dan Malcom de Oliveira, di samping peminjaman Darwin Nunez, yang tidak memberikan dampak sesuai harapan selama pengalaman pertamanya.

    Nunez secara khusus merepresentasikan sebuah paradoks besar dalam kisah ini; seorang pemain yang datang dari Liverpool, sebuah transfer yang membawa ambisi luar biasa, lalu mendapati dirinya berada di luar rencana dan pergi dengan status pinjaman, dan pada saat yang sama Al Hilal mulai mencari penyerang tengah baru, hingga akhirnya datanglah Watkins.

    Anda dapat mendiskusikan topik dan berita secara lebih mendalam di forum "Kooora"

    Dan ketika Anda menambahkan pada hal itu kepindahan Summerville, Martinelli, dan Watkins, gambarannya menjadi seperti sebuah pergerakan finansial besar yang terus berlangsung di dalam tim, khususnya di lini serang, nama-nama besar berdatangan, dan nama-nama besar pergi, sementara tagihan tak kunjung berhenti.

    Namun di sini harus dibedakan antara dua hal: pengeluaran besar tidak secara otomatis berarti adanya pelanggaran finansial, dan pembicaraan tentang financial fair play selalu membutuhkan regulasi dan data resmi agar menjadi sebuah tuduhan yang sesungguhnya.

     Adapun yang bisa didiskusikan secara olahraga adalah efisiensi pengeluaran dan sejauh mana kemampuan tim mengubah investasi ini menjadi trofi.

    Dan Al Hilal secara khusus tidak memiliki kemewahan untuk mengatakan bahwa pembangunan membutuhkan waktu bertahun-tahun, karena mereka bersaing setiap musim demi liga dan Liga Champions Asia, dan para pendukungnya tidak melihat daftar bintang sebanyak mereka melihat apa yang pada akhirnya akan tersimpan di dalam lemari klub berupa piala-piala.

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • imago-sport-1081063979.jpgAbdullah Ahmed

    Serangan Emas: Menjadi Harta Karun atau Tagihan Tanpa Akhir?

    Al Hilal mungkin kini memiliki salah satu lini serang paling memikat di liga, namun memiliki serangan terkuat di atas kertas tidak selalu berarti memiliki tim terkuat di atas lapangan. 

    Watkins, Martinelli, dan Summerville adalah nama-nama yang mampu membuat perbedaan, tetapi keberhasilan sesungguhnya baru akan terlihat ketika tim berhenti mengubah komposisinya setiap beberapa bulan, dan memberi sistemnya kesempatan untuk tumbuh serta stabil.

    Di sinilah persamaan Al Hilal tampak bak pedang bermata dua; kekuatan finansial memungkinkan klub memperbaiki kesalahan dengan cepat, tetapi juga bisa mendorongnya mengambil keputusan tergesa-gesa setiap kali seorang pemain atau sebuah proyek tersendat, sehingga roda perubahan terus berputar tanpa akhir.

    Yang lebih menarik perhatian, seluruh investasi ofensif ini hingga kini belum disertai dominasi yang diharapkan para suporter dari sebuah skuad senilai itu, sebab liga membutuhkan kesinambungan, Asia membutuhkan ketangguhan, dan gelar-gelar besar terkadang ditentukan oleh detail pertahanan lebih daripada sebuah nama baru di lini serang.

    Karena itu, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi: siapa lagi yang akan direkrut Al Hilal? Melainkan: mampukah Al Hilal akhirnya berhenti membeli solusi, dan mulai membangun sebuah sistem yang tidak membutuhkan perubahan terus-menerus?

    Jika "Sang Pemimpin" berhasil mengubah kekuatan beli ini menjadi tim yang solid, trio serang baru ini bisa menjadi generasi emas yang menancapkan pengaruhnya selama bertahun-tahun.

     Namun jika kebijakan keluar-masuk, pemutusan kontrak, dan peminjaman terus berlanjut, miliaran yang menciptakan kegaduhan di bursa transfer bisa berubah menjadi sekadar tagihan raksasa bagi sebuah proyek yang belum menemukan kestabilannya.