Getty Images SportManuel Akanji Sebut Federico Dimarco Masuk 'Top 3' Rekan Terbaik, Bintang Inter Turut Bela Rekor Eropa Nerazzurri
Apresiasi Maksimal untuk Sihir Kaki Kiri Sang Bek Sayap
Pertandingan di Stadio Via del Mare membuktikan betapa vitalnya kedalaman skuad yang dimiliki oleh pelatih Cristian Chivu. Manuel Akanji dan Henrikh Mkhitaryan, yang sama-sama masuk dari bangku cadangan, sukses menjadi aktor penentu kemenangan berkat pemahaman taktis yang matang. Akanji mengunci kemenangan tim tamu lewat sundulan akurat yang menyambut sepak pojok Federico Dimarco. Skema ini mereplikasi proses gol pembuka dari Mkhitaryan, yang juga berawal dari kelihaian Dimarco dalam mengeksekusi bola mati. Seusai peluit panjang berbunyi, Akanji menekankan pentingnya menjaga fokus dan kesiapan mental bahkan sebelum melangkah ke atas lapangan hijau, sebagaimana sebuah skema set-piece terbukti mampu menjadi penentu hasil akhir di laga yang berjalan alot.
Ketika diminta membandingkan kemampuan teknis Dimarco dengan deretan bintang dunia yang pernah bermain bersamanya di Jerman, Inggris, dan Italia, mantan pemain Manchester City itu sama sekali tidak menahan pujiannya. Umpan silang tajam dan keahlian eksekusi bola mati pemain didikan akademi Inter tersebut telah menjelma menjadi fondasi krusial dalam sistem permainan Chivu. "Saya mencoba mengingat kembali seluruh rekan setim yang pernah bermain bersama saya, dan dia jelas masuk dalam posisi tiga besar. Dia sudah mencetak begitu banyak assist, mungkin saja dia yang terbaik, tetapi saya tidak ingin berbicara lebih dari itu agar tidak mengecilkan pemain lain. Dia sungguh luar biasa," papar Akanji. Angka statistik pun mengamini pernyataan tersebut; Dimarco kini resmi mengukir sejarah sebagai bek Serie A pertama semenjak musim 2006/07 yang sukses menyumbangkan assist dalam lima penampilan secara berturut-turut.
Getty Images SportPembelaan Atas Tudingan Inkonsistensi di Benua Biru
Walau tampil begitu perkasa di kompetisi domestik Italia, konsistensi performa Inter di panggung Eropa mulai dipertanyakan oleh berbagai pihak. Skuad Nerazzurri melawat ke wilayah selatan Italia di bawah bayang-bayang kelabu seusai takluk 3-1 dari wakil Norwegia, Bodo/Glimt, pada laga play-off Liga Champions. Situasi kelam tersebut semakin diperparah dengan cedera yang menimpa sang kapten sekaligus mesin gol utama, Lautaro Martinez. Para kritikus mulai membangun narasi bahwa terdapat "dua versi Inter"—sebuah tim yang mendominasi Serie A, namun mendadak kehilangan taringnya saat harus berhadapan dengan lawan yang di atas kertas lebih inferior di kompetisi kontinental.
Menanggapi kritik tajam tersebut, Akanji dengan sigap membantah anggapan bahwa timnya mengubah identitas atau menurunkan standar permainan bergantung pada ajang yang diikuti. "Saya tidak merasa ada dua versi Inter yang berbeda. Mayoritas laga di mana kami menelan kekalahan di Liga Champions adalah saat melawan tim-tim besar. Kami memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan melawan Bodo/Glimt dalam beberapa hari ke depan," tegas pemain bertahan tersebut. Ia menyoroti bahwa intensitas dan upaya yang dikerahkan oleh skuad selalu berada di level maksimal. Menurutnya, narasi publik selalu berubah-ubah; dahulu mereka dikritik tidak mampu memenangi laga besar, kini mereka dicap sebagai tim bermuka dua, padahal para pemain selalu berusaha memberikan dedikasi terbaik di setiap kesempatan.
Solidaritas Kekeluargaan untuk Melindungi Bastoni
Laga tandang ini tidak hanya menguji ketahanan fisik para pemain Inter, tetapi juga mental mereka, terutama bagi Alessandro Bastoni. Sang pemain bertahan terus menjadi sasaran intimidasi dan permusuhan dari publik tuan rumah sepanjang malam. Hal ini merupakan imbas dari sorotan tajam media terhadap insiden simulasi kontroversial yang melibatkan Bastoni saat melawan Juventus pada pekan sebelumnya. Setiap kali ia menyentuh bola, seisi stadion langsung bergemuruh melontarkan cemoohan yang memekakkan telinga. Namun, di tengah tekanan eksternal yang begitu masif, ruang ganti Inter justru memperlihatkan persatuan yang tidak tertembus.
Rekan-rekan setimnya, termasuk Dimarco dan Mkhitaryan, secara vokal menyuarakan keharusan untuk melindungi Bastoni dari kebisingan luar dan menjaga fokus penuh pada perburuan Scudetto. "Semua itu sudah berlalu, kini kami harus fokus pada masa kini. Bastoni dan semua orang sudah terlalu banyak membahas hal tersebut, kami hanya ingin fokus pada pekerjaan kami," ujar Dimarco saat ditanya mengenai atmosfer stadion yang tidak bersahabat. Mkhitaryan turut mengamini sentimen tersebut dengan penuh keyakinan. "Kami adalah sebuah keluarga, kami saling mendukung dalam keadaan suka maupun duka, tetapi hal itu sudah menjadi masa lalu dan kami harus terus melangkah maju," urai gelandang veteran asal Armenia itu. Menjelang laga penentuan leg kedua melawan Bodo/Glimt, ikatan solidaritas ini akan menghadapi ujian sesungguhnya demi menjaga asa di kompetisi Eropa.
Getty Images SportSuntikan Moral di Tengah Tantangan Fisik dan Logistik
Raihan tiga poin penuh ini memberikan dorongan moral yang sangat masif bagi anak asuh Chivu, yang dipaksa melakukan penyesuaian strategi tanpa kehadiran pemain pilar seperti Calhanoglu dan Barella akibat sanksi skorsing. Dimarco secara terbuka mengakui bahwa tantangan logistik yang mendera tim selama sepekan terakhir telah menambah tingkat kesulitan pertandingan secara signifikan. "Bisa memecah kebuntuan rasanya benar-benar melegakan, karena kami sadar ini adalah laga yang sulit melawan Lecce yang terorganisasi dengan baik. Setelah perjalanan panjang ke Bodo pada Kamis malam, kami harus kembali berangkat kemarin untuk bertolak ke sini, itu sama sekali tidak mudah," ungkap sang bek sayap. Kemenangan ini memberikan rasa konsistensi yang amat dibutuhkan untuk terus memberikan tekanan di puncak klasemen Serie A.
Bagi Mkhitaryan, gol yang ia cetak adalah murni perihal insting, komunikasi internal, dan keberadaan di posisi yang tepat guna mengisi ruang yang biasanya ditempati oleh Bastoni di sepertiga akhir lapangan. "Biasanya Bastoni yang berada di posisi tersebut, tetapi karena ia baru saja berlari dan melakukan tekel penting yang menguras tenaga, ia tidak memiliki cukup energi untuk maju ke sana, jadi saya yang mengambil alih ruang itu," urainya. Selama atmosfer kekeluargaan yang erat dan kualitas umpan mematikan Dimarco tetap terjaga, Inter tampak berada dalam trek yang ideal untuk menangani tekanan ganda perburuan gelar domestik dan misi comeback di panggung Eropa.
Iklan



