Arsenal-Man Utd W+Ls.jpgGetty/GOAL

Cie, Mikel Arteta PANIK! Pemenang & Pecundang Saat Keberanian Arsenal Menguap Dalam Pacuan Gelar Liga Inggris Dan Michael Carrick Jadi Jackpot-nya Manchester United

Arsenal menyambut Manchester United di Emirates sebagai unggulan mutlak. Kemenangan akan mengembalikan jarak mereka di puncak klasemen Liga Inggris menjadi tujuh poin. Menjelang laga, rekor kandang mereka musim ini masih sempurna, tetapi Setan Merah datang dan menanamkan rasa takut.

Man United besutan Michael Carrick memainkan laga transisi dengan nyaris sempurna. Mereka meredam tuan rumah untuk waktu yang lama, lalu menyerang balik dengan visi yang jelas setiap kali menguasai bola. MU memang pantas menang—kemenangan Liga Inggris pertama mereka di Emirates sejak musim 2017/18.

Hasil ini, ditambah dua performa kontras kedua tim, berpotensi mengubah peta kekuatan sisa musim ini, dengan pacuan gelar Liga Inggris dan tiket Liga Champions kembali memanas. GOAL mengulas para pemenang & pecundang setelah Man United menaklukkan Arsenal di Emirates Stadium...

  • Arsenal v Manchester United - Premier LeagueGetty Images Sport

    PEMENANG: Michael Carrick

    Dalam konferensi pers pra-pertandingan, Michael Carrick menepis anggapan bahwa ia akan sekadar mengulang pendekatan yang sukses meredam Manchester City sepekan sebelumnya untuk mengalahkan Arsenal.

    “Setiap pertandingan berbeda. Tidak pernah sama, bahkan setelah 45 menit pertama yang bagus. Saya tidak suka mengatakan ‘lakukan hal yang sama lagi’ karena memang tak pernah sama,” ujarnya. “Kami harus membangun dari situ, tidak akan sekadar salin-tempel. Saya pikir kami harus menambahkan elemen baru, harus siap, dan berada dalam performa terbaik. Jika kami dalam kondisi terbaik, kami merasa punya peluang besar.”

    Dan benar saja, yang tampil bukanlah Man United dengan intensitas brutal seperti di derbi Manchester, melainkan versi yang lebih cerdas dan terukur. Selama setengah jam pertama, Man United tertekan habis-habisan tanpa jalan keluar. Baru setelah gol bunuh diri Lisandro Martinez mereka ‘terbangun’. Sejak saat itu, Man United justru mengontrol permainan.

    Jika era Ruben Amorim terasa seperti kunjungan ke dokter gigi—menyakitkan dan penuh kecemasan—maka Man United di bawah Carrick tampak menikmati penderitaan itu. Mereka bertahan dalam, disiplin, namun tetap mampu merangsek ke depan dengan kecepatan yang selama ini diidamkan para penggemar.

    Pencetak gol kemenangan MU, Matheus Cunha, berbicara soal Carrick: “Dia tahu rasanya, dia lama bermain di sini. Dia tahu Manchester, tahu United, tahu apa yang fans inginkan. Dia selalu menekankan bahwa semua orang benci kami, dan itu membuat kami semakin menyatu.”

    Harry Maguire, yang dianugerahi man of the match, menambahkan: “Michael luar biasa. Dia datang membawa energi segar, tim benar-benar solid. Dua laga sulit, banyak yang mengira kami takkan dapat poin, tapi memenangkan keduanya itu luar biasa.”

    Efek 'manajer baru' jelas berpihak pada Carrick, dan pasti akan ada perbandingan dengan era interim Ole Gunnar Solskjaer pada 2019 sebelum ia akhirnya diangkat jadi manajer permanen. Apa pun akhirnya, Carrick telah memimpin tim memetik dua kemenangan monumental dari dua laga, termasuk mengalahkan Arsenal asuhan Arteta dua kali dengan skor 3-2 dalam rentang empat tahun. Itu bukan hal sepele.

  • Iklan
  • Arsenal v Manchester United - Premier LeagueGetty Images Sport

    PECUNDANG: Mikel Arteta

    Sebagai sesama mantan deep-lying playmaker, Arteta kerap mendapat kritik berlebihan meski Arsenal jelas mengalami progres signifikan dan mampu berdiri bersama tim-tim terbaik Eropa. Namun, pada Minggu ini, semua keraguan dan kelemahannya muncul ke permukaan. Entah itu ketergantungan pada bola mati, kurangnya kohesi saat menguasai bola, lemparan ke dalam yang memakan waktu tak masuk akal, hingga kecemasan yang menyelimuti Emirates... Jika mencari benang merahnya, Anda akan menemukan Arteta sebagai pusat segalanya yang patut disalahkan.

    Oke, mari kita mulai dari dua poin pertama. Bukayo Saka tanpa gol dalam 13 laga terakhir di semua kompetisi. Masing-masing dari Gabriel Martinelli dan Noni Madueke mandul dalam 13 dan 25 penampilan Liga Inggris. Gol open play terakhir Viktor Gyokeres di liga terjadi saat melawan Nottingham Forest, di laga pertama Ange Postecoglou musim ini pada bulan September. Bahkan Leandro Trossard, yang dikenal sebagai spesialis momen krusial, hanya mencetak satu gol dalam 11 pertandingan. Praktis, pergantian empat pemain sekaligus sebelum waktu genap menunjukkan satu jam terasa seperti tindakan penuh kepanikan dan bahwa Arteta sudah kehabisan ide koheren, seolah berharap salah satu dari anak asuhnya itu bisa menemukan solusi ajaib.

    Arteta, sebagai mantan gelandang Arsenal, berusaha menyalurkan kecintaannya pada klub dan membangun ikatan emosional dengan fans. Dia mendorong beberapa perubahan pada hari pertandingan, dengan memperkenalkan lagu 'The Angel' alias 'North London Forever', pengumuman nama pemain setelah gol ala Eropa daratan, hingga penghapusan terowongan pemain. Ia ingin Emirates menjadi tempat yang menakutkan. Masalahnya, basis penggemar ini justru terbiasa merasa takut. Sedikit saja ada tanda bahaya, mereka panik. Bahkan saat unggul 1-0, kecemasan sudah terdengar jelas dari tribun fans tuan rumah.

    Ini mungkin bukan akhir segalanya bagi Arteta. Namun, ini adalah peringatan keras bahwa Arsenal tak seimpresif, tak setangguh, dan tak seberani yang mereka tampilkan sepanjang awal musim.

  • Arsenal v Manchester United - Premier LeagueGetty Images Sport

    PEMENANG: Pemain pilihan Jason Wilcox

    Direktur sepakbola Man United Jason Wilcox sempat dikritik atas caranya menangani pemecatan Ruben Amorim. Tapi, fans tak bisa menyangkal bahwa pemain-pemain pilihannya yang ia rekrut terbukti telah membuat Setan Merah menjadi tim yang jauh lebih baik daripada satu tahun lalu. Tiga pemain baru menjadi pahlawan di Emirates, dengan dua di antaranya mencetak gol spektakuler untuk membawa MU unggul. 

    Keputusan Carrick mempertahankan Bryan Mbeumo sebagai ujung tombak awalnya terlihat berisiko, dan ketika Man United nampak tenggelam di bawah tekanan menit-menit awal, keputusan itu nampak akan menjadi bencana. Tetapi penyerang Kamerun itu terus merepotkan duo William Saliba dan Gabriel Magalhaes, yang secara fisik lebih besar dan tinggi darinya. Instingnya memanfaatkan kesalahan fatal Martin Zubimendi berujung gol penyeimbang.

    Patrick Dorgu, yang tengah melalui evolusi dari wing-back menjadi winger ala Gareth Bale, mencetak gol kedua lewat tembakan geledek spektakuler yang menghantam mistar sebelum masuk ke gawang. Patrice Evra pun ikut mengaguminya di media sosial.

    Dan dalam dua laga beruntun, Cunha masuk sebagai tenaga segar dari bangku cadangan untuk menambah ketajaman serangan Man United. Di laga ini, ia menyusup dari kiri, menemukan ruang, lalu melengkungkan bola melewati David Raya. Inilah DNA Man United yang dirindukan: pemain-pemain liar yang membuat laga jadi menghibur. Wilcox jelas berhasil menghadirkan profil pemain yang seperti itu dalam skuad MU.

    Hampir di semua model statistik, Man United musim ini menciptakan xG lebih banyak daripada Arsenal di Liga Inggris, dan hanya Manchester City yang mencatat angka lebih tinggi. Bahkan Amorim, meski kerap dicibir, masih layak mendapat sedikit kredit setelah timnya tampak tumpul pada 2024/25. Ledakan ofensif Man United memang tinggal menunggu waktu, dan berkat sentuhan Carrick serta pembangunan skuad ala Wilcox, hasilnya kini mulai dipanen.

  • Arsenal FC v Atletico de Madrid - UEFA Champions League 2025/26 League Phase MD3Getty Images Sport

    PECUNDANG: Fanatik bola mati

    Gol-gol Dorgu dan Cunha terasa seperti penawar sempurna bagi wajah Liga Inggris yang kian tercemar oleh obsesi berlebihan terhadap skema bola mati. Ironisnya, dua gol indah itu justru lahir melawan tim yang bisa dibilang menjadi Oppenheimer-nya kemunduran estetika sepakbola modern.

    Seiring berjalannya laga, rencana permainan Arsenal makin mudah ditebak dan membosankan. Alirkan bola ke sisi sayap, kirim umpan silang setengah hati, lalu berharap ada sentuhan kecil yang menghasilkan sepak pojok. Ulangi terus pola itu sampai berhasil, yang akhirnya terjadi pada menit ke-84 ketika Mikel Merino menyambar bola di tengah kemelut, setelah Arsenal untuk kesekian kalinya menumpuk semua pemain di sekitar kiper Man United, Senne Lammens, dengan harapan ia salah mengantisipasi satu dari sekian banyak kiriman bola.

    Sepakbola perlahan menyerupai sepupu jauhnya di Amerika Serikat sana. Terlalu banyak jeda untuk menyiapkan serangan, skema-skema hafalan yang mengalahkan spontanitas dan kecerdikan individu, serta bola yang tak benar-benar mengalir selama sebagian besar pertandingan. Dalam konteks itu, kemenangan ini bukan hanya milik Manchester United, tetapi juga milik para puritan sepakbola yang masih merindukan permainan indah.

  • Arsenal v Manchester United - Premier LeagueGetty Images Sport

    PEMENANG: Casemiro

    Pekan yang luar biasa bagi Casemiro. Setelah tampil dominan dan mengacak-acak lini tengah Manchester City di derbi, ia kemudian mengaduk emosi pendukung Man United dengan mengumumkan kepergiannya pada akhir musim. Tur perpisahannya pun dibuka dengan satu lagi penampilan perkasa, kali ini menghadapi dua gelandang yang katanya terbaik di Liga Inggris dan sedang berada di usia emas: Martin Zubimendi dan Declan Rice.

    Jelas, sentuhan sepakbolanya belum memudar. Bersama Kobbie Mainoo, Casemiro bermain seirama sepanjang laga, rapi dalam menyapu ancaman dan tetap tenang bahkan ketika duet gelandang Arsenal datang menekan dengan agresif. Sebaliknya, performa Zubimendi dan Rice tampak terburu-buru dan gelisah, sementara Casemiro terlihat sepenuhnya memegang kendali permainan.

    Dengan Man United berpeluang kembali ke kompetisi Eropa musim depan, mempertahankan Casemiro dengan gaji besar memang akan selalu menjadi keputusan sulit, terlebih mengingat klub juga membutuhkan regenerasi dan energi baru di lini tengah. Meski begitu, menggantikan pengalaman, ketenangan, dan kecerdikan Casemiro dalam laga sebesar ini jelas bukan perkara mudah.

  • Manchester City v Leeds United - Premier LeagueGetty Images Sport

    PEMENANG: Manchester City & Aston Villa

    Minggu lalu, pendukung Arsenal sempat berterima kasih kepada Man United karena berhasil menjegal Manchester City. Kini, situasinya berbalik. Untuk sehari saja, rivalitas di Manchester seolah dikesampingkan.

    Jarak Arsenal dengan Man City, juga Aston Villa, kini kembali menyusut menjadi empat poin. Pep Guardiola barangkali menyesali rentetan hasil minor timnya di awal bulan, ketika hanya meraih tiga poin dari tiga laga melawan Sunderland, Chelsea, dan Brighton. Namun setidaknya, peluang merebut kembali gelar kini terbuka lagi. Dengan bergabungnya Antoine Semenyo dan Marc Guehi, The Citizens punya fondasi untuk kembali menyalakan salah satu laju kemenangan khas mereka dan menyalip The Gunners sekali lagi.

    Ketegangan juga masih terasa antara Arsenal dan Villa, terutama dengan kehadiran mantan manajer The Gunners, Unai Emery. Villa mungkin tidak semeyakinkan Arsenal atau Man City jika dilihat dari permainan semata, tetapi pada tahap ini mereka tetap pantas dihormati sebagai pesaing serius.

    Musuh-musuh Arsenal mulai mencium darah. Dengan 15 laga Liga Inggris tersisa, peluang untuk memanfaatkannya masih terbuka lebar.

0