Next Man Utd manager GFXGetty Images

Ranking Calon Manajer Baru Manchester United: Enzo Maresca, Oliver Glasner, & Jajaran Kandidat Pengganti Ruben Amorim

Setelah laga terakhirnya—hasil imbang 1-1 melawan Leeds United—Ruben Amorim tak mampu menahan diri. Dalam konferensi pers, ia melontarkan sindiran terbuka ke arah petinggi Manchester United, menegaskan dirinya ingin disebut sebagai “manajer, bukan sekadar pelatih kepala”. The Red Devils boleh berdalih pemecatan ini murni soal hasil (meski tim masih duduk di peringkat enam Liga Inggris dengan skuad yang jauh dari istimewa) tapi kok ya mustahil kita semua berkumpul di sini repot-repot membicarakan siapa penggantinya andai saat itu ia memilih diam dan tidak menyerang atasannya sendiri di depan media.

Darren Fletcher ditunjuk memimpin tim utama sebagai solusi sementara, sebelum karteker lain disebut-sebut akan mengisi kursi panas hingga akhir musim. Sementara itu, Man United mulai berburu sosok permanen. Pertanyaannya kini sederhana saja: siapa yang bersedia menjadi pelatih kepala, bukan manajer dengan kuasa penuh? Siapa yang sudi diberi mandat maha berat menyeimbangkan kapal maha oleng bernama Manchester United ini? GOAL mencoba menyusun daftar calon pengganti Amorim, di-ranking berdasarkan probabilitasnya:

  • FASHION-FRANCE-MEN-YOHJI YAMAMOTOAFP

    16Zinedine Zidane

    Setiap kali kursi manajer Manchester United kosong, satu nama nyaris selalu muncul: Zinedine Zidane. Namanya kami tulis di sini demi menjaga tradisi spekulasi itu tetap hidup.

    Namun, realistis saja—mantan pelatih Real Madrid itu kecil kemungkinan akan berlabuh ke Old Trafford. Jika Zidane kembali melatih, tujuannya hampir pasti timnas Prancis, bukan petualangan penuh derita di Liga Inggris.

    “Saya pasti akan kembali melatih. Kapan dan di mana, saya belum tahu. Salah satu tujuan saya adalah melatih tim nasional Prancis,” ujarnya Oktober lalu, sebulan sebelum media Prancis ramai melaporkan bahwa ia memang diproyeksikan menggantikan Didier Deschamps.

  • Iklan
  • FBL-EUR-C3-ASTON VILLA-YOUNG BOYSAFP

    15Unai Emery

    Unai Emery berhasil menyembuhkan reputasinya di Liga Inggris. Sempat dicap gagal menjadi penerus Arsene Wenger di Arsenal, Emery pulang ke Spanyol, membersihkan namanya bersama Villarreal. Ia ironisnya menaklukkan Manchester United di final Liga Europa 2021, sebelum kembali ke Inggris dengan status pelatih elite.

    Di Aston Villa, ia mengambil alih tim yang terancam degradasi dan mengubahnya menjadi langganan papan atas, bahkan kandidat serius empat besar secara konssiten. Justru di situlah masalahnya bagi Man United. Villa akan mati-matian mempertahankannya, dan sulit membayangkan Setan Merah bisa menawarkan tingkat kendali dan otonomi yang sama seperti yang kini dinikmati Emery di Villa Park.

  • Burnley v Newcastle United - Premier LeagueGetty Images Sport

    14Eddie Howe

    Eddie Howe adalah filosofi sepakbola INEOS dalam wujud manusia: fokus pada mentalitas, perkembangan individu, dan progres berkelanjutan. Tambahkan suntikan dana besar, maka lahirlah Bournemouth dan Newcastle asuhannya yang begitu agresif serta dinamis.

    Musim ini, The Magpies memang belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi, tetapi mereka masih berpeluang melaju di Liga Champions dan tetap bersaing di jalur empat besar. Kecuali pihak Newcastle tiba-tiba memutuskan berpisah dan mencari arah baru, Howe hampir pasti tidak akan masuk radar serius untuk lowker di Old Trafford.

  • Spain v England: Final - UEFA EURO 2024Getty Images Sport

    13Sir Gareth Southgate

    Jika ada satu sosok yang lebih “INEOS core” dibanding Eddie Howe, maka jawabannya adalah Sir Gareth Southgate. Obsesi pada peningkatan semarjinal apa pun itu, komitmen membangun budaya klub, tapi pada akhirnya… tetap pulang tanpa trofi besar? Ya, itu paket lengkapnya.

    Hubungan Southgate dengan INEOS sudah lama disebut sangat baik. Namun mantan pelatih timnas Inggris itu juga terang-terangan menegaskan bahwa ia tidak tertarik kembali ke dunia kepelatihan tanpa alasan yang kuat.

    “Saya tidak putus asa untuk tetap berada di sepakbola,” ujarnya pada November lalu. “Saya sudah 37 tahun hidup di sepakbola. Memang, kita tak pernah bisa bilang tidak mungkin, saya baru saja melihat Martin O’Neill di usia segitu kembali ke Celtic, tapi itu bukan prioritas saya saat ini. Saya menikmati pekerjaan seputar kepemimpinan. Saya menikmati bekerja dengan anak muda. Saya benar-benar ingin membuat perbedaan di sana. Jadi saya sangat santai soal tidak berada di sepakbola saat ini.”

    Peran bersama Three Lions memang terasa sangat pas untuk Southgate. Namun kerasnya dinamika Liga Primer Inggris, terlebih di klub dengan sorotan sebesar Manchester United, adalah dunia yang sama sekali berbeda.

  • Manchester United v Leicester City - Carabao Cup Fourth RoundGetty Images Sport

    12Darren Fletcher

    Man United mengonfirmasi pada hari Senin bahwa mantan gelandang mereka, Darren Fletcher, ditunjuk sebagai pelatih interim tim utama. Pria asal Skotlandia itu kembali ke klub pada 2021 sebagai direktur teknik, sebelum musim panas lalu dipercaya menangani tim U-18.

    Ada peluang tipis—sangat tipis—bahwa pengalaman Fletcher di balik meja eksekutif sekaligus di lapangan latihan bisa membuka jalan menuju jabatan permanen. Skenarionya mirip Ole Gunnar Solskjaer pada 2018/19: rangkaian hasil positif, atmosfer membaik, dan tiba-tiba “kenapa tidak?” menjadi pertanyaan serius.

    Harapan terbaik Man United saat ini adalah Fletcher mampu membuat tim ini kembali terlihat fungsional, koheren, dan lebih dari sekadar kumpulan individu berbakat. Namun jika ia membawa mereka melaju dan bahkan mengamankan tiket Liga Champions, akankah INEOS tergoda untuk mempertahankannya?

  • Stoke City FC v Middlesbrough FC - Sky Bet ChampionshipGetty Images Sport

    11Michael Carrick

    Berbeda dengan banyak nama lain dalam daftar ini, Michael Carrick sudah pernah merasakan langsung kursi panas Man United. Ia adalah bagian penting staf kepelatihan Solskjaer hingga pemecatan sang manajer pada November 2021, lalu mengambil alih sebagai pelatih sementara sebelum Ralf Rangnick datang.

    Catatan Carrick di pinggir lapangan patut dihargai: dua kemenangan dan satu hasil imbang dari tiga laga, dan bukan pertandingan-pertandingan mudah. Hasil imbang 1-1 di kandang Chelsea yang kala itu sedang memburu gelar, disusul kemenangan dramatis di markas Villarreal di Liga Champions. Laga terakhirnya bahkan ditutup dengan kemenangan 3-2 atas Arsenal di Old Trafford.

    Memilih jalur sebagai pelatih kepala ketimbang asisten, Carrick meninggalkan Setan Merah dan ditunjuk sebagai manajer Middlesbrough pada 2022. Ia membawa Boro ke play-off Championship di musim pertamanya dan tetap bersaing dalam perebutan promosi sebelum akhirnya dipecat musim panas lalu.

    Meminjam kalimat klasik para pandit paruh baya: Carrick kenal klub ini. Tapi, apakah itu cukup untuk meyakinkan INEOS?

  • Besiktas v Gaziantep - Turkish Super LeagueGetty Images Sport

    10Ole Gunnar Solskjaer

    Jika Man United menginginkan solusi jangka pendek demi mengembalikan stabilitas, maka menelepon dan membujuk Ole Gunnar Solskjaer untuk kembali sebenarnya bukan ide terburuk.

    Ia pernah melakukannya, mencintai klub ini sepenuh hati, dan kali ini kemungkinan besar tak akan datang dengan ilusi soal durasi jabatannya. Bahkan, namanya sempat kembali beredar di fase pasca-Ten Hag dan sebelum Amorim masuk. Namun secara citra, kembalinya Solskjaer akan sulit ditelan petinggi klub—dan itu belum menyentuh bayang-bayang perbandingan dengan Frank Lampard yang kembali ke Chelsea pada 2023 yang hanya menang sekali dari 11 laga.

  • Coventry City v Ipswich Town - Sky Bet ChampionshipGetty Images Sport

    9Kieran McKenna

    Dari jajaran staf Solskjaer dulu, kandidat terbaik adalah Kieran McKenna, tak perlu diragukan. Apa yang ia lakukan bersama Ipswich Town sudah seperti keajaiban. Saat mengambil alih jabatan manajer pada 2021, Ipswich masih terpuruk di League One. Dua promosi beruntun sejak musim penuh pertamanya membawa The Tractor Boys kembali ke Liga Primer Inggris hanya dalam dua tahun.

    Memang, mereka langsung terdegradasi di akhir musim 2024/25 tanpa banyak perlawanan. Namun sulit menyalahkan McKenna karena gagal menyelamatkan skuad yang masih sarat pemain dari era kasta ketiga. Musim ini pun Ipswich tampak siap kembali promosi.

    Masalahnya, lagi-lagi, soal persepsi publik. Apakah Man United benar-benar bisa melepaskan diri dari narasi menunjuk manajer Championship untuk menyelesaikan krisis sebesar ini?

  • Olympique de Marseille v Newcastle United FC - UEFA Champions League 2025/26 League Phase MD5Getty Images Sport

    8Roberto De Zerbi

    Setelah perpisahan mendadaknya dengan Brighton pada 2024, Roberto De Zerbi termasuk dalam daftar kandidat yang diajak bicara oleh hierarki baru Man United saat mereka menimbang masa depan Erik ten Hag. Kelebihannya adalah gaya main progresif dan reputasi sebagai salah satu juru taktik serta pemikir terbaik di sepakbola modern. Kekurangannya pun sama jelasnya, karakternya sumbu pendek dan temperamental.

    Akhirnya, Man United memilih mempertahankan Ten Hag beberapa bulan lagi, sementara De Zerbi—yang bahkan mengklaim sempat menerima tawaran kontrak dari Man United—berlabuh ke Prancis bersama Marseille. Meski pulang ke Liga Inggris tentu menggoda, sulit membayangkan para petinggi di Old Trafford ingin sosok seberapi itu untuk memimpin proyek mereka saat ini, meski kekaguman terhadap De Zerbi tak pernah benar-benar pudar.

  • United States v Mexico - Gold Cup 2025: FinalGetty Images Sport

    7Mauricio Pochettino

    Hampir setiap kesempatan yang ada, Mauricio Pochettino selalu menyuarakan keinginannya untuk suatu hari kembali ke Tottenham. Pelatih timnas Amerika Serikat itu juga tak menutup ambisi kembali melatih di Liga Inggris, terutama jika peluangnya datang dari Spurs.

    Namun, sejarah Pochettino dengan Man United adalah cerita yang tak pernah benar-benar berakhir. Saat Jose Mourinho dipecat pada 2018, Pochettino langsung difavoritkan sebagai pengganti. Tottenham sampai-sampai meminta jurnalis tak mengajukan pertanyaan soal itu. Jabatan tersebut akhirnya jatuh ke Solskjaer. Beberapa tahun kemudian, ketika Solskjaer pergi, Pochettino kembali diadu, kali ini melawan Erik ten Hag dari Ajax. Dan sekali lagi, ia kalah.

    Pochettino baru akan tersedia setelah AS selesai menggelar Piala Dunia di tanah air sendiri pada pertengahan tahun nanti. Namun dengan obsesinya untuk kembali melatih di Inggris, ia hampir pasti kembali masuk radar Man United setelah masa interim Darren Fletcher berakhir.

  • Albania v England - FIFA World Cup 2026 QualifierGetty Images Sport

    6Thomas Tuchel

    Manajer kedua dari tiga nama yang baru bisa dipertimbangkan setelah Piala Dunia berakhir adalah Thomas Tuchel. Ia bukan sosok asing dalam dinamika Man United—namanya pernah masuk tahap pembicaraan serius sebelumnya. Namun, seperti kasus De Zerbi, klub memilih menghentikan proses itu demi tetap memberi kepercayaan pada Ten Hag.

    Di antara semua pelatih dalam daftar ini, Tuchel adalah yang paling mapan dan paling “jadi”. Sulit mencari manajer aktif yang CV-nya lebih kuat. Pertanyaannya bukan soal kualitas, melainkan soal gengsi. Apakah Man United benar-benar siap kembali ke Tuchel dengan kepala tertunduk, mengakui bahwa mereka keliru melewatkannya dua tahun lalu? Apakah masuk akal meminta Tuchel datang untuk membereskan kekacauan yang tertunda 24 bulan? Jika targetnya adalah kesuksesan nyata, mungkin itu percobaan yang layak dilakukan.

  • FC Barcelona v Villarreal CF - LaLiga EA SportsGetty Images Sport

    5Xavi

    Periode Xavi sebagai pelatih Barcelona sejatinya cukup sukses. Ia mengambil alih tampuk kepelatihan pada 2021 saat Barca terpuruk di posisi sembilan La Liga, masih limbung pasca-kepergian Lionel Messi. Xavi membawa mereka finis kedua di musim pertamanya, lalu menjuarai liga setahun kemudian—semua itu sambil terus mempercayai dan mempromosikan pemain muda.

    Prestasi tersebut ia raih di tengah krisis finansial klub dan tekanan media Spanyol yang tak kenal ampun. Tekanan itu jelas menguras Xavi; ketika ia meninggalkan Barca pada 2024, auranya tampak benar-benar lelah. Dibandingkan itu, kerasnya pers Inggris terbilang lebih jinak, dan Xavi sendiri pernah menyiratkan keinginan menguji diri di EPL. Man United bisa menjadi panggung tersebut, apalagi laporan beberapa bulan terakhir menyebut pelatih berusia 45 tahun itu akan menyambut peluang itu dengan antusias.

  • Germany Press ConferenceGetty Images Sport

    4Julian Nagelsmann

    Secara profil, Julian Nagelsmann adalah tipe pelatih yang seharusnya dikejar Man United di era INEOS. Ia fleksibel secara taktik, modern dalam pendekatan, dan sudah terbukti di berbagai konteks—baik bersama raksasa seperti Bayern Munich dan tim nasional Jerman, maupun klub yang mencoba menembus jajaran elite seperti RB Leipzig dan Hoffenheim.

    Masih berusia 38 tahun dan berada di puncak kariernya, Nagelsmann terasa seperti sosok yang ditakdirkan suatu hari melatih di Liga Inggris. Seperti Pochettino dan Tuchel, momen itu mungkin baru datang setelah Piala Dunia. Namun jika ia bersedia memberi jaminan kepada Man United bahwa ia akan datang begitu tugasnya bersama Die Mannschaft selesai, ia adalah nama yang pantas ditunggu.

  • Chelsea v Bournemouth - Premier LeagueGetty Images Sport

    3Enzo Maresca

    Bayangkan time traveling ke masa lalu, ke hari Natal 2025, dan mengatakan bahwa Enzo Maresca bakal segera menganggur dan akan masuk bursa pengganti Ruben Amorim yang dipecat Manchester United. Niscaya Anda dicap gila—dan bukan cuma karena mengaku-ngaku punya kekuatan super seperti Sore.

    Melihat begitu banyak alumni Manchester City yang kini memegang kendali di Man United, mulai dari CEO Omar Berrada hingga direktur sepak bola Jason Wilcox, logis jika Maresca, mantan pelatih U-23 Man City, sudah lama ada di radar. Namun dengan adanya rumor yang sempat mengaitkannya sebagai penerus Pep Guardiola di Etihad ditambah pemecatannya dari Chelsea yang waktunya nyaris paralel dengan kejatuhan Amorim, mengambil jabatan pelatih Man United bak keluar mulut singa masuk mulut buaya bagi Maresca.

    Relasi personal dengan para petinggi Old Trafford bisa saja membuat pil itu lebih mudah ditelan. Tapi tetap saja, akan sulit menjual proyek di mana Maresca kembali bukan aktor utama, dengan peran yang terbatas dan kekuasaan yang kerdil—kecuali Man United benar-benar bisa meyakinkannya bahwa kali ini ceritanya berbeda.

  • Bournemouth v Nottingham Forest - Premier LeagueGetty Images Sport

    2Andoni Iraola

    Jika Man United menginginkan pelatih modern yang sudah teruji dan nyaman berfungsi sebagai bagian dari sistem, nama Andoni Iraola semestinya masuk pertimbangan serius. Bournemouth, meski hampir tiap musim kehilangan pemain terbaiknya, tetap menjadi salah satu tim paling menghibur di Liga Inggris. Gaya main mereka konsisten dan jelas, tak peduli siapa yang bermain di lapangan. Hasil imbang 4-4 yang mendebarkan di Old Trafford bulan lalu adalah etalase terbaiknya.

    Kegagalan Amorim lahir dari ketidakcocokannya dengan tekanan mingguan Liga Inggris dan keinginannya untuk punya suara lebih besar dalam urusan klub. Iraola berbeda. Dengan pengalaman dua setengah musim yang positif di Inggris dan pemahaman realistis atas posisinya sebagai pelatih kepala klub papan tengah seperti The Cherries, mendekatinya mungkin terasa sama-sama radikal. Bedanya, kali ini ada metode yang jelas di balik kegilaan itu.

  • Crystal Palace v Tottenham Hotspur - Premier LeagueGetty Images Sport

    1Oliver Glasner

    Keberhasilan Crystal Palace sepanjang 2025 dengan menggunakan sistem 3-4-3 serupa milik Amorim membuat nama Oliver Glasner santer dikaitkan dengan Man United. Melihat kontraknya di Selhurst Park akan habis musim panas ini dan kecil kemungkinan diperpanjang, jangan heran jika rumor ini kembali menguat.

    Man United sendiri sudah setengah jalan membangun kerangka 3-4-3 dengan pion-pion yang sesuai skema tersebut. Maka, jadi masuk akal jika dewan berbelok ke Glasner untuk melanjutkan fondasi yang ditinggalkan Amorim. Tawarkan kepadanya hal-hal yang tak bisa dijanjikan Steve Parish di Palace, dan dia mungkin bersedia naik level ke tingkat klub besar.

    Lagipula, Glasner mungkin memang sudah berada di level elite, dengan koleksi gelar Liga Europa dan Piala FA-nya. Cepat atau lambat, klub besar akan memberinya kesempatan. Merujuk laporan Telegraph yang menyebutnya sebagai target utama para petinggi Old Trafford, destinasi itu bisa saja Manchester United.

0