Kemenangan meyakinkan Manchester United atas Manchester City dalam derbi Sabtu lalu seolah menjadi angin segar bagi para pendukung Setan Merah. Michael Carrick, pelatih sementara, menyebutnya sebagai "awal impian". Namun, di balik euforia tersebut, terselip keraguan yang masuk akal: apakah ini hanya sekadar fajar palsu lainnya, sebuah siklus harapan yang berujung pada kekecewaan yang sudah terlalu akrab bagi publik Old Trafford dalam beberapa tahun terakhir?
Dominasi United atas City memang tak terbantahkan. Mereka tidak hanya menang 2-0, tetapi juga menciptakan peluang dengan kualitas yang jarang terlihat sejak era Sir Alex Ferguson. Namun, sejarah mencatat bahwa hasil positif melawan tim-tim besar sering kali menjadi anomali, bukan tren. Konsistensi, terutama melawan tim yang bermain bertahan atau tim papan bawah, masih menjadi pekerjaan rumah terbesar United.
Di sinilah peran Arsenal menjadi krusial. Pasukan Mikel Arteta bukan sekadar pemimpin klasemen biasa; mereka memiliki identitas pertahanan yang sangat disiplin dan sulit ditembus. Jika United bisa tampil digdaya saat diberi ruang untuk serangan balik oleh City, bisakah mereka membongkar pertahanan gerendel Arsenal yang rata-rata kebobolan kurang dari satu gol per laga?
Pertandingan hari Minggu nanti bukan hanya tentang tiga poin. Ini adalah ujian validitas bagi era baru di bawah Carrick. Jika United mampu menaklukkan Arsenal dengan cara yang berbeda dari saat mereka mengalahkan City, barulah kita bisa mulai percaya bahwa kebangkitan ini nyata. Namun jika gagal, label "False Dawn FC" mungkin akan kembali menghantui mereka.






