Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Halaman ini berisi tautan afiliasi. Ketika Anda melakukan pembelian melalui tautan yang disediakan, kami dapat memperoleh komisi.
Tokyo Verdy v Gamba Osaka - J.LEAGUE MEIJI YASUDA J1 100 YEAR VISION LEAGUE Playoff Round 2nd LegJ.LEAGUE

Diterjemahkan oleh

Kutukan baru: Facundo Vecino, "mimpi buruk" yang menghantui Al Nassr dalam 112 hari

Dalam sepak bola, satu pertemuan bisa saja terjadi dalam kondisi luar biasa, tetapi keberhasilan yang berulang atas tim yang sama dalam rentang waktu yang singkat, dan dengan dua kostum berbeda, sering kali mengungkap sebuah pembacaan taktis istimewa yang melampaui batas kebetulan. 

Hanya dalam kurun 112 hari, pelatih asal Denmark Jens Fissing berubah dari seorang pelatih yang menjalani petualangannya di Jepang menjadi salah satu pelatih yang paling merepotkan Al Nassr, setelah ia berhasil menjatuhkan "sang klub dunia" sebanyak dua kali dan dalam dua turnamen berbeda, hingga menciptakan momok baru di jalan tim Arab Saudi tersebut.

  • Al Nassr v Gamba Osaka: AFC Champions League 2Getty Images Sport

    Hakim wanita Asia berseragam Gamba Osaka

    Kisah ini bermula pada 16 Mei 2026, ketika Vissing memimpin tim Jepang Gamba Osaka menghadapi Al Nassr di final Liga Champions Asia yang digelar di Stadion "Al Awwal Park" di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.

     Meski tim Arab Saudi memiliki sederet nama besar, pelatih asal Jerman itu berhasil menyiapkan timnya secara ideal untuk laga tersebut, melalui organisasi pertahanan yang solid yang menutup ruang bagi para pemain Al Alami, sembari mengandalkan transisi cepat setiap kali ada peluang untuk memanfaatkan ruang.

    Baca juga: Saya tidak mendengarnya, tanggapan pedas Vissing atas pernyataan Postecoglou

    Rencana itu akhirnya berhasil, dan Gamba Osaka mampu memastikan kemenangan di final dengan satu gol tanpa balasan, sehingga menggagalkan Al Nassr meraih gelar kontinental. Kemenangan itu bukan sekadar hasil sesaat di sebuah final Asia, melainkan babak pertama dari hubungan istimewa yang mulai terjalin antara pelatih asal Denmark itu dan klub ibu kota tersebut.

  • Iklan
  • Al Ittihad v Al Hazem: Saudi Pro LeagueGetty Images Sport

    Pukulan kedua: Vissing mengukuhkan mimpi buruk

    Hanya berselang 112 hari, Vissing kembali menghadapi Al Nassr, tetapi kali ini dari kursi pelatih Al Ittihad di Stadion Al Inma di Jeddah.

    Meski keadaannya berbeda, seragam dan kompetisinya berubah, hasil akhirnya tak banyak berubah; pelatih muda itu membawa "Sang Kolonel" menang atas "Al Alami" dengan skor 2-1 dalam klasiko pekan kelima Liga Roshn, setelah timnya tampil luar biasa di babak pertama dan berhasil mencetak dua gol dalam 22 menit pertama.

    Anda dapat membahas berbagai topik dan berita secara lebih mendalam di forum "Kooora"

    Yang menarik, kemenangan kedua Vissing bukanlah salinan yang sama persis dengan pertemuan pertama, tetapi mengusung prinsip yang sama, mulai dari membaca titik-titik kekuatan Al Nassr, menghalangi mereka dari ruang yang dibutuhkan, kemudian menghantam mereka di area yang mereka tinggalkan di belakang. 

    Karena itu, dua pertemuan Vissing melawan Al Nassr dalam 112 hari menjadi lebih dari sekadar dua kemenangan; pelatih asal Denmark itu membuktikan bahwa ia memiliki kunci khusus untuk menghadapi "Al Alami", baik saat ia melatih Gamba Osaka maupun saat ia tampil sebagai kepala staf teknis Al Ittihad, sehingga pengalaman singkatnya menghadapi Al Nassr berubah menjadi salah satu kendala taktik paling menonjol bagi klub Arab Saudi itu.

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google