Sepakbola seringkali menyajikan kisah-kisah romantis tentang kepulangan, namun sedikit yang se-emosional perjalanan Eberechi Eze. Hampir dua dekade setelah ia pertama kali mengenakan seragam merah putih Arsenal sebagai seorang bocah penuh mimpi, Eze kini kembali ke Emirates Stadium. Ia datang bukan lagi sebagai anak yang terbuang, melainkan superstar yang diharapkan membawa pulang gelar juara.
Perjalanan ini bukanlah dongeng instan yang mulus tanpa hambatan. Di balik senyumnya yang khas dan skill olah bolanya yang memukau, tersimpan riwayat panjang tentang penolakan yang menyakitkan dan air mata. Eze muda harus menghadapi kenyataan pahit dilepas oleh berbagai klub dan nyaris menyerah pada mimpinya untuk bekerja paruh waktu di supermarket.
Namun, mentalitas baja yang ditempa di lapangan "kurungan" (cage) London Selatan membuatnya bertahan dan bangkit. Dari QPR hingga menjadi ikon Crystal Palace, dan kini membajak kesepakatan ke Tottenham di detik akhir untuk "pulang" ke Arsenal, Eze membuktikan satu hal: mimpi tidak akan mati selama kita tidak kehilangan keyakinan.
Kepindahannya ini terasa seperti penutup yang sempurna untuk sebuah babak perjuangan yang panjang. Eze kini berdiri sejajar dengan idola masa kecilnya, siap membuktikan bahwa keputusan Arsenal memulangkannya adalah takdir yang tertunda, bukan kesalahan yang diulang.







