Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
realChatGPT
Diterjemahkan oleh

Kegagalan Real Madrid di Andalusia: Tersandung Sesaat atau Awal Kejatuhan?

Kekalahan Real Madrid dari Real Betis bukan sekadar kehilangan tiga angka dalam perburuan gelar Liga, melainkan ujian sesungguhnya pertama bagi karakter proyek Jose Mourinho pada masa jabatan keduanya.

Setelah awal yang sempurna, ketika tim meraih poin penuh dalam tiga laga perdananya, kejatuhan datang di Andalusia dengan skor 1-0, dalam pertandingan yang sebenarnya diwarnai dominasi dan sejumlah peluang untuk Real Madrid dalam waktu yang lama, tetapi mereka kehilangan sentuhan akhir, hingga Kylian Mbappe gagal mengeksekusi penalti pada masa tambahan waktu, sementara Troy Parrott mencetak satu-satunya gol Betis pada menit ke-81.

Persoalannya, dengan demikian, bukan pada kekalahan dalam satu pertandingan, melainkan lebih pada bagaimana Real Madrid menyikapi kejatuhan pertama mereka.

Mourinho sendiri menilai bahwa timnya menampilkan permainan yang bagus, tetapi sepak bola tidak memberikan poin atas dasar penguasaan bola dan peluang, dan itulah yang membuat laga-laga mendatang menjadi lebih penting ketimbang hasil melawan Betis itu sendiri.

  • Waktu yang buruk

    Mourinho tidak akan mendapatkan waktu yang lama untuk bernapas, sebab hanya beberapa hari kemudian, Real Madrid akan menjamu Inter Milan di laga pembuka perjalanannya di Liga Champions Eropa, pada Selasa 8 September, sebelum menghadapi Rayo Vallecano di liga pada 12 September, kemudian bertandang ke markas Elche pada 15 September, sebelum pergi ke Stadion Metropolitano untuk menghadapi Atletico Madrid dalam derbi ibu kota pada 20 September.

    Dengan demikian, kekalahan dari Betis datang di waktu yang nyaris paling buruk; karena laga melawan Inter bukan sekadar pertandingan Eropa biasa, melainkan sebuah ujian menghadapi salah satu raksasa benua, dan pada momen yang menyimpan kekhususan luar biasa bagi Mourinho secara pribadi, setelah ia membawa tim Italia itu meraih Liga Champions pada tahun 2010. 

    Selain itu, jadwal fase berikutnya menempatkan Real Madrid di hadapan 4 pertandingan dalam 12 hari, di antaranya sebuah laga Liga Champions dan derbi Madrid.

    Anda dapat membahas berbagai topik dan berita secara lebih mendalam di forum "Kooora"

  • Krisis lini tengah

    Yang lebih sulit lagi, Mourinho memasuki laga melawan Inter dalam kondisi mengalami krisis nyata di lini tengah.

     Arda Guler, Eduardo Camavinga, dan Bernardo Silva sama-sama absen akibat sanksi larangan bermain yang tertunda dari musim lalu, sementara Aurelien Tchouameni masih mengalami cedera dan belum memulai musimnya.

    Menurut Mourinho sendiri, Fede Valverde kini nyaris menjadi satu-satunya gelandang utama yang siap dari skuad tim pertama, sehingga bisa mendorongnya untuk mengubah cara bermain atau menggunakan pemain di posisi yang tak biasa.

    Jude Bellingham menjadi solusi terdepan yang dipertimbangkan, meski Mourinho lebih memilih mengandalkannya di belakang penyerang dan di sekitar kotak penalti, mengingat kemampuan mencetak golnya.

    Pemain Inggris itu bisa menjadi pilihan logis untuk kembali ke lini tengah, dengan kemungkinan memainkan Brahim Diaz di posisi playmaker sekaligus mempertahankan formasi 4-2-3-1.

    Trent Alexander-Arnold juga muncul di antara opsi yang ada, setelah sebelumnya Mourinho pernah menggunakannya dalam peran yang memberinya kebebasan bergerak ke area dalam. Sang pelatih pun bisa saja beralih ke 4-3-3, dengan menempatkan Trent, Valverde, dan Bellingham di lini tengah.

  • Sejarah memberi Mourinho secercah harapan

    Menilik sejarah, kekalahan pertama Mourinho pada masa jabatan pertamanya bersama Real Madrid terasa sangat menyakitkan, yakni saat menghadapi Barcelona dengan skor 5-0 di Camp Nou pada 29 November 2010.

    Saat itu, mudah saja menganggap keterpurukan yang tragis tersebut sebagai awal krisis bagi proyek yang sedang dibangun, namun apa yang terjadi setelahnya justru sebaliknya.

    Dalam lima laga berikutnya, Real Madrid meraih lima kemenangan beruntun: mengalahkan Valencia 2-0, lalu menghancurkan Auxerre 4-0 di Liga Champions, menang atas Real Zaragoza 3-1, kemudian menjatuhkan Sevilla 1-0, sebelum menutup rangkaian tersebut dengan menggilas Levante 8-0 di Copa del Rey, dalam laga yang diwarnai hat-trick dari masing-masing Karim Benzema dan Cristiano Ronaldo.

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Peringatan nyata

    Pada akhirnya, mungkin tidak adil jika kita meletakkan proyek baru Mourinho di bawah pisau eksekusi setelah satu kekalahan, sekalipun kekalahan dari Real Betis itu menyakitkan dan datang pada waktu yang tidak memberikan banyak ruang untuk ketenangan.

    Real Madrid tidak kehilangan proyeknya di Andalusia, dan pekan-pekan pertama yang sempurna tidak berubah menjadi ilusi dalam semalam, namun tim mendapatkan peringatan nyata pertama bahwa jalan tidak akan dipenuhi kemenangan seperti yang terlihat pada awalnya.

  • Titik krusial

    Dari situasi inilah kepribadian Real Madrid yang baru akan terlihat jelas, sebab proyek-proyek besar tidak diukur hanya dari jumlah kemenangan yang diraih ketika segala sesuatu berjalan sesuai rencana, melainkan dari kemampuannya untuk bangkit ketika keadaan menjadi rumit.

    Lalu, mampukah Mourinho mengubah kekalahan dari Betis menjadi pelajaran? Akankah ia berhasil menutupi absennya sejumlah pemain tanpa membuat tim kehilangan keseimbangan? Dan sanggupkah Mbappe, Vinicius, serta bintang-bintang lainnya memikul tanggung jawab memimpin perlawanan? Pertanyaan-pertanyaan yang masih menanti jawaban.

  • Awal ujian sesungguhnya

    Pada akhirnya, jika Los Blancos keluar sebagai pemenang dari rangkaian laga sulit yang akan datang, malam Andalusia bisa berubah dari awal krisis menjadi sekadar babak yang berlalu dalam musim yang panjang, dan mungkin semua orang nantinya akan memandangnya sebagai momen yang membuktikan kekuatan karakter tim.

     Namun jika kesalahan-kesalahan itu terulang, penderitaan di hadapan para pesaing terus berlanjut, dan kerapuhan proyek ini terlihat di bawah tekanan nyata pertama, maka kekalahan dari Betis akan menjadi lebih dari sekadar tergelincir; ia akan menjadi tanda pertama bahwa pembangunan baru ini belum rampung, dan bahwa nama Mourinho saja tidak cukup untuk mengembalikan kewibawaan ke Santiago Bernabeu.

    Pada akhirnya, tak seorang pun kini bisa mengetahui apakah yang terjadi di Andalusia hanyalah tergelincirnya seekor kuda atau awal dari jalan kejatuhan, tetapi satu hal telah menjadi pasti: ujian sesungguhnya bagi proyek Mourinho dimulai setelah peluit akhir laga melawan Betis, bukan sebelumnya.

  • Baca juga:

    Serangan Sengit: La Liga Sebut Premier League Merugi dan Menghancurkan Sepakbola!
    Transfer Rekor, Tamparan Menggelegar, dan Mimpi yang Tak Terwujud: Rangkuman Lengkap Bursa Transfer Musim Panas