Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Chelsea FC v AFC Bournemouth - Premier League 2026/27Getty Images Sport
Diterjemahkan oleh

Kalung yang mengungkap rahasia: Joao Pedro mengumumkan perang terhadap kutukan historis Chelsea

Nomor punggung 9 di Chelsea bukan sekadar angka yang menghiasi punggung para striker, melainkan berubah selama bertahun-tahun menjadi beban berat yang menghantui siapa pun yang berani memakainya, sebesar apa pun nilai transfernya atau setinggi apa pun ekspektasi yang disandarkan kepadanya.

Nama-nama besar datang ke Stamford Bridge dengan mimpi-mimpi besar, namun mereka justru terjebak dalam pusaran kegagalan dan kritik, hingga sejumlah pelatih tak ragu menyebut nomor tersebut sebagai nomor terkutuk.

Namun Joao Pedro tampak siap menulis akhir yang berbeda untuk kisah ini, setelah berhasil mengubah nomor punggung yang gagal diemban banyak pemain menjadi simbol ambisi ofensifnya, bersandar pada perkembangan mencolok dalam performanya serta kepercayaan diri yang terus meningkat atas kemampuan mencetak golnya.

Striker Brasil itu tidak hanya sekadar mendapatkan nomor yang sejak lama ia inginkan, tetapi juga memperlakukannya sebagai deklarasi atas identitas barunya di atas lapangan. Dan dengan terus berdatangannya gol serta semakin membaiknya pergerakannya di depan gawang, pertanyaan pun mulai bergema di antara para pendukung Chelsea: apakah Joao Pedro akan menjadi pemain yang mengakhiri legenda kutukan nomor punggung 9?

Sejak kedatangannya ke Stamford Bridge, Joao Pedro berharap bisa mengenakan nomor punggung 9, namun keadaan tidak memungkinkannya mewujudkan keinginan itu pada awalnya. Liam Delap bergabung dengan Chelsea sebelum kedatangan striker Brasil tersebut, sehingga ia mendapatkan nomor yang diidamkan Pedro.

Nomor 9 bukan satu-satunya pilihannya, karena ia juga menunjukkan ketertarikan pada nomor punggung 11, yang dalam ingatannya terkait dengan salah satu legenda terbesar klub, pemain Pantai Gading Didier Drogba, yang sangat ia kagumi. Namun nomor itu telah menjadi milik Jamie Gittens, sehingga Pedro pun harus mencari alternatif lain.

Akhirnya, pemain tersebut memilih nomor punggung 20, dan diyakini bahwa pilihannya dipengaruhi oleh penampilan istimewa serta gol-gol penting yang dipersembahkan Cole Palmer saat mengenakan nomor yang sama, sebelum Palmer kemudian beralih ke nomor punggung 10.

Pilihan tersebut sama sekali tidak buruk; Pedro mengakhiri musim pertamanya bersama Chelsea dengan mencetak 15 gol di Liga Premier Inggris dan 20 gol di seluruh kompetisi, menegaskan bahwa ia memiliki kemampuan ofensif yang besar, serta memberi dirinya posisi penting dalam perhitungan tim.

Setelah kesuksesan tersebut, wajar jika pemain mana pun akan ragu meninggalkan nomor yang terkait dengan musim-musim terbaiknya, namun Pedro tidak memandangnya seperti itu. Begitu kepergian Delap menjadi jelas, ia segera mengambil keputusan dan memilih mewujudkan mimpi lamanya mengenakan nomor punggung 9, menantang sejarah panjang kegagalan yang menghantui para pemiliknya di Chelsea.

  • FBL-EUR-C1-CHELSEA-MAN-UTDAFP

    Kutukan nomor 9: Nama-nama besar yang gagal dalam ujian

    Reputasi buruk nomor punggung 9 di Chelsea tidak datang begitu saja, melainkan terbentuk dari rangkaian pengalaman yang tidak sesuai dengan harapan, meski beberapa pemiliknya tiba di klub setelah perjalanan karier yang penuh pencapaian.

    Fernando Torres menjadi salah satu contoh paling mencolok. Striker Spanyol itu bergabung dengan Chelsea di tengah ekspektasi yang sangat besar, namun ia menghadapi kesulitan berat untuk mengembalikan performa yang ia tampilkan bersama Liverpool, dan menjadi sasaran kritik karena menurunnya ketajamannya di depan gawang.

    Skenario serupa terulang pada nama-nama lain, di antaranya Radamel Falcao, Alvaro Morata, Gonzalo Higuain, Romelu Lukaku, dan Pierre-Emerick Aubameyang. Meski kondisi setiap pengalaman berbeda, benang merah di antara mereka adalah ketidakmampuan para striker tersebut untuk menghadirkan konsistensi yang dibutuhkan dan mengubah ekspektasi besar menjadi kesuksesan ofensif yang berkelanjutan dengan kostum klub.

    Bahkan mantan pelatih asal Jerman, Thomas Tuchel, pernah menyinggung reputasi tersebut dengan menyebut nomor 9 sebagai nomor yang terkutuk, sebuah ungkapan yang mencerminkan besarnya tekanan yang melingkupi nomor itu di lingkungan internal klub, demikian dilaporkan surat kabar Inggris "Telegraph".

    Keanehan kisah ini tidak hanya terbatas pada para striker; bek Khalid Boulahrouz dan gelandang Steve Sidwell pernah mengenakan nomor tersebut pada masa Jose Mourinho melatih Chelsea, di saat Drogba justru bersinar dengan nomor punggung 11.

    Dengan kegagalan yang terus berulang, sejumlah pemain memilih menjauh dari nomor itu daripada menanggung bebannya. Nicolas Jackson, Christopher Nkunku, dan Raheem Sterling menghindari mengenakan kostum tersebut, pada saat pilihan nomor itu sendiri menjadi bahan spekulasi, bukan lagi sekadar detail dalam daftar skuat.

    Tammy Abraham, yang mencetak 15 gol di Liga Primer Inggris pada musim 2019-2020, adalah striker Chelsea terakhir yang membukukan catatan gol menonjol dengan nomor punggung 9 sebelum rangkaian pengalaman yang gagal, sementara sebelumnya ada Jimmy Floyd Hasselbaink yang meninggalkan klub pada 2004 setelah meninggalkan jejak penting di posisi ujung tombak.

    Dengan demikian, nomor itu berubah menjadi ujian psikologis sekaligus teknis; setiap striker baru dituntut membuktikan kemampuannya mencetak gol, dan pada saat yang sama menghadapi perbandingan yang terus-menerus dengan para pendahulunya. Hal inilah yang membuat upaya melepaskan diri dari reputasi tersebut menjadi tantangan yang melampaui sekadar menggetarkan jala gawang.


  • FBL-ENG-PR-CHELSEA-BOURNEMOUTHAFP

    Medali nomor 9: pesan kepercayaan yang melampaui batas lapangan

    Joao Pedro tampaknya memutuskan untuk menyikapi kisah ini dengan semangat yang benar-benar berbeda. Alih-alih memandang nomor itu sebagai beban tambahan, ia menjadikannya bagian dari citra barunya sebagai penyerang utama Chelsea.

    Perayaannya terhadap nomor tersebut tidak hanya terbatas pada saat ia mengenakannya dalam pertandingan, tetapi ia juga tampil dengan kalung yang dirancang khusus untuknya dan bertuliskan angka 9 dalam ukuran besar, setelah ia menambah koleksi golnya menjadi lima berkat dua tembakan akurat ke gawang Bournemouth.

    Kalung itu seolah menjadi pesan yang jelas tentang hubungannya dengan nomor yang sejak lama ia inginkan. Ia tidak berusaha bersembunyi dari sejarahnya atau menghindari tekanan yang menyertainya, melainkan menunjukkan kebanggaan serta keinginan untuk mengubahnya menjadi ciri khas pribadinya.

    Gambaran ini juga berkaitan dengan selebrasi yang ditampilkan Pedro setelah mencetak gol, di mana ia membentuk huruf «W» dengan satu tangan di depan wajahnya, sementara jempol tangan lainnya menunjuk ke bawah.



    Gerakan tersebut memicu spekulasi di internet mengenai kemungkinan inspirasinya berasal dari karakter Kakashi dalam serial manga Jepang «Naruto», yang menambah perhatian terhadap selebrasi penyerang Brasil itu, yang bisa saja berubah menjadi gerakan yang ditirukan para suporter kecil Chelsea pada akhir pekan jika ia terus bersinar.

    Namun yang lebih penting dari kalung dan selebrasi adalah apa yang ia tampilkan di atas lapangan. Gol-golnya musim ini datang dari dalam kotak penalti, sebuah indikasi membaiknya pergerakan ofensifnya dan kemampuannya mencapai posisi yang memungkinkannya menuntaskan serangan secara efektif.

    Di sinilah muncul paradoks dengan penilaian yang sebelumnya disampaikan Enzo Maresca, ketika ia mengatakan pada Oktober tahun lalu bahwa Pedro bukan tipe pemain yang mampu mencetak 20 gol dalam satu musim. Penyerang Brasil itu kini menampilkan performa yang membuat penilaian tersebut dipertanyakan, setelah menunjukkan perkembangan yang jelas dalam insting mencetak golnya dan cara ia memanfaatkan peluang.


  • FBL-ENG-PR-ASTON VILLA-CHELSEAAFP

    Bagaimana Pedro Berubah? Rahasia Transformasi Dimulai dari Latihan

    Perkembangan Joao Pedro bukan sekadar lonjakan sesaat atau hasil dari rangkaian kebetulan di depan gawang, melainkan juga berkaitan dengan cara berbeda dalam membaca kemampuannya, serta kerja keras untuk mengembangkan pergerakannya di dalam kotak penalti.

    Sam Jewell, salah satu anggota tim kepemimpinan olahraga di Chelsea, sebelumnya merekrut pemain tersebut untuk Brighton, sehingga ia mengenal potensinya dengan baik dan menyadari bahwa penyerang Brasil itu memiliki karakteristik yang dapat dimanfaatkan dengan lebih baik dibandingkan apa yang terjadi pada beberapa periode kariernya.

    Ketika Liam Rosenior mengambil alih kursi pelatih Chelsea menggantikan Maresca pada awal tahun, sebelum ia dipecat pada bulan April, perhatian terhadap pengembangan Pedro mulai mengambil arah yang lebih spesifik. Sang pelatih menilai bahwa pemain tersebut memiliki modal yang diperlukan untuk menjadi pencetak gol yang tajam, dan bahwa mencapai tahap itu menuntut perbaikan detail pergerakannya, bukan hanya mengandalkan kemampuan teknis dan keterampilannya dalam mengolah bola.

    Pedro menjadi pemain yang paling banyak mendapatkan sesi latihan individual dari Rosenior selama pekan-pekan awal masa tugasnya. Berbagai laporan menyebutkan bahwa penyerang Brasil itu berbicara dengan pelatihnya mengenai ambisinya untuk menjadi ujung tombak utama Chelsea dan timnas Brasil, sebuah tujuan yang menuntutnya mengubah beberapa kebiasaannya di dalam lapangan.

    Melalui diskusi dan analisis potongan video, Rosenior fokus mengarahkan pemain tersebut untuk lebih sering menempatkan diri di area pencetak gol, serta menghindari pemborosan energi di bagian-bagian lapangan yang tidak sama pentingnya bagi kehadirannya.

    Ide dasarnya jelas: seorang penyerang tidak perlu terlibat dalam setiap tahap pembangunan serangan untuk bisa berpengaruh, tetapi ia harus tahu kapan harus bergerak ke ruang yang tepat, dan bagaimana menjaga energinya untuk momen yang bisa menentukan hasil pertandingan.

    Pedro juga diminta untuk mengamati para penyerang terbaik di dunia, serta mempelajari posisi-posisi yang mereka ambil di dalam lapangan dan area-area tempat mereka menghabiskan sebagian besar waktu selama pertandingan. Dengan begitu, fokusnya tertuju pada detail-detail yang mungkin terlihat sederhana, namun justru membuat perbedaan antara penyerang yang ikut membangun permainan dan penyerang yang secara konsisten mengubah peluang menjadi gol.


  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Arsenal v Chelsea - Carabao Cup Semi Final Second LegGetty Images Sport

    11 gol dalam 12 pertandingan: hasil instan dari perubahan

    Joao Pedro tidak membutuhkan waktu lama hingga hasil dari kerja keras yang ia jalani mulai terlihat. Ia mencetak 11 gol dalam 12 pertandingan, dalam rangkaian yang dimulai sejak laga kedua ketika Rosenior mulai menangani tim, yaitu melawan Brentford pada 17 Januari.

    Kemenangan besar atas Aston Villa dengan skor 4-1, saat Pedro mencetak hat-trick, menjadi salah satu momen paling menonjol yang mencerminkan besarnya perubahan dalam performanya. Pada pertandingan itu, persoalannya bukan hanya soal jumlah gol, melainkan juga cara ia mencetaknya.

    Dua dari gol-golnya di Villa Park datang melalui sentuhan sederhana di depan gawang, dan detail semacam inilah yang membuat tim kepelatihan lebih senang dibandingkan beberapa gol spektakuler yang biasa ia persembahkan. Penyerang yang memiliki kemampuan teknis tinggi memang bisa memukau penonton dengan sebuah aksi menggiring atau tendangan indah, tetapi kemampuan menuntaskan serangan dengan sentuhan seminimal mungkin tetap menjadi salah satu sifat terpenting para pencetak gol besar.

    Sementara gol ketiga lahir dari penempatan posisi yang cerdas, ketika Pedro memanfaatkan umpan Alejandro Garnacho untuk menempatkan bola ke gawang yang sudah kosong. Itu menjadi contoh jelas dari peningkatan kemampuannya membaca serangan, serta kemampuannya memilih posisi yang tepat sebelum bola sampai kepadanya.

    Detail-detail inilah yang ingin ditanamkan oleh tim kepelatihan; sebab tujuannya kini bukan lagi sekadar memperbaiki statistik pemain, melainkan mengubahnya menjadi penyerang yang lebih efektif di dalam kotak penalti, mampu memanfaatkan peluang yang mungkin tidak menuntut keterampilan luar biasa, melainkan lebih membutuhkan kecepatan mengambil keputusan dan ketepatan penempatan posisi.


  • Chelsea v Luton Town - Carabao Cup Second RoundGetty Images Sport

    Alonso memercayainya: Mengawal Haaland jadi ujian baru

    Dengan ditanganinya Chelsea oleh Xabi Alonso, tantangan yang dihadapi Joao Pedro menjadi berbeda. Setelah membuktikan kemampuannya mencetak gol dan menunjukkan indikasi kuat akan perkembangannya, kini ia dituntut untuk mempertahankan level yang sama dalam jangka waktu panjang, bukan sekadar periode gemilang yang diselingi masa paceklik gol.

    Alonso telah menaruh kepercayaannya pada striker asal Brasil itu, namun keberlanjutan kepercayaan tersebut bergantung pada sejauh mana ia mampu menampilkan performa serupa dalam berbagai situasi, baik menghadapi tim-tim besar maupun lawan yang mengandalkan kerapatan lini pertahanan dan menutup ruang.

    Pedro kini menempati posisi kedua dalam daftar pencetak gol terbanyak Liga Primer Inggris, persis di bawah Erling Haaland, yang membuka peluang nyata bagi dirinya untuk bersaing dengan striker Manchester City itu dalam perebutan puncak daftar pencetak gol. Namun hal itu juga mengharuskannya menjaga fokus dan konsistensi.

    Masalah yang menyertai Pedro pada fase-fase sebelumnya dalam karirnya bukanlah ketiadaan bakat, melainkan gol-golnya yang kadang datang secara beruntun lalu disusul penurunan panjang dalam rata-rata produktivitasnya. Dengan perkembangan terbarunya, kepercayaan pun meningkat bahwa ia sudah lebih siap menghadapi tuntutan posisi ujung tombak, dari segi penempatan posisi, pergerakan, hingga penyelesaian akhir.

    Meski demikian, penilaian akhir atas keberhasilannya mematahkan kutukan nomor 9 membutuhkan lebih dari sekadar awal yang kuat atau serangkaian pertandingan luar biasa. Konsistensi adalah ujian sesungguhnya bagi setiap striker yang ingin mengukuhkan posisinya di antara para pencetak gol terbanyak Liga Primer Inggris.


  • FBL-ENG-PR-CHELSEA-BOURNEMOUTHAFP

    Apakah kutukan Chelsea benar-benar sudah berakhir?

    Joao Pedro kini memiliki apa yang tidak dimiliki banyak pendahulunya dengan kostum nomor 9: kepercayaan diri, perkembangan nyata dalam pergerakan ofensif, dan dukungan teknis yang membantunya memaksimalkan titik-titik kekuatannya, di samping keinginan pribadi untuk membuktikan bahwa ia mampu menjadi ujung tombak yang dibutuhkan Chelsea.

    Dan jika ia berhasil mencetak gol pertamanya melawan Everton, pada penampilan kedelapannya menghadapi klub asal wilayah Merseyside itu, para pendukung Chelsea mungkin akan menghadapi pertanyaan yang sama sekali berbeda: apa yang masih tersisa dari kutukan nomor 9?

    Namun melampaui reputasi tersebut tidak akan tercapai hanya dengan mengenakan kostum itu atau merayakan gol, melainkan dengan kemampuan untuk terus mencetak gol ketika peluang berkurang, serta kemampuan menghadapi tekanan yang telah menyertai nomor ini selama bertahun-tahun.

    Pedro sejatinya telah mulai mengubah citra tersebut, dan menunjukkan bahwa kerja taktis, kepercayaan diri, serta kesadaran akan pergerakan bisa jadi lebih penting daripada mitos-mitos yang mengelilingi nomor-nomor tertentu. Jika ia terus berkembang dengan tempo yang sama, ia bisa menjadi pemain yang memulihkan kehormatan kostum nomor 9 di Chelsea, dan mengubah kisah itu dari kutukan bersejarah menjadi cerita sukses yang baru.