Selama 20 bulan terakhir, Manchester United seolah terjebak dalam krisis identitas yang memicu banyak pertanyaan eksistensial. Baik di bawah asuhan Erik ten Hag maupun Ruben Amorim, para penggemar dan pengamat terus bergelut dengan keraguan mengenai arah klub. Tradisi kejayaan masa lalu kian memudar, sementara bentuk permainan baru yang coba diterapkan tak kunjung memberikan hasil yang konsisten di era sepakbola modern.
Namun, kehadiran Michael Carrick sebagai pelatih interim membawa angin segar yang tak bisa diabaikan begitu saja. Meski satu atau dua kemenangan belum cukup untuk menasbihkan bahwa "United telah kembali", cara mereka menaklukkan dua raksasa, Manchester City dan Arsenal, menyiratkan ada sesuatu yang pulih. Elemen mentalitas yang lama dikhawatirkan hilang dari Old Trafford kini perlahan mulai terlihat kembali di lapangan.
Istilah "DNA United" sering kali menjadi perdebatan klise, namun Carrick dan staf pelatihnya berhasil menerjemahkan konsep abstrak tersebut menjadi strategi yang nyata. Jawabannya sederhana: Manchester United adalah tim yang mampu melukai klub-klub terbesar di Inggris pada momen-momen krusial. Identitas ini mulai terbentuk kembali bukan lewat kata-kata, melainkan lewat aksi nyata di lapangan hijau saat menghadapi tekanan tinggi.
Laga melawan Arsenal di Emirates Stadium menjadi pembuktian teranyar. Meski sempat tertinggal dan berada di bawah tekanan tuan rumah yang sangat solid, United tidak hancur. Mereka menunjukkan ketenangan dan kemampuan untuk membalikkan keadaan, sebuah karakteristik yang menjadi fondasi dari apa yang sedang dibangun oleh Carrick saat ini. Ini bukan sekadar tentang taktik, tapi tentang keyakinan yang mulai tumbuh kembali di dalam skuad.





