Dunia sepakbola dikejutkan dengan kabar sensasional mengenai tawaran akuisisi Juventus oleh perusahaan stablecoin terkemuka, Tether. Pada Jumat malam lalu, Tether mengajukan proposal senilai €1,1 miliar (£960 juta; $1,3 miliar) untuk membeli 65,4 persen saham pengendali klub yang dimiliki oleh Exor, perusahaan induk keluarga Agnelli. Langkah ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan upaya menembus batas tradisi sepakbola Italia yang telah mengakar selama lebih dari satu abad.
Juventus dan keluarga Agnelli adalah dua entitas yang tak terpisahkan dalam sejarah sepakbola dunia. Sejak 1923, keluarga ini telah menjadi penyokong utama klub, menciptakan identitas unik yang jarang ditemukan di klub lain. Tradisi pramusim di Villar Perosa, di mana pemilik klub berpidato di hadapan pemain, adalah simbol kuat dari ikatan emosional dan historis tersebut. Bagi banyak pihak, membayangkan Juventus tanpa Agnelli adalah hal yang mustahil.
Namun, Tether datang dengan ambisi besar dan modal finansial yang tak terbatas. Dipimpin oleh Paolo Ardoino, seorang penggemar Juventus sejati, dan Giancarlo Devasini yang berasal dari Turin, Tether berjanji akan menginvestasikan €1 miliar tambahan untuk pengembangan klub jika akuisisi berhasil. Mereka bahkan mengusung slogan "Make Juventus Great Again" sebagai bentuk keseriusan untuk mengembalikan kejayaan Si Nyonya Tua.
Meski menghadapi tantangan finansial dan performa di lapangan dalam beberapa tahun terakhir, dewan direksi Juventus dengan tegas menolak tawaran tersebut. Penolakan ini bukan hanya soal uang, tetapi juga tentang mempertahankan warisan, nilai-nilai, dan identitas klub yang telah dibangun oleh empat generasi keluarga Agnelli. GOAL coba mengupas dinamika di balik penolakan tersebut dan apa artinya bagi masa depan Juventus.







