cm grafica john elkann juventus 2025 16.9Getty Images

Juventus Tolak €1,1 Miliar! Mengapa Keluarga Agnelli Menutup Pintu Untuk Raksasa Kripto Tether?

Dunia sepakbola dikejutkan dengan kabar sensasional mengenai tawaran akuisisi Juventus oleh perusahaan stablecoin terkemuka, Tether. Pada Jumat malam lalu, Tether mengajukan proposal senilai €1,1 miliar (£960 juta; $1,3 miliar) untuk membeli 65,4 persen saham pengendali klub yang dimiliki oleh Exor, perusahaan induk keluarga Agnelli. Langkah ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan upaya menembus batas tradisi sepakbola Italia yang telah mengakar selama lebih dari satu abad.

Juventus dan keluarga Agnelli adalah dua entitas yang tak terpisahkan dalam sejarah sepakbola dunia. Sejak 1923, keluarga ini telah menjadi penyokong utama klub, menciptakan identitas unik yang jarang ditemukan di klub lain. Tradisi pramusim di Villar Perosa, di mana pemilik klub berpidato di hadapan pemain, adalah simbol kuat dari ikatan emosional dan historis tersebut. Bagi banyak pihak, membayangkan Juventus tanpa Agnelli adalah hal yang mustahil.

Namun, Tether datang dengan ambisi besar dan modal finansial yang tak terbatas. Dipimpin oleh Paolo Ardoino, seorang penggemar Juventus sejati, dan Giancarlo Devasini yang berasal dari Turin, Tether berjanji akan menginvestasikan €1 miliar tambahan untuk pengembangan klub jika akuisisi berhasil. Mereka bahkan mengusung slogan "Make Juventus Great Again" sebagai bentuk keseriusan untuk mengembalikan kejayaan Si Nyonya Tua.

Meski menghadapi tantangan finansial dan performa di lapangan dalam beberapa tahun terakhir, dewan direksi Juventus dengan tegas menolak tawaran tersebut. Penolakan ini bukan hanya soal uang, tetapi juga tentang mempertahankan warisan, nilai-nilai, dan identitas klub yang telah dibangun oleh empat generasi keluarga Agnelli. GOAL coba mengupas dinamika di balik penolakan tersebut dan apa artinya bagi masa depan Juventus.

  • ITALY-AUTO-ECONOMY-TRANSPORT-STELLANTISAFP

    Ikatan Abadi Agnelli dan Juventus

    Hubungan antara keluarga Agnelli dan Juventus adalah salah satu kisah cinta terpanjang dan paling berpengaruh dalam sejarah olahraga global. Selama lebih dari 100 tahun, keluarga industriawan ini tidak hanya memposisikan diri sebagai pemilik modal, tetapi juga sebagai penjaga tradisi dan jiwa klub. Kehadiran mereka telah memberikan stabilitas yang jarang dimiliki oleh klub-klub top Eropa lainnya, menjadikan Juventus sebagai simbol kebanggaan kota Turin dan Italia.

    John Elkann, kepala keluarga saat ini, menegaskan betapa integralnya peran leluhurnya dalam kesuksesan klub. Dalam perayaan seratus tahun kepemilikan keluarga, ia menyoroti fakta bahwa dari 83 trofi yang diraih klub sepanjang sejarah, 82 di antaranya dimenangkan di bawah kepemimpinan keluarganya. Angka statistik ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bukti nyata dari dedikasi dan visi jangka panjang yang telah ditanamkan oleh dinasti Agnelli.

    Tradisi tahunan di Villar Perosa, sebuah desa di kaki Pegunungan Alpen yang menjadi tempat peristirahatan musim panas keluarga, menjadi manifestasi fisik dari ikatan ini. Sejak 1959, para pemain selalu berkunjung ke sana setiap pramusim untuk mendengarkan pidato pemilik klub dan bermain laga persahabatan melawan tim junior. Ritual ini menanamkan nilai-nilai kekeluargaan yang mendalam kepada setiap pemain baru yang bergabung dengan Bianconeri.

    Oleh karena itu, penolakan terhadap tawaran Tether dapat dilihat sebagai upaya mempertahankan identitas unik tersebut. Bagi Elkann dan keluarga Agnelli, Juventus bukan sekadar aset dalam portofolio bisnis yang bisa diperjualbelikan demi keuntungan sesaat. Klub ini adalah warisan hidup yang menyatukan sejarah keluarga dengan jutaan penggemar, sebuah institusi yang nilai sejarahnya tidak bisa diukur dengan mata uang kripto sekalipun.

  • Iklan
  • BRITAIN-US-BLOCKCHAIN-CRYPTOCURRENCY-STABLECOINS-USDT-TETHERAFP

    Ambisi Tether dan Tawaran Fantastis

    Tether, perusahaan di balik stablecoin terbesar di dunia yang berbasis di El Salvador, melihat peluang emas untuk mendobrak tradisi sepakbola Eropa. Dengan valuasi perusahaan yang diperkirakan bisa mencapai $500 miliar jika melakukan penggalangan, dana €1,1 miliar untuk pembelian saham mayoritas Juventus hanyalah sebagian kecil dari kekuatan finansial mereka. Mereka datang dengan proposal yang sulit diabaikan secara ekonomi, terutama bagi klub yang sedang mengalami kesulitan keuangan.

    Selain biaya pembelian saham, Tether juga menjanjikan komitmen investasi tambahan sebesar €1 miliar untuk pengembangan klub di masa depan. Janji manis ini ditujukan untuk memodernisasi infrastruktur, memperkuat skuad, dan membawa Juventus kembali ke puncak sepakbola dunia. Ambisi mereka tercermin dalam slogan kampanye yang mereka usung, "Make Juventus Great Again", yang menyiratkan keinginan untuk melakukan revolusi total di tubuh Si Nyonya Tua.

    Faktor emosional juga bermain peran dalam tawaran ini, mengingat latar belakang para petinggi Tether. Salah satu pendirinya, Giancarlo Devasini, adalah mantan ahli bedah plastik yang berasal dari Turin (estimasi kekayaan $8,25 miliar), sementara CEO Paolo Ardoino mengklaim dirinya sebagai penggemar Juventus seumur hidup. Mereka mencoba memposisikan diri bukan sebagai investor asing yang dingin, melainkan suporter sukses yang ingin menyelamatkan klub kesayangan mereka.

    Namun, pendekatan agresif Tether, termasuk pembelian saham minoritas sebesar 11,5 persen sebelumnya dan upaya menempatkan perwakilan di dewan direksi, dipandang sebagai ancaman. Langkah-langkah ini dianggap sebagai upaya pengambilalihan yang bermusuhan terhadap stabilitas kepemilikan tradisional. Meski tawaran tersebut menggiurkan, dewan direksi Juventus dengan cepat dan bulat menolaknya, menegaskan bahwa pintu kepemilikan tertutup rapat bagi pihak luar.

  • John Elkann Juventus 29052025Getty Images

    Konteks Bisnis Exor dan Tantangan Finansial

    Penolakan Exor terhadap tawaran Tether terjadi di tengah periode restrukturisasi bisnis keluarga Agnelli yang lebih luas dan menimbulkan banyak pertanyaan. Dalam beberapa tahun terakhir, Exor telah melepas beberapa aset strategis bersejarah di Italia, seperti perusahaan suku cadang Magneti Marelli dan saham di grup media Gedi. Tindakan ini, ditambah dengan pemindahan pencatatan saham ke Amsterdam, memicu spekulasi bahwa keluarga Agnelli perlahan sedang menarik diri dari Italia.

    Kondisi finansial Juventus sendiri sebenarnya cukup memprihatinkan dan bisa menjadi alasan logis untuk menjual. Klub telah mencatatkan kerugian finansial yang mencapai hampir €1 miliar dalam lima tahun terakhir. Beban ini memaksa para pemegang saham, terutama Exor (yang memiliki portofolio senilai €36,4 miliar), untuk berulang kali menyuntikkan dana segar demi menutupi kerugian operasional dan menjaga klub tetap berjalan.

    Kerugian masif tersebut disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan. Biaya transfer dan gaji Cristiano Ronaldo yang sangat tinggi, dampak pandemi Covid-19 yang menghentikan pendapatan tiket, serta sanksi terkait financial fair play menjadi pukulan telak bagi neraca keuangan klub. Tabel di bawah ini merangkum faktor-faktor utama yang menyebabkan pendarahan finansial tersebut.

    Namun, keputusan untuk tetap mempertahankan Juventus di tengah badai finansial ini menunjukkan prioritas yang berbeda dari John Elkann. Bagi sang kepala keluarga, klub ini memiliki nilai sentimental dan strategis yang jauh melampaui hitungan untung-rugi bisnis semata. Juventus dianggap sebagai permata mahkota keluarga yang harus dipertahankan dan dipulihkan, bukan aset bermasalah yang harus segera dilikuidasi ke penawar tertinggi.

    Tabel: Estimasi Faktor Kerugian Finansial Juventus (5 Tahun Terakhir)

    Faktor PenyebabDampak Finansial
    Transfer & Gaji RonaldoBeban operasional dan amortisasi ekstrem
    Pandemi Covid-19Hilangnya pendapatan tiket & komersial
    Sanksi FFP & HukumDenda besar & pembatasan aktivitas transfer
    Total Estimasi Kerugian~ €1 Miliar
  • Bologna FC 1909 v Juventus FC - Serie AGetty Images Sport

    Krisis Identitas dan Prestasi di Lapangan

    Di atas lapangan hijau, Juventus sedang mengalami salah satu periode tersulit dalam sejarah modern mereka. Absennya gelar juara Serie A selama beberapa musim terakhir dan kegagalan berulang di kancah Liga Champions telah menimbulkan frustrasi mendalam di kalangan penggemar. Dominasi satu dekade yang pernah mereka miliki kini runtuh, digantikan oleh ketidakonsistenan performa yang mengkhawatirkan.

    Masalah ini diperparah oleh ketidakstabilan di level manajemen pasca pengunduran diri Andrea Agnelli tiga tahun lalu. Pergantian kepemimpinan dan arah kebijakan klub menciptakan kebingungan yang dirasakan hingga ke akar rumput. Identitas Juventus sebagai tim pemenang yang kejam dan efisien mulai luntur, digantikan oleh keraguan dan eksperimen proyek yang belum membuahkan hasil nyata.

    Tawaran Tether datang di saat yang tepat untuk memanfaatkan celah ketidakpuasan ini. Dengan janji dana segar dan perubahan arah, mereka menawarkan harapan instan bagi para pendukung yang rindu akan kejayaan masa lalu. Narasi bahwa manajemen lama sudah kehabisan ide dan membutuhkan suntikan energi baru dari dunia teknologi menjadi argumen penjualan utama mereka.

    Namun, manajemen saat ini di bawah arahan Elkann percaya bahwa perbaikan harus dilakukan dari dalam dengan cara yang berkelanjutan. Mereka menolak jalan pintas yang ditawarkan oleh uang kripto dan memilih untuk membangun ulang klub berdasarkan nilai-nilai inti Bianconeri. Penunjukan eksekutif baru dan strategi sepakbola yang lebih terukur diharapkan bisa mengembalikan DNA pemenang Juventus tanpa harus menggadaikan kepemilikan klub.

  • ITALY-INDUSTRIAL-TECHNOLOGY-MEETINGAFP

    Pernyataan Tegas John Elkann

    Puncak dari drama pengambilalihan ini ditandai dengan respons publik yang emosional namun tegas dari John Elkann. Melalui sebuah video resmi yang dirilis hari Sabtu, sang kepala keluarga Agnelli turun tangan langsung untuk mengakhiri segala spekulasi liar. Ia ingin menegaskan bahwa hubungan antara keluarganya dan klub bukanlah sekadar kepemilikan saham di atas kertas, melainkan ikatan sejarah yang telah terjalin selama lebih dari satu abad.

    Elkann mengungkapkan kedalaman hubungan tersebut dengan kata-kata yang menyentuh: "Juve telah menjadi bagian dari keluarga saya selama 102 tahun, dalam arti yang sebenarnya, karena selama satu abad, empat generasi telah mengembangkannya, membuatnya kuat, merawatnya di masa-masa sulit dan merayakannya di banyak momen bahagia." Pernyataan ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa klub telah bertahan melewati berbagai era dan krisis di bawah naungan satu dinasti yang setia.

    Ia kemudian memperluas definisinya tentang keluarga besar Bianconeri yang melibatkan jutaan penggemar di seluruh dunia, sebelum menutup pernyataannya dengan deklarasi final yang mematikan harapan Tether. "Memikirkan semangat ini, kisah cinta yang telah menyatukan kita selama lebih dari satu abad, kami terus mendukung tim kami sebagai sebuah keluarga dan menatap masa depan untuk membangun Juve yang menang. Juventus, sejarah kami, dan nilai-nilai kami tidak untuk dijual," tegas Elkann.

    Penolakan tegas ini menjadi penutup babak spekulasi akuisisi oleh raksasa kripto tersebut. Bagi kaum tradisionalis sepakbola, kata-kata Elkann adalah jaminan bahwa jiwa klub akan tetap terjaga dari ketidakpastian dunia finansial modern. Meski tantangan ekonomi dan prestasi masih menghadang di depan mata, satu hal yang pasti: Juventus akan menghadapinya tetap di bawah panji keluarga Agnelli, mempertahankan warisan yang tak bisa dinilai dengan uang.

0