Mungkin fans Liverpool tak akan senang mendengar ini, mengingat mereka sudah terbiasa dibantu bek jagoan untuk finis di puncak alih-alih di peringkat 17, tetapi gaya Jacquet sangat mirip dengan kapten Tottenham, Cristian Romero. Tenang saja, Romero adalah juara Piala Dunia sebagai jantung pertahanan Argentina, jadi mungkin perbandingan ini tak buruk-buruk amat.
Keduanya sama-sama agresif tanpa kompromi. Tak bisa dijinakkan jika ingin performa terbaik mereka. Terkadang, Anda harus 'mati' bersama mereka demi 'hidup' bersama mereka. Namun ketika gaya bermain mereka berhasil, buahnya memukau: keindahan dan kebuasan dalam satu paket.
Meski performa defensif Romero menurun musim ini, ia tetap vital dalam fase build-up Spurs dengan kemampuan menembus antar lini menggunakan umpannya serta berani mencuri bola jauh dari garis pertahanannya. Itu semua adalah aspek yang sangat dekat dengan permainan Jacquet, dan Liverpool bakal berharap ia bisa mereplikasinya di Liga Inggris.
Namun, Romero masih terjebak jadi sekadar pemain Tottenham alih-alih jadi bek bintang yang dibeli dengan harga mahal oleh klub papan atas Eropa karena ia belum bisa lepas dari kebiasaan buruknya. Tekel ceroboh, pelanggaran tak perlu, dan agresi berlebihan. Jacquet baru 20 tahun, puncak kariernya masih jauh di depan, dan ia punya waktu untuk merapikan kekurangan dalam permainannya.