Jeremy Jacquet Liverpool GFXGetty/GOAL

Jeremy Jacquet: Kok Mau-Maunya Liverpool Bayar £60 Juta Buat Bek Muda Rennes Ini?

Sang juara bertahan Liga Inggris berhasil menikung Chelsea, serta mengalahkan Bayern Munich dan klub ngetop Eropa lainnya untuk mendapatkan salah satu bek muda terbaik di dunia. Tapi Jeremy Jacquet akan menghabiskan musim 2025/26 di Rennes sebelum bergabung dengan Liverpool musim depan.

Jadi, siapa sebenarnya Jacquet, sosok yang bahkan belum mencatatkan 100 penampilan senior? Mengapa para petinggi Liverpool sudi-sudinya membayar £60 juta untuk bek yang jelas-jelas masih hijau? GOAL mengupas tuntas salah satu prospek terbaik Prancis saat ini...

  • Awal segalanya

    Jeremy Jacquet lahir di Bondy, pinggiran Paris, pada 13 Juli 2005. Ia bahkan belum berusia satu tahun ketika Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006, di mana Prancis kalah adu penalti dari Italia. Saat Les Bleus akhirnya kembali mengangkat trofi juara dunia, Jacquet baru saja menginjak usia 13 tahun dan masih bermain untuk SSB lokal, RC Joinville.

    Di Prancis, kegagalan Paris Saint-Germain dalam menyaring dan membina talenta lokal terbaik kerap disorot, dan Jacquet menjadi satu contoh lain yang lepas dari radar mereka. Pada 2019, ia menandatangani kontrak amatir dengan Rennes, klub Ligue 1 yang dikenal luas sebagai pabrik pemain muda berkualitas.

  • Iklan
  • FBL-FRA-LIGUE1-RENNES-PSGAFP

    Momen terobosan

    Pada usia 18 tahun, Jacquet melompat langsung dari tim akademi Rennes ke tim utama. Debut Ligue 1-nya datang pada Januari 2024 melawan Nice. Beberapa hari kemudian, ia dipinjamkan ke Clermont yang tengah berjuang lepas dari jerat degradasi hingga akhir musim, meski akhirnya gagal menyelamatkan klub tersebut. Namun, Rennes menilai keberlanjutan lebih penting. Setelah Jacquet tampil impresif dan masuk Team of the Tournament bersama Timnas Prancis di Piala Eropa U-19 musim panas itu, meski kalah dari Spanyol di final, ia kembali dipinjamkan ke Clermont, kali ini di Ligue 2.

    Semakin lama, semakin terlihatlah bahwa Jacquet terlalu bagus untuk level kasta kedua. Ia tak cuma menjadi jangkar pertahanan Clermont, tapi juga sebagai ancaman duel udara, sekaligus bek yang nyaman membangun serangan dari belakang. Rennes pun memutuskan bahwa menggelontorkan biaya sekitar £780.000 (Rp17 miliar) sepadan untuk menariknya lebih cepat di tengah musim 2024/25.

    Jacquet kemudian menjadi starter dalam 11 dari 14 laga sisa Rennes di Ligue 1, membantu klub menjauh dari ancaman degradasi dan finis nyaman di peringkat 11.

  • FBL-FRA-LIGUE1-RENNES-MONACOAFP

    Nasibnya kini

    Meski jam terbangnya di liga top masih terbatas, Jacquet sudah ramai dikaitkan dengan transfer bernilai besar pada 2025. Arsenal sempat mengincarnya sebagai pengganti Jakub Kiwior, tetapi Rennes menegaskan sang pemain tak akan dilepas usai meneken kontrak baru pada Mei kemarin, dan Jacquet sendiri tampak tak terlalu tertarik. Arsenal akhirnya beralih ke Piero Hincapie dari Bayer Leverkusen.

    Spekulasi berkepanjangan tak mengganggu fokus Jacquet. Musim ini, ia hampir selalu menjadi starter di Liga Prancis, hanya absen dua laga akibat skors. Ia sudah mengoleksi lima caps bersama Prancis U-21, dan desakan agar Didier Deschamps memberinya kesempatan di tim senior kian menguat menjelang Piala Dunia 2026 pertengahan tahun nanti.

    Dengan performa seperti itu, kecil kemungkinan Jacquet akan sepi peminat Januari ini. Dan benar saja, saga transfernya berlangsung sampai deadline day, dengan Liverpool menjadi klub terdepan untuk mendapatkannya menyusul keputusan Chelsea untuk mundur teratur.

  • FBL-FRA-LIGUE1-RENNES-AUXERREAFP

    Kekuatan terbesar

    Percaya diri, agresif tapi terkontrol, dan matang secara mental, Jacquet memiliki paket lengkap bek tengah modern. Ia nyaman bermain dalam sistem tiga atau empat bek, di sisi kanan maupun kiri, bahkan sesekali berperan seperti sweeper.

    Sebagai bek tengah pingir dalam skema tiga bek, ia piawai menjaga ruang yang luas berkat kecepatannya. Saat bermain di tengah, keunggulan duel udara menjadi senjata utama.

    Insting Jacquet membaca permainan luar biasa. Statistik menunjukkan ia termasuk dalam 5 persen pemain teratas untuk intersepsi (1,69 per 90 menit) di antara bek tengah Eropa. Selain penempatan posisi yang rapi, kekuatannya terletak pada keberanian meloncat menekan lawan tepat saat mereka menerima bola, mencuri penguasaan pada momen krusial.

    Yang benar-benar membedakannya dari bek muda potensial Prancis lain adalah kualitasnya dengan bola. Dalam laga Rennes mana pun, Anda akan melihatnya melepas switch play panjang, umpan vertikal tajam, hingga menggiring bola menembus separuh lapangan lawan.

  • FBL-FRA-LIGUE1-RENNES-MONACOAFP

    Yang bisa diperbaiki

    Ada dua kekhawatiran utama soal Jacquet. Pertama, tentu saja adalah bagaimana dia akan beradaptasi dengan liga dan klub yang jauh lebih disorot, terutama jika ia digadang-gadang sebagai penyelamat lini belakang Liverpool. Dominasi di Ligue 1 tidak otomatis menjamin kesuksesan di Liga Inggris, dan semakin besar perhatian yang ia terima, semakin besar pula angin yang akan menerpanya.

    Yang kedua terkait gaya bermain alaminya. Agresivitas Jacquet biasanya masih dalam batas wajar, tetapi ketika meleset, dampaknya bisa fatal. Dirinya kena gocek lawan atau melakuikan pelanggarah ceroboh bukanlah pemandangan langka, dan ini memang keterampilan yang sangat sulit dikuasai sehingga mungkin akan selalu menjadi kelemahannya meski dipoles sedemikian rupa.

    Musim ini, Jacquet menerima kartu merah pertamanya saat Rennes dibantai PSG 5-0. Sudah mengantongi kartu kuning, ia menjegal Goncalo Ramos yang memotong umpan liar di lini belakang. Mungkin ini lebih ke masalah konsentrasi, tetapi sekembalinya ia langsung mendapat kartu kuning lagi yang berujung skors otomatis.

  • Tottenham Hotspur v Villarreal CF - UEFA Champions League 2025/26 League Phase MD1Getty Images Sport

    The next... Cristian Romero?

    Mungkin fans Liverpool tak akan senang mendengar ini, mengingat mereka sudah terbiasa dibantu bek jagoan untuk finis di puncak alih-alih di peringkat 17, tetapi gaya Jacquet sangat mirip dengan kapten Tottenham, Cristian Romero. Tenang saja, Romero adalah juara Piala Dunia sebagai jantung pertahanan Argentina, jadi mungkin perbandingan ini tak buruk-buruk amat.

    Keduanya sama-sama agresif tanpa kompromi. Tak bisa dijinakkan jika ingin performa terbaik mereka. Terkadang, Anda harus 'mati' bersama mereka demi 'hidup' bersama mereka. Namun ketika gaya bermain mereka berhasil, buahnya memukau: keindahan dan kebuasan dalam satu paket.

    Meski performa defensif Romero menurun musim ini, ia tetap vital dalam fase build-up Spurs dengan kemampuan menembus antar lini menggunakan umpannya serta berani mencuri bola jauh dari garis pertahanannya. Itu semua adalah aspek yang sangat dekat dengan permainan Jacquet, dan Liverpool bakal berharap ia bisa mereplikasinya di Liga Inggris.

    Namun, Romero masih terjebak jadi sekadar pemain Tottenham alih-alih jadi bek bintang yang dibeli dengan harga mahal oleh klub papan atas Eropa karena ia belum bisa lepas dari kebiasaan buruknya. Tekel ceroboh, pelanggaran tak perlu, dan agresi berlebihan. Jacquet baru 20 tahun, puncak kariernya masih jauh di depan, dan ia punya waktu untuk merapikan kekurangan dalam permainannya.

  • Lalu, apa berikutnya?

    Sudah resmi bergabung dengan Liverpool, Jacquet langsung kembali ke Prancis untuk menyelesaikan musimnya bersama Rennes yang memang masih punya banyak target. Mereka tertinggal delapan poin dari zona Liga Champions dan masih berlaga di Coupe de France. Masih sangat mungkin Jacquet angkat kaki dari Rennes tak hanya sebagai salah satu ekspor termahal mereka, tapi juga sebagai pahlawan.

    Sementara itu, Liverpool harus kuat-kuat menghabiskan sisa musim ini dengan opsi apa pun yang Slot miliki saat ini. Perihal Slot masih menjadi manajer Liverpool ketika Jacquet tiba di Anfield atau tidak saja masih belum bisa dipastikan, dan sepertinya itu akan menjadi salah satu subplot utama di Merseyside pada paruh kedua musim 2025/26.

    Tapi satu yang pasti, The Reds percaya mereka telah berhasil menyingkirkan para pesaing untuk mengamankan jasa pemain yang bisa menjadi fondasi lini pertahanan klub untuk satu dekade ke depan, bahkan lebih.

0