Luis García ESPN analystGetty/GOAL

Eks Liverpool Luis Garcia Turut Singgung Sanksi FIFA Kepada Malaysia: CEO JDT Kecewa Berat Atas 'Kesalahan Teknis' FAM

Saga sanksi FIFA terhadap Malaysia memasuki babak baru. Kini, giliran klub paling berpengaruh di negara itu, Johor Darul Ta'zim (JDT), yang secara resmi angkat bicara. Melalui pernyataan dari CEO Luis Garcia, yang pernah berseragaram Liverpool saat aktif bermain, JDT mengungkapkan kekecewaan mendalam atas situasi yang menimpa tiga pemain kunci mereka.

Dalam respons pertama mereka sejak sanksi diumumkan, JDT secara lugas menempatkan tanggung jawab atas masalah ini di pundak Persatuan Bola Sepak Malaysia (FAM). Mereka menyebut skorsing yang diterima para pemainnya adalah akibat langsung dari sebuah "kesalahan teknis" yang dilakukan oleh FAM.

Tiga dari tujuh pemain yang diskors oleh FIFA — Joao Figueiredo, Jon Irazabal, dan Hector Hevel — adalah pemain andalan JDT. Sanksi larangan bermain selama 12 bulan ini tentu menjadi pukulan telak bagi sang juara bertahan Liga Super Malaysia, baik di kancah domestik maupun internasional.

Pernyataan dari JDT ini menambah tekanan pada FAM yang sudah berada dalam posisi sulit. Kini, mereka tidak hanya harus menghadapi FIFA, tetapi juga harus menjawab ketidakpuasan dari klub anggota paling kuat yang merasa sangat dirugikan.

  • JDT Akhirnya Buka Suara: 'Kecewa' pada FAM

    Setelah beberapa hari bungkam pasca pengumuman sanksi dari FIFA, klub raksasa Malaysia, Johor Darul Ta'zim (JDT), akhirnya merilis pernyataan resmi. Pernyataan yang ditunggu-tunggu ini disampaikan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) klub, Luis Garcia, melalui platform media sosial mereka.

    Inti dari pernyataan tersebut adalah ungkapan rasa "kekecewaan" yang mendalam terhadap Persatuan Bola Sepak Malaysia (FAM). JDT secara terang-terangan menunjuk FAM sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya situasi yang kini sangat merugikan klub dan para pemainnya.

    Garcia menekankan bahwa masalah ini telah memberikan "dampak signifikan" bagi JDT. Oleh karena itu, mereka dengan tegas mendesak agar masalah ini dapat diselesaikan secepat mungkin demi kebaikan semua pihak yang terlibat, terutama para pemain yang kariernya kini terancam.

    Pernyataan resmi dari JDT ini menjadi respons pertama dari level klub yang terdampak secara langsung. Hal ini menambah tekanan pada FAM, yang kini berada di bawah sorotan tajam dari berbagai penjuru, mulai dari FIFA, pemerintah, para penggemar, hingga klub anggotanya sendiri.

  • Iklan
  • Fokus pada 'Kesalahan Teknis' FAM

    Dalam pernyataan resminya, JDT secara spesifik menunjuk pada satu akar masalah. Garcia menyatakan bahwa skorsing yang diterima oleh tiga pemain mereka terjadi sebagai akibat dari "kesalahan teknis dalam proses penyerahan dokumen oleh Persatuan Bola Sepak Malaysia (FAM)."

    Penggunaan frasa "kesalahan teknis" ini sangatlah signifikan, karena sejalan dengan pengakuan dari pihak FAM sendiri. Sebelumnya, FAM juga telah mengakui secara implisit adanya kelalaian administratif dalam proses pendaftaran dokumen para pemain warisan tersebut kepada FIFA.

    Dengan menyoroti hal ini, JDT seolah ingin menegaskan posisi mereka. Mereka secara tidak langsung menyatakan bahwa kesalahan fatal ini bukan berasal dari pihak klub ataupun para pemain. JDT dan para pemainnya kini memposisikan diri sebagai korban dari kelalaian yang dilakukan oleh badan induk sepakbola nasional.

    Hal ini menempatkan FAM dalam posisi yang semakin terjepit. Di satu sisi, mereka harus berjuang keras dalam proses banding melawan FIFA. Di sisi lain, mereka kini juga harus menghadapi ketidakpuasan dan tuntutan dari klub anggota paling berpengaruh di negara itu.

  • Dampak Nyata bagi Skuad JDT

    Sanksi yang dijatuhkan oleh FIFA ini memberikan pukulan telak yang sangat nyata bagi kekuatan skuad Johor Darul Ta'zim. Tiga dari tujuh pemain yang dijatuhi sanksi larangan bermain selama 12 bulan adalah pilar penting bagi tim yang berjuluk Harimau Selatan tersebut.

    Ketiga pemain JDT yang kini harus menepi selama setahun adalah Joao Vitor Brandao Figueiredo, Jon Irazábal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano. Kehilangan tiga pemain asing berkualitas secara bersamaan ini dipastikan akan sangat memengaruhi kampanye JDT, baik di Liga Super Malaysia maupun di kompetisi Asia.

    Klub kini dihadapkan pada situasi yang sangat sulit. Mereka tidak bisa memainkan tiga pemain penting yang terikat kontrak dan menerima gaji dari klub. Ini adalah sebuah kerugian besar, tidak hanya dari segi teknis di lapangan, tetapi juga dari segi finansial.

    Harapan terbesar JDT saat ini adalah agar proses banding yang akan ditempuh oleh FAM, serta kemungkinan banding pribadi yang diajukan oleh para pemain, dapat membuahkan hasil positif. "Kami berharap masalah ini diselesaikan secepatnya dan para pemain dapat mewakili JDT pada waktunya," tutup Garcia dalam pernyataannya.

  • Mengingat Kembali Sanksi & Tuduhan FIFA

    Pernyataan keras dari JDT ini adalah buntut langsung dari keputusan mengejutkan Komite Disiplin FIFA. Pekan lalu, FIFA secara resmi menjatuhkan sanksi berat kepada FAM dan tujuh pemainnya atas dugaan pelanggaran Pasal 22 Kode Disiplin yang berkaitan dengan "pemalsuan dokumen."

    Dalam rilis resminya, FIFA secara spesifik menyatakan bahwa FAM telah menggunakan "dokumentasi yang telah diubah" (doctored documentation) saat mengajukan permohonan kelayakan untuk para pemain tersebut. Dokumen inilah yang memungkinkan mereka untuk bisa tampil dalam laga melawan Vietnam pada 10 Juni lalu.

    Akibat pelanggaran ini, FAM didenda sebesar Rp7,3 miliar. Sementara itu, ketujuh pemain yang terlibat masing-masing didenda Rp42 juta dan yang paling parah, diskors selama 12 bulan dari semua aktivitas yang berhubungan dengan sepakbola.

    Selain tiga pemain JDT (Figueiredo, Irazabal, Hevel), empat pemain lainnya yang juga menjadi korban dari sanksi ini adalah Gabriel Palmero, Facundo Garces, Rodrigo Holgado, dan Imanol Machuca, yang semuanya bermain untuk klub di luar Malaysia.

  • Jalan ke Depan: Banding & Ketidakpastian

    Dengan JDT yang kini telah secara resmi menyuarakan posisinya dan menyalahkan FAM, semua mata kini tertuju pada proses banding yang akan ditempuh oleh asosiasi sepakbola Malaysia tersebut. Ini adalah satu-satunya jalan hukum yang tersisa untuk mencoba membatalkan atau setidaknya mengurangi sanksi.

    FAM berada dalam posisi yang sangat menantang. Mereka harus bisa meyakinkan Komite Banding FIFA bahwa "kesalahan teknis" yang mereka akui tidak mengandung unsur kesengajaan atau niat untuk memalsukan dokumen. Ini adalah sebuah argumen yang akan sangat sulit untuk dibuktikan di hadapan panel hukum FIFA.

    Sementara itu, para pemain dan klub seperti JDT hanya bisa menunggu dalam ketidakpastian. Mereka sangat berharap proses banding dapat berjalan dengan cepat dan membuahkan hasil yang positif, agar para pemain yang tidak bersalah dapat segera kembali merumput dan melanjutkan karier mereka.

    Kasus ini menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga tentang betapa krusialnya ketelitian dan integritas administratif dalam dunia sepakbola modern. Sebuah "kesalahan teknis" kecil kini telah berevolusi menjadi sebuah krisis nasional yang mengancam karier para pemain dan merusak reputasi sepakbola Malaysia di mata dunia.

0