Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Barella InterGetty Images
Diterjemahkan oleh

Inter: Penurunan performa Barella terlihat dari angka-angka, tetapi pernyataan seusai derbi lebih mengkhawatirkan

Derbi yang berakhir dengan kekalahan Inter 3-1, sekaligus menjadi derbi ketujuh berturut-turut tanpa kemenangan bagi Inter, memicu evaluasi mendalam di lingkungan klub. Di Giuseppe Meazza, meski kondisi fisik banyak pemain Inter belum optimal bisa menjadi alasan, banyak pemain mendapat penilaian sangat buruk. Salah satu yang paling menyita perhatian, juga karena pernyataannya seusai pertandingan, adalah Nicolò Barella.

Gelandang Italia itu melakukan kesalahan-kesalahan besar di lapangan dan jelas mengalami penurunan performa, sebagaimana ditunjukkan oleh angka-angka, dibandingkan dengan dua musim terakhir. Namun, wawancaranya seusai pertandingan juga mengundang perhatian karena ia secara blak-blakan menyoroti rekan-rekan setimnya dan pelatih Cristian Chivu.

  • Banyak sekali kesalahan dalam derbi!

    Derbi bagi Barella benar-benar menjadi laga yang ingin dilupakan: rata-rata nilainya dalam penilaian pemain tak lebih dari 4,5, dengan komentar seperti "tidak tampil padu", "lamban", "terlalu lama menguasai bola", dan masih banyak lagi.

    Dalam ketiga gol AC Milan, ada tindakan Barella yang tak seperti biasanya. Pada gol pertama, ia berjalan saat kembali ke belakang dan terlambat membantu pertahanan ketika Pulisic menyundul bola hasil umpan silang. Pada gol kedua, Rabiot bergerak dari posisinya dan Barella membiarkannya lewat seolah-olah ia tidak mungkin membahayakan. Terakhir, keputusan Barella untuk mencoba membawa bola keluar dari pertahanan sungguh ceroboh. Ia kehilangan bola lalu melakukan pelanggaran di tepi kotak penalti yang dimanfaatkan Moreira menjadi gol.

  • Angka-angka menurun

    Statistik penting Barella menurun drastis dibandingkan musim lalu dan, terutama, untuk pemain dengan karakteristik sepertinya. Mantan pemain Cagliari itu merupakan salah satu gelandang terbaik di Italia jika kondisinya prima dan mampu tampil maksimal, baik dari segi daya ledak maupun mental.

    Namun, musim ini, dibandingkan musim lalu ketika performanya sudah tampak menurun, Barella mencatat rata-rata jarak tempuh yang sama per pertandingan, tetapi rata-rata lari sprintnya tinggal sekitar separuh dari setahun lalu (13,7 berbanding 7,8).

    Apa dampaknya? Rata-rata tekelnya per pertandingan menurun (1,6 berbanding 1,1), begitu pula bola yang direbutnya (4,9 berbanding 4,3). Ia juga sudah membuat 2 kesalahan yang berujung gol lawan, dibandingkan 0 pada musim lalu.

    Saat menguasai bola, rata-rata kehilangan bolanya meningkat (12,2 berbanding 11,9 per pertandingan). Umpan kunci dan akurasi umpan silangnya menurun, meski hanya sedikit. Yang paling mencolok adalah penurunan perkiraan xAssist, yakni potensi ofensif umpan-umpannya bagi rekan setim, yang merosot dari 6,62 menjadi 1,74.

  • "KAMI KURANG MENUNJUKKAN SIKAP YANG TEPAT. DENGAN FORMASI INI..."

    Pada dasarnya, Barella bermain lebih lambat dibandingkan dua musim terakhir. Dampaknya, ia menjadi kurang berbahaya dan kemungkinan juga membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk beristirahat.

    Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah kesan bahwa masalah paling serius saat ini bukan hanya soal fisik, melainkan juga mental. Dalam hal ini, sinyal peringatan paling jelas datang dari pernyataannya seusai pertandingan kepada Sky dan Dazn.

    "Sejak awal tahun, kami tidak menunjukkan sikap yang tepat. Itu hal yang buruk. Kami juga sudah menunjukkan kekuatan kami pada babak kedua, tetapi setiap pertandingan berbeda. Kelelahan harus dibayar. Kami harus saling berterus terang. Sudah cukup lama kami tidak menghadapi derbi dengan cara terbaik. Menjadi tim terkuat saja tidak cukup, dan kami pernah menjadi tim terkuat tetapi tidak menang. 

    Mungkin tidak adanya pemain pengganti yang segar di bangku cadangan untuk lini serang memengaruhi pilihan pelatih, dan kami mencoba melakukan sesuatu yang berbeda, mungkin sampai kehilangan pegangan kami".

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Ucapan "ala Bremer", sinyal bahaya

    Ini bukan kali pertama pernyataan setajam itu dilontarkan pemain penting dalam skuad ini. Alessandro Bastoni menjadi orang pertama yang bersuara lantang menjelang laga Liga Champions melawan Shakhtar: "Laga-laga final Liga Champions masih jauh, mari kembali membumi." Setelah itu, Chivu sendiri berkata sebelum pertandingan: "Kalau sudah cukup lama kami tidak memenangi derby, kami harus bertanya mengapa. Kami harus kembali lebih bersikap seperti tim kecil."

    Hari ini giliran Barella yang berbicara. Namun, ia melakukannya setelah tampil sangat buruk secara individu, dengan pernyataan yang lebih terdengar sebagai luapan kekesalan ketimbang kritik terhadap diri sendiri. Dari sisi komunikasi, ini adalah gol bunuh diri yang sangat mirip dengan yang dilakukan Gleison Bremer beberapa pekan lalu dan sempat membuka babak krisis kecil di Juventus.

    Sindiran tajam kepada Chivu dan teguran keras kepada rekan-rekan setimnya soal sikap menjadi sinyal bahaya paling serius bagi tim ini. Bukan cara mereka yang kerap keliru dalam mengawali pertandingan, bukan pula laga-laga ketika mereka gagal mengejar ketertinggalan, melainkan tidak adanya kesatuan tujuan. Hal itu kemudian ditegaskan oleh pelatih asal Rumania tersebut seusai pertandingan lewat ucapannya: "Kami sedikit kekurangan rasa lapar."

    Jika Inter benar-benar ingin bangkit dan membalikkan keadaan dalam musim yang sama sekali belum gagal, bahkan masih menempatkan mereka dalam persaingan di semua ajang, mereka tentu harus memulainya dari sini.