Federico Dimarco Lecce Inter Serie AGetty

Inter Milan Lanjutkan Dominasi Tandang Berkat Sihir Federico Dimarco, Cristian Chivu Tegaskan Peluang Liga Champions Terbuka Lebar

  • Babak Pertama yang Penuh Kebuntuan dan Insiden

    Inter Milan bertandang ke Stadio Via del Mare dengan memikul beban psikologis yang cukup berat. Pada pertengahan pekan, skuad Nerazzurri harus menelan pil pahit berupa kekalahan 3-1 dari Bodo/Glimt di atas lapangan sintetis di Norwegia dalam ajang play-off Liga Champions. Tragedi tersebut semakin lengkap karena mereka kehilangan sang kapten, Lautaro Martinez, yang divonis mengalami cedera otot soleus dan harus menepi selama sebulan. Di tengah absennya Denzel Dumfries, Hakan Calhanoglu, dan Nicolo Barella, Inter harus meladeni Lecce yang sedang berada dalam tren kebangkitan usai merangkai kemenangan atas Udinese dan Cagliari, serta menyambut kembalinya Lameck Banda dari masa skorsing.

    Pertandingan langsung berjalan dengan intensitas tinggi sejak peluit dibunyikan. Saat laga baru berjalan 35 detik, Kialonda Gaspar melakukan blok krusial sambil meregangkan tubuh untuk menggagalkan tembakan menyudut Marcus Thuram. Sayangnya, aksi heroik itu membuat Gaspar cedera dan harus ditarik keluar lapangan pada menit keempat. Penggantinya, Jamil Siebert, langsung tampil gemilang dengan menyapu tendangan voli Luis Henrique tepat di garis gawang pada menit kesepuluh. Kiper Lecce Wladimiro Falcone juga dipaksa melakukan penyelamatan akrobatik satu tangan demi menepis peluang Francesco Pio Esposito, membuat babak pertama harus ditutup tanpa gol meski Inter mendominasi permainan.

  • Iklan
  • US Lecce v FC Internazionale - Serie AGetty Images Sport

    Sorakan Provokatif dan Pecahnya Kebuntuan Pasukan Tamu

    Sepanjang jalannya pertandingan, atmosfer stadion sangat tidak bersahabat bagi bek Inter Alessandro Bastoni. Ia terus-menerus mendapat sorakan cemoohan dari pendukung tuan rumah setiap kali menyentuh bola. Insiden ini merupakan buntut dari pengakuan Bastoni yang melakukan simulasi sehingga membuahkan kartu merah bagi bek Juventus, Pierre Kalulu, pada pekan sebelumnya. Kendati berada di bawah tekanan mental, Bastoni tetap tampil tenang dan mampu membaca situasi dengan sempurna saat memotong pergerakan berbahaya Santiago Pierotti di area pertahanan.

    Kesabaran Inter akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-75 lewat sebuah skema serangan balik yang berujung pada tendangan sudut. Eksekusi bola mati Federico Dimarco menciptakan kemelut di kotak penalti. Bola memantul tepat di hadapan Henrikh Mkhitaryan yang masuk sebagai pemain pengganti. Gelandang veteran tersebut tanpa ragu melepaskan tendangan voli setengah matang dengan kaki kanannya dari jarak 14 yard, menembus kerumunan pemain dan sukses menggetarkan jala gawang Lecce.

  • Sihir Kaki Kiri Bek Sayap Kunci Poin Penuh

    Keunggulan satu gol membuat Inter semakin beringas. Tim tamu sejatinya bisa menggandakan keunggulan lebih cepat ketika Dimarco membangun serangan dari area pertahanannya sendiri dan melakukan kombinasi dengan Mkhitaryan. Namun, tembakan pertama berhasil ditepis oleh kaki Falcone, dan percobaan kedua disapu tepat di garis gawang oleh Tiago Gabriel. Kebuntuan tersebut akhirnya kembali pecah melalui skema bola mati. Memanfaatkan sepak pojok akurat dari Dimarco, bola lambung disambut dengan lompatan tinggi Manuel Akanji yang melepaskan sundulan tajam ke sudut atas gawang jauh.

    Dua umpan berbuah gol tersebut mengantarkan Dimarco mencetak rekor individu yang fantastis. Ia resmi menjadi bek pertama dalam 20 musim terakhir Serie A (sejak 2006/07) yang mampu mencatatkan setidaknya satu assist dalam lima penampilan secara beruntun. Inter juga membuktikan efektivitas taktik mereka dengan mencetak 15 gol dari situasi tendangan sudut, rekor tertinggi di antara lima liga top Eropa musim ini. Kemenangan ini memperpanjang rekor impresif Inter menjadi sembilan kemenangan tandang beruntun di Serie A, meski mereka harus kehilangan Bastoni pada laga melawan Genoa akibat akumulasi kartu kuning sebelum digantikan oleh Carlos Augusto.

  • Refleksi Pelatih dan Misi Kebangkitan di Panggung Eropa

    Seusai pertandingan, Chivu memberikan apresiasi tinggi terhadap daya juang anak asuhnya. "Kami ingin memanfaatkan skema bola mati dengan maksimal. Sangat disayangkan kami tidak mengeksekusinya dengan lebih baik sejak babak pertama," ungkap Chivu kepada DAZN Italia. Sang pelatih secara khusus memuji kualitas umpan silang Dimarco, dengan nada bercanda menyebut kaki kiri sang pemain jauh lebih hebat daripada miliknya semasa masih merumput.

    Mengenai sorakan kepada Bastoni, Chivu dengan tegas menyuarakan pembelaannya. Ia mengapresiasi kedewasaan sang bek yang telah menyadari kesalahannya, meminta maaf, dan menempatkan kepentingan tim di atas segalanya. Chivu juga memuji etos kerja  Thuram dan Frattesi yang tampil enerjik di tengah absennya para pemain pilar. Kini, dengan kembalinya Dumfries dan Calhanoglu ke dalam sesi latihan pada awal pekan, fokus Inter akan langsung beralih ke laga penentuan leg kedua melawan Bodo/Glimt. "Kami harus menjadi versi terbaik dari diri kami sendiri pada Selasa nanti, karena kualifikasi ini masih sangat terbuka lebar," pungkas Chivu.

  • Cuplikan Pertandingan

0