Liga Primer Inggris musim 2025/26 dikejutkan oleh ketajaman seorang penyerang Brasil yang namanya mungkin belum terlalu familiar bagi sebagian besar penggemar sepakbola beberapa tahun lalu. Igor Thiago, striker andalan Brentford, kini berdiri sejajar dengan para elite, hanya tertinggal dari Erling Haaland dalam daftar pencetak gol terbanyak sementara. Namun, di balik gelontoran golnya, terdapat kisah perjuangan hidup yang luar biasa berat dari jalanan Gama, Brasil, hingga gemerlap stadion di Inggris.
Setiap kali bola bersarang di gawang lawan — sesuatu yang sudah ia lakukan delapan kali musim ini — pikiran Thiago melayang kembali ke masa lalunya yang penuh kesulitan. Jauh sebelum menjadi bintang di London Barat, ia harus membanting tulang demi menghidupi keluarganya setelah kehilangan ayahnya di usia muda. Sepakbola bukan sekadar hobi baginya, melainkan jalan keluar satu-satunya untuk mengubah nasib orang-orang yang dicintainya.
Perjalanannya menuju kasta tertinggi sepakbola Inggris tidaklah instan. Thiago harus menempuh rute yang berliku, meninggalkan kenyamanan rumah untuk bertarung di liga Bulgaria bersama Ludogorets, sebelum meledak di Belgia bersama Club Brugge. Ketangguhan mental yang ditempa oleh kesulitan hidup dan pengalaman di berbagai liga Eropa inilah yang kini membuatnya tampil begitu percaya diri di hadapan bek-bek tangguh Liga Primer.
Kini, di bawah asuhan Keith Andrews, Thiago bertransformasi menjadi salah satu penyerang paling mematikan di Eropa. Statistiknya berbicara lantang, menempatkannya di atas semua pemain Brasil lainnya di lima liga top Eropa. GOAL coba membedah perjalanan hidup, statistik impresif, dan analisis taktikal yang membuat Thiago menjadi fenomena baru di Liga Primer.









