TOPSHOT-FBL-HAITI-WORLD CUP-CELEBRATIONS-FANSAFP

Lolos Tapi Tak Bisa Menonton: Nasib Tragis Fans Haiti Terhalang 'Tembok' Kebijakan Donald Trump Di Piala Dunia 2026

Euforia kelolosan tim nasional Haiti ke Piala Dunia 2026 setelah penantian panjang sejak 1974 harus berbenturan dengan realitas politik yang keras. Keberhasilan bersejarah tim Karibia ini dibayangi oleh kebijakan imigrasi ketat dari pemerintahan presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Meski AS menjadi tuan rumah bersama turnamen ini, pintu perbatasan tampaknya tertutup rapat bagi para pendukung setia Les Grenadiers.

Departemen Luar Negeri AS telah mengonfirmasi bahwa tidak akan ada pengecualian khusus bagi penggemar sepakbola Haiti yang ingin masuk ke AS. Keputusan ini merujuk pada larangan perjalanan yang ditandatangani presiden Trump pada Juni 2025, yang membatasi masuknya warga dari 19 negara tertentu. Kebijakan ini menjadi pukulan telak bagi semangat inklusivitas yang biasanya dijunjung tinggi dalam turnamen global seperti Piala Dunia.

Meski para pemain, pelatih, dan staf pendukung tim Haiti mendapatkan pengecualian untuk berkompetisi, nasib berbeda dialami oleh para suporter. Mereka terjebak dalam jaring birokrasi keamanan nasional yang menempatkan Haiti dalam daftar negara berisiko tinggi. Situasi ini menciptakan preseden yang canggung bagi FIFA dan penyelenggara, di mana sebuah tim peserta diperbolehkan hadir, namun basis pendukung utamanya dilarang masuk.

Ironi ini semakin tajam mengingat janji-janji masa lalu tentang keterbukaan turnamen. Benturan antara kebijakan proteksionis "America First" dan semangat sepakbola sebagai pemersatu dunia kini menjadi sorotan utama menjelang kick-off tahun depan. Haiti tidak sendirian dalam nasib ini, karena Iran juga menghadapi pembatasan serupa, menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai salah satu edisi dengan tantangan diplomatik terberat bagi para penggemar.

  • FBL-HAITI-WORLD CUP-CELEBRATIONS-FANSAFP

    Detail Larangan dan Pengecualian Terbatas

    Inti dari permasalahan ini terletak pada proklamasi presiden yang ditandatangani Trump pada Juni lalu. Perintah eksekutif ini secara spesifik membatasi masuknya warga negara dari 19 negara, termasuk Haiti, ke wilayah Amerika Serikat. Kebijakan ini dirancang tanpa memandang konteks acara olahraga besar yang akan digelar, menciptakan tembok tebal bagi para pelancong biasa.

    Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa pengecualian visa hanya berlaku sangat terbatas. Atlet profesional, pelatih, dan staf resmi tim yang berpartisipasi dalam Piala Dunia diizinkan masuk. Ini memastikan pertandingan tetap berlangsung secara teknis. Namun, bagi ribuan penggemar yang ingin memberikan dukungan langsung di stadion, pintu pengecualian tersebut dinyatakan tertutup rapat.

    Pihak berwenang AS menyatakan bahwa penggemar masih bisa mencoba mengajukan visa dan menjadwalkan wawancara. Namun, mereka juga memberikan peringatan dini bahwa kemungkinan besar permohonan tersebut akan ditolak. Kriteria untuk mendapatkan izin masuk sangat ketat, dan pengecualian atas dasar "kepentingan nasional AS" diprediksi akan sangat jarang diberikan kepada penonton sepakbola biasa.

    Sikap keras ini menunjukkan prioritas pemerintahan Trump yang menempatkan keamanan perbatasan di atas segalanya. Bagi fans Haiti, ini berarti kegembiraan lolos ke Piala Dunia harus dirayakan dari jauh, kecuali ada perubahan kebijakan mendadak yang saat ini tampaknya mustahil terjadi.

  • Iklan
  • TOPSHOT-FBL-HAITI-WORLD CUP-CELEBRATIONS-FANSAFP

    Alasan Keamanan dan Statistik Visa

    Pemerintahan Trump memiliki alasan spesifik mengapa Haiti dimasukkan dalam daftar hitam perjalanan. Dokumen perintah eksekutif tersebut mengutip laporan Departemen Keamanan Dalam Negeri Tahun Anggaran 2023 yang menyoroti tingginya tingkat pelanggaran izin tinggal (overstay) oleh warga Haiti. Tercatat, tingkat overstay untuk pemegang visa bisnis atau pelesir dari Haiti mencapai angka 31,38 persen.

    Selain masalah imigrasi, faktor keamanan nasional menjadi justifikasi utama. Haiti saat ini sedang dilanda krisis politik yang parah sejak pembunuhan presiden Jovenel Moise pada 2021. Kekosongan kekuasaan dan dominasi geng kriminal yang menguasai 90 persen ibu kota Port-au-Prince membuat AS menilai Haiti tidak memiliki otoritas pusat yang mampu melakukan penyaringan latar belakang warganya secara memadai.

    Pemerintah AS mengklaim bahwa kurangnya informasi penegakan hukum yang dapat diverifikasi dari Haiti menimbulkan risiko masuknya elemen kriminal atau ancaman keamanan ke wilayah AS. Narasi ini digunakan untuk membenarkan larangan menyeluruh, menganggap setiap pelancong dari wilayah tersebut sebagai potensi risiko yang tidak bisa diperiksa dengan benar.

    Kondisi kacau di dalam negeri Haiti sendiri sebenarnya sudah berdampak pada tim nasional mereka, yang terpaksa memainkan laga kandang kualifikasi di tempat netral seperti Curacao. Kini, ketidakstabilan negara tersebut tidak hanya merugikan warga di rumah, tetapi juga menghalangi mereka untuk merayakan prestasi olahraga bangsanya di panggung internasional.

  • trump infantinoGetty Images

    Kontradiksi Janji Trump dan FIFA

    Situasi saat ini menciptakan kontradiksi yang mencolok dengan janji-janji yang pernah dilontarkan di masa lalu. Pada 2018, saat AS sedang mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026, Trump menulis surat kepada presiden FIFA Gianni Infantino. Dalam surat itu, ia menjamin bahwa semua penggemar dan pejabat dari seluruh dunia akan dapat memasuki AS tanpa diskriminasi.

    Infantino sendiri selalu menggembar-gemborkan bahwa Piala Dunia adalah ajang yang terbuka untuk semua orang. Ia pernah menegaskan bahwa akses ke negara tuan rumah adalah syarat mutlak bagi tim yang lolos beserta pendukungnya. "Jika tidak, tidak ada Piala Dunia," ujarnya pada 2017. Kini, retorika inklusif tersebut berbenturan keras dengan tembok kebijakan imigrasi AS.

    Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa jaminan "tanpa diskriminasi" tersebut telah gugur. Kebijakan pelarangan berbasis negara asal (blanket ban) secara definisi bertentangan dengan prinsip akses terbuka yang dijanjikan kepada FIFA. Hal ini menempatkan badan sepakbola dunia itu dalam posisi sulit, di mana mereka harus menyeimbangkan hubungan dengan tuan rumah yang kuat dan prinsip dasar turnamen mereka.

    Diamnya FIFA dan Kedutaan Haiti saat dimintai komentar menunjukkan sensitivitas isu ini. Perubahan sikap dari janji manis saat bidding tuan rumah menjadi kebijakan restriktif saat pelaksanaan menjadi preseden buruk bagi penyelenggaraan acara olahraga global di masa depan.

  • FBL-WC-2026-ASIA-QUALIFIERS-IRI-PRKAFP

    Iran dan Konteks Geopolitik yang Lebih Luas

    Haiti tidak sendirian dalam menghadapi tembok imigrasi ini. Iran menjadi negara peserta Piala Dunia kedua yang terkena dampak langsung dari kebijakan larangan perjalanan Trump. Sama seperti Haiti, warga negara Iran menghadapi pembatasan ketat untuk memasuki AS, meski alasan di baliknya lebih condong pada isu geopolitik dan tuduhan terorisme negara.

    Masuknya Iran dan Haiti dalam daftar larangan ini mempertegas bahwa kebijakan imigrasi AS tidak pandang bulu terhadap konteks olahraga. Perintah eksekutif Trump menuduh pemerintah Iran gagal bekerja sama dalam mengidentifikasi risiko keamanan, sebuah alasan yang mirip dengan yang digunakan untuk Haiti, meski konteks politiknya berbeda.

    Hal ini menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai salah satu turnamen paling politis dalam sejarah modern. Kehadiran dua negara yang warganya dilarang masuk oleh tuan rumah menciptakan dinamika yang canggung dan berpotensi memicu protes di dalam dan luar stadion. Sepakbola, yang seharusnya menjadi jembatan, justru memperlihatkan jurang pemisah antarnegara.

    Bagi komunitas internasional, ini adalah pengingat bahwa menjadi tuan rumah acara global tidak serta merta mengubah kebijakan luar negeri atau keamanan sebuah negara adidaya. Geopolitik tetap menjadi panglima, dan dalam kasus ini, penggemar sepakbola dari negara-negara tertentu adalah pihak yang harus membayar harganya.

  • Haiti squadraGetty Images

    Harapan pada Diaspora dan Dampak Sosial

    Dengan tertutupnya pintu bagi penggemar dari negara asal, timnas Haiti kemungkinan besar akan sangat bergantung pada dukungan diaspora mereka di Amerika Serikat. Untungnya, terdapat populasi imigran Haiti yang substansial di AS, diperkirakan mencapai sekitar 852.000 orang, dengan konsentrasi terbesar berada di negara bagian Florida.

    Para imigran Haiti yang sudah menetap di AS ini akan menjadi tulang punggung dukungan bagi tim di stadion. Mereka adalah satu-satunya harapan agar Les Grenadiers tidak merasa bermain sendirian di tengah turnamen besar. Kehadiran mereka akan sangat krusial untuk memberikan atmosfer pertandingan yang layak bagi tim yang telah berjuang keras untuk lolos.

    Namun, komunitas Haiti di AS sendiri juga sedang berada dalam sorotan negatif akibat retorika politik. Klaim tidak berdasar yang dilontarkan Trump selama kampanye mengenai imigran Haiti di Ohio telah menciptakan stigma dan ketegangan sosial. Piala Dunia ini akan menjadi ujian apakah olahraga bisa meredakan ketegangan tersebut atau justru memperuncingnya.

    Pada akhirnya, absennya penggemar yang bepergian dari Haiti akan mengubah warna turnamen. Piala Dunia dikenal dengan parade budaya dan warna-warni suporter yang datang langsung dari negara asalnya. Tanpa kehadiran mereka, ada elemen jiwa turnamen yang hilang, digantikan oleh realitas politik perbatasan yang dingin dan kaku.

0