Senegal-AFCON-winnersGetty/GOAL

Gelar Juara Piala Afrika Milik Senegal DICABUT?! Presiden FIFA Rilis Pernyataan Usai Aksi Walk Out

  • Piala Afrika berakhir dramatis

    Final Piala Afrika 2025 berakhir dalam suasana panas nan dramatis. Maroko mendapat penalti kontroversial di detik-detik terakhir waktu normal, memicu amarah dari kubu Senegal yang merasa amat dirugikan setelah gol mereka dianulir sesaat sebelumnya.

    Situasi panas itu berubah kacau ketika pelatih Senegal, Pape Thiaw, memerintahkan timnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Laga pun tertunda hampir 20 menit, sebelum Sadio Mane berlari ke ruang ganti untuk membujuk rekan-rekannya kembali ke lapangan dan melanjutkan pertandingan.

    Bintang Real Madrid Brahim Diaz akhirnya mendapat kesempatan untuk mengeksekusi penaltinya demi mengantarkan Maroko meraih gelar Piala Afrika pertama sejak 1976. Namun, eksekusi Panenka-nya dapat dengan mudah digagalkan Edouard Mendy, memaksa laga berlanjut ke babak tambahan. Kebuntuan akhirnya terpecah pada menit ke-94, dan gol tunggal yang dicetak Pape Gueye sudah cukup untuk mengamankan gelar juara Afrika kedua Senegal dalam empat tahun.

  • Iklan
  • FBL-AFR-2025-MATCH 52-SEN-MARAFP

    Gelar juara Senegal dipertanyakan

    Menurut regulasi Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF), seperti dikutip Express, tim yang meninggalkan lapangan tanpa izin wasit berisiko didiskualifikasi dari turnamen. Regulasi Piala Afrika pasal 64 menyebutkan:

    "Jika, dengan alasan apa pun, sebuah tim mengundurkan diri dari kompetisi atau tidak hadir untuk menjalani pertandingan, kecuali dalam keadaan force majeure yang diterima oleh Panitia Penyelenggara, atau menolak melanjutkan pertandingan, atau meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir sesuai waktu normal tanpa izin dari wasit, maka tim tersebut akan dinyatakan kalah dan secara permanen didiskualifikasi dari kompetisi yang sedang berlangsung."

    Komentator ESPN Ian Darke turut mengecam tindakan Senegal di media sosial, dengan berkata di akun X (dulu Twitter) miliknya: "Saya mengagumi Senegal sebagai sebuah tim sepakbola yang hebat, tapi tidak bisa Anda meninggalkan lapangan, menunda laga sampai 17 menit, lalu dinyatakan juara Piala Afrika."

    "Harus ada hukuman atas tindakan anarkis ini. Laga ini semestinya digelar ulang atau Maroko dinyatakan pemenang dengan skor 3-0."

  • FBL-AFR-2025-MATCH 52-SEN-MARAFP

    Maroko tempuh langkah hukum?

    Pelatih Maroko, Walid Regragui, secara terbuka mengecam tindakan Senegal usai peluit akhir. Ia menyebut insiden tersebut sebagai sesuatu yang “memalukan”.

    “Citra sepakbola Afrika yang kami tampilkan sungguh memalukan,” ujarnya. “Menghentikan pertandingan lebih dari 10 menit saat seluruh dunia menonton bukanlah sesuatu yang pantas.”

    Regragui juga menilai jeda panjang tersebut berpengaruh terhadap kegagalan penalti Diaz. “Jedanya terlalu lama sebelum mengambil penalti, dan itu pasti mengganggunya. Tapi kami tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Kami harus menatap ke depan,” tambahnya.

    PSSI-nya Maroko (FRMF) secara resmi mengumumkan akan menempuh jalur hukum terhadap Senegal. Pernyataan FRMF berbunyi: “Federasi Sepakbola Kerajaan Maroko mengumumkan bahwa pihaknya akan menempuh langkah hukum kepada Konfederasi Sepakbola Afrika dan FIFA terkait aksi meninggalkan lapangan oleh tim nasional Senegal pada final melawan tim nasional Maroko, serta seluruh peristiwa yang menyertainya, menyusul pemberian penalti oleh wasit yang dinilai benar oleh para pakar. Situasi ini berdampak signifikan terhadap jalannya pertandingan dan performa para pemain.”

  • FBL-AFR-2025-MATCH 52-SEN-MARAFP

    Presiden FIFA kecam tindakan Senegal

    Presiden FIFA, Gianni Infantino, tetap mengucapkan selamat kepada Senegal atas gelar juara, namun ia tak menahan kritik keras terhadap insiden yang ia cap "tidak dapat diterima" itu.

    “Kami menyaksikan adegan yang tidak dapat diterima di lapangan dan di tribun,” kata Infantino, seperti dikutip Reuters. “Kami mengutuk keras perilaku sebagian suporter, serta beberapa pemain dan anggota staf teknis Senegal.”

    “Meninggalkan lapangan dengan cara seperti ini tidak dapat diterima. Kekerasan juga tidak bisa ditoleransi dalam sepakbola. Kita harus selalu menghormati keputusan wasit. Tim harus bertanding di lapangan dan dalam koridor Laws of the Game, karena jika tidak, esensi sepakbola itu sendiri yang dipertaruhkan.”

    Infantino menambahkan bahwa para pemain dan tim memiliki tanggung jawab untuk memberi contoh yang benar bagi jutaan penonton di seluruh dunia, serta berharap komisi disiplin CAF akan mengambil langkah yang tepat.

  • Sikap resmi CAF

    CAF mengonfirmasi bahwa mereka tengah meninjau seluruh rekaman pertandingan dan akan memulai proses disipliner. Dalam pernyataan resminya, CAF menyebut mereka “mengutuk perilaku tidak dapat diterima dari sejumlah pemain dan ofisial”.

    “CAF sedang meninjau seluruh bukti visual dan akan menyerahkan kasus ini kepada badan yang berwenang untuk mengambil tindakan yang sesuai terhadap pihak-pihak yang dinyatakan bersalah,” demikian pernyataan CAF, Senin (19/1).

    Dengan penyelidikan yang kini berjalan, akhir dari Piala Afrika 2025 masih menyisakan tanda tanya besar, meski kecil kemungkinan gelar Senegal akan dicabut.

0