Peta sepakbola Indonesia akan menyambut nama baru sekaligus lama pada musim 2025/26: Bhayangkara Presisi Lampung FC. Transformasi ini bukan sekadar pemindahan markas dari Jakarta ke Lampung, tetapi juga penegasan identitas sebagai klub yang berada di bawah naungan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Langkah ini menandai babak baru bagi The Guardians dalam upaya mereka membangun basis suporter yang lebih kuat dan mengakar.
Namun, Bhayangkara FC bukanlah anomali di dunia sepakbola. Di berbagai negara, fenomena klub yang dimiliki atau berafiliasi erat dengan institusi kepolisian bukanlah hal asing. Tim-tim ini sering kali lahir dari tradisi panjang, membawa nama dan kehormatan korps mereka ke lapangan hijau, serta menjadi alat diplomasi publik yang efektif untuk mendekatkan lembaga penegak hukum dengan masyarakat.
Keberadaan mereka melahirkan berbagai kisah unik. Ada yang menjelma menjadi raksasa di liga domestik dan disegani di level kontinental, menjadi simbol kekuatan dan kebanggaan nasional. Namun, ada pula yang perjalanannya diwarnai kontroversi yang mencoreng nama institusi. Setiap klub memiliki cerita, tujuan, dan takdirnya masing-masing dalam lanskap sepakbola global yang terus berubah.
Dari Irak hingga Inggris, dari Thailand hingga Trinidad & Tobago, klub-klub polisi ini merefleksikan hubungan kompleks antara olahraga, negara, dan identitas. Bagaimana Bhayangkara FC berdiri di antara mereka dan seperti apa potret klub-klub polisi lainnya di seluruh dunia? GOAL coba menjelaskannya di sini!






