United top four favourites Getty/GOAL

ENAM Alasan Manchester United AKAN Finis Empat Besar Liga Inggris: Motivasi Michael Carrick & Pembuktian Kobbie Mainoo

Tantangan sesungguhnya bagi Michael Carrick dan Manchester United adalah menjaga standar yang mereka tunjukkan melawan tim terbaik kedua di Liga Inggris ketika mereka menghadapi tim terbaik, Arsenal, di Emirates Stadium, Minggu (25/1) besok. Yang lebih penting lagi, mereka harus tetap lapar dan fokus saat menjamu Fulham di kandang, sebelum melakoni laga tandang tengah pekan ke markas West Ham.

Carrick mungkin membuka periode keduanya sebagai manajer Setan Merah dengan mimpi indah, tetapi perjalanan menuju target krusial—lolos ke Liga Champions—baru saja dimulai, dan jalannya akan sangat panjang serta melelahkan. Liverpool, sang musuh bebuyutan, kini berada satu poin dan satu peringkat di atas Man United, tepat di urutan keempat yang menjamin tiket ke kompetisi elite Eropa itu.

Finis di peringkat kelima memang bisa saja cukup untuk mengamankan tiket Liga Champions, mengingat dominasi klub-klub Inggris di Eropa. Namun Man United tak boleh berjudi dengan nasib dan berharap pada hasil tim lain. Mereka sudah terlalu lama absen dari Liga Champions dan harus mengendalikan takdirnya sendiri.

Kegagalan Man United memanfaatkan terpelesetnya tim lain untuk menembus empat besar sempat membuat Roy Keane dan Jamie Carragher mencoret peluang mereka lolos Liga Champions bulan lalu. Namun itu terjadi saat Ruben Amorim masih berkuasa, dan kini Carrick sedang berselancar di atas gelombang optimisme. Keane memang meminta rekan-rekannya di Sky Sports untuk “tenang” setelah kemenangan monumental bekas timnya di derbi Manchester, tetapi rasi bintang mulai sejajar membuka jalan Man United membangun momentum dan merebut posisi empat besar.

GOAL menguraikan enam alasan mengapa Manchester United seharusnya, dan pada akhirnya akan, finis di empat besar Liga Inggris…

  • Manchester United v Manchester City - Premier LeagueGetty Images Sport

    'Nothing to lose'

    Jika dibandingkan Amorim, Carrick memang kalah karismatik. Namun ia justru tampil lebih berani secara taktik. Jika Man United terus merangkul jiwa petualang mereka, jalan menuju target akan terbuka lebih cepat karena kemenangan demi kemenangan bisa diraih.

    Para pembela Amorim kerap menyoroti fakta bahwa Man United hanya kalah sekali dalam delapan laga terakhir sebelum ia dipecat. Masalahnya, terlalu banyak poin terbuang karena hasil imbang di laga-laga yang seharusnya dimenangi. Amorim cenderung bermain aman dan jarang melakukan penyesuaian taktik di tengah laga, bahkan ketika kebutuhannya begitu nyata, seperti saat menghadapi Everton dengan 10 pemain, atau dalam hasil imbang melawan Wolves dan West Ham di Old Trafford.

    Yang benar-benar membakar semangat fans United pada derbi Manchester akhir pekan kemarin adalah bagaimana mentalitas tim kesayangan mereka bukan sekadar ingin mengalahkan Man City, tetapi ingin menghancurkan dan membungkam 'Si Tetangga Berisik'. Menekan habis-habisan adalah kunci untuk “menggilas” tim-tim yang lebih lemah. Dan meski pendekatan ini bisa membuat Man United sesekali kalah di laga yang mungkin berakhir imbang jika menggunakan pakem Amorim, hasil akhirnya hampir pasti menghadirkan poin yang jauh lebih banyak ketimbang bermain penuh kehati-hatian.

    Amorim mungkin mengira punya banyak waktu dan klub akan sabar dengannya. Sementara Carrick tahu betul posisinya selalu di ujung tanduk, mengingat Man United sudah mencari pelatih permanen. Satu-satunya harapannya untuk permanen menduduki kursi panas Old Trafford adalah membawa Man United kembali ke Liga Champions, dan bahkan itu pun belum tentu cukup. Artinya, ia sudah nothing to lose, sebuah kondisi yang mestinya bisa membuat timnya tampil lebih menggairahkan dan lebih berbahaya.

  • Iklan
  • Amad Diallo Bruno Fernandes Manchester United 2025-26Getty Images

    Pemain di posisi terbaik mereka

    Carrick tidak menampilkan manuver taktik brilian untuk menundukkan Man City. Perubahan paling sederhana dan paling masuk akal sudah cukup untuk mendorong Man United menuju kemenangan. Keputusan paling efektif adalah menempatkan Bruno Fernandes sebagai gelandang serang, bukan dalam peran lebih dalam seperti di era Amorim.

    Darren Fletcher sebelumnya juga memberi kebebasan kepada sang kapten untuk lebih maju dalam dua laga saat ia menjabat karteker. Dan pada derbi Manchester, untuk laga ketiga berturut-turut, Fernandes kembali mencatatkan assist. Ia tampil di level terbaiknya melawan Man City, menciptakan empat peluang emas. Meski ia pernah melakukan hal serupa di bawah Amorim, itu terjadi melawan Wolves yang levelnya jauh lebih rendah, bukan melawan salah satu tim terbaik di Eropa. Bahkan, tak ada pemain yang menciptakan peluang sebanyak itu melawan tim Pep Guardiola dalam satu dekade terakhir.

    Fernandes bukan satu-satunya pemain yang cemerlang di posisi alaminya. Amad Diallo kembali ke sayap kanan alih-alih dipaksa bermain sebagai wing-back, sehingga ia tak perlu berjibaku satu lawan satu dalam bertahan melawan Jeremy Doku seperti sebelumnya. Harry Maguire dan Lisandro Martinez juga diuntungkan dengan kembalinya skema empat bek, membentuk kerja sama palang pintu solid yang memastikan Erling Haaland tak mencatatkan satu pun tembakan.

  • Kobbie Mainoo Man UtdGetty

    Pembuktian Mainoo

    Satu lagi pemain yang bersinar ketika kembali dimainkan di peran yang lebih familiar adalah Kobbie Mainoo. Ia beroperasi dalam skema 4-2-3-1 yang dulu membawanya menembus tim utama di era Erik ten Hag. Bahkan sekadar melihat Mainoo berada di lapangan, apalagi masuk starting XI, terasa asing namun sangat melegakan, mengingat sikap Amorim yang seolah tak pernah benar-benar mempercayai gelandang timnas Inggris itu.

    Setelah sempat didorong hingga di ambang meninggalkan klub masa kecilnya oleh pelatih asal Portugal tersebut, Mainoo kembali merasa penting. Itu tercermin dari performa energik yang ia tampilkan, menjadi kunci dalam skema pressing agresif Man United, sekaligus memberi sentuhan flair saat menguasai bola. Menurut data Opta, Mainoo mencatat 77 pressing intens dalam laga itu—tertinggi keempat di antara seluruh pemain Man United sepanjang musim. Ia kini juga menempati posisi kedua dalam statistik pressing per 90 menit di Liga Inggris, hanya kalah dari pemain Everton Merlin Rohl.

    Penampilan melawan City menjadi bukti betapa kelirunya Amorim menepikan Mainoo begitu lama. Namun satu laga hebat tak serta-merta menjadikannya gelandang elite, konsistensi tetap menjadi indikator terpenting. Kabar baiknya, Mainoo kini punya kesempatan untuk membuktikan dirinya setelah terlalu lama dipinggirkan, dan ia tampak teramat lapar.

  • FBL-ENG-PR-MAN UTD-MAN CITYAFP

    Skuad berkekuatan penuh

    Amorim mungkin bisa beralasan bahwa nasib tak berpihak kepadanya di pekan-pekan terakhir masa jabatannya. Jarang-jarang Bruno Fernandes absen untuk periode yang agak lama, sementara Mainoo dan Mason Mount menyusul ke ruang perawatan, ditambah dengan Harry Maguire dan Matthijs de Ligt yang absen jangka panjang. Semua itu terjadi ketika Bryan Mbeumo, Amad, dan Noussair Mazraoui tengah berlaga di Piala Afrika 2025, membuat skuad Man United menipis drastis di pergantian tahun.

    Namun, di sisi lain, Amorim sebenarnya sempat menikmati skuad yang nyaris berkekuatan penuh selama empat bulan pertama musim 2025/26, tapi gagal memaksimalkannya.

    Carrick justru mendapat keberuntungan dengan kembalinya Mbeumo, Amad, Maguire, Martinez, Mount, dan Mainoo sejak laga pertamanya. Kehadiran mereka yang berkelanjutan hanya akan menambah keyakinan bahwa ia mampu membawa Man United menembus empat besar dan menjaga mereka tetap di sana.

    Mazraoui memang absen di derbi Manchester karena tengah mempersiapkan final Piala Afrika bersama Maroko, tetapi ia akan kembali saat menghadapi Arsenal. Itu berarti hanya De Ligt dan Joshua Zirkzee yang masih berada di ruang perawatan, dengan keduanya dijadwalkan pulih pada Februari. Jika tak ada cedera baru hingga saat itu, Carrick akan memasuki empat bulan terakhir musim dengan skuad yang sepenuhnya fit.

  • Manchester United v Manchester City - Premier LeagueGetty Images Sport

    Fokus tunggal

    Cedera memang bisa datang kapan saja, tetapi Carrick memiliki peluang lebih besar menjaga kebugaran tim dibanding para pesaingnya dalam perburuan empat besar. Alasannya sederhana saja: Man United hanya fokus pada Liga Inggris. Ironisnya, ini juga berkat Amorim, yang gagal membawa Man United ke kompetisi Eropa—pertama kalinya dalam 11 tahun—serta tersingkir dari Piala Liga dan Piala FA di laga pertama. Itu terakhir kali terjadi pada musim 1981/82.

    Man United akan memainkan jumlah laga paling sedikit dalam satu musim sejak sebelum Perang Dunia Pertama, hanya 40 pertandingan. Jadwal ringan ini memberi Carrick keuntungan besar atas para rival yang juga membidik Liga Champions. Arsenal, Man City, Liverpool, Chelsea, dan Newcastle United masih bertarung di Piala FA dan Liga Champions, dengan Newcastle, Chelsea, Arsenal dan Man City masih akan menjalani satu laga ekstra di Piala Liga, dua jika salah dua dari mereka lolos ke final.

    Aston Villa juga masih memiliki komitmen di Liga Europa dan Piala FA. Dari para pesaing realistis Man United untuk empat besar, hanya Everton yang—seperti Setan Merah—berpartisipasi di satu kompetisi.

    Artinya, skuad Man United berpotensi lebih segar dibanding yang lain, sekaligus memiliki waktu latihan lebih panjang untuk menyiapkan rencana pertandingan secara detail.

  • Liverpool v Burnley - Premier LeagueGetty Images Sport

    Rival yang sedang rapuh

    Musim ini menghadirkan persaingan paling ketat dalam perburuan Liga Champions sepanjang sejarah Liga Primer Inggris. Hanya enam poin yang memisahkan Liverpool di peringkat keempat dengan Brighton di posisi ke-12. Artinya, tak ada lawan yang bisa diremehkan, dan itu pelajaran yang dipetik Man United setelah gagal mengalahkan semua tim di enam terbawah setidaknya sekali.

    Namun kondisi itu juga menandakan bahwa setiap tim di sekitar mereka punya masalah. Arsenal, Man City, dan Aston Villa tampak hampir pasti mengamankan tiga besar dan tiket Liga Champions. Posisi keempat dan kelima, sebaliknya, terbuka lebar.

    Liverpool gagal menang dalam empat laga liga terakhir, membuat posisi Arne Slot mulai terancam. Chelsea, yang berada satu poin dan satu peringkat di bawah Man United, sedang turbulensi karena ganti pelatih dan kini ditangani sosok muda nan hijau dalam diri Liam Rosenior, dengan skuad bertalenta namun tak seimbang dan minim pengalaman.

    Brentford di posisi ketujuh adalah kejutan musim ini. Fakta bahwa The Bees ikut dalam percakapan empat besar saja sudah merupakan pencapaian luar biasa, mengingat ini musim pertama Keith Andrews sebagai pelatih dan ia kehilangan banyak pemain pilar di musim panas, termasuk dua pencetak gol teratas dan sang kapten. Namun Brentford telah kalah dalam 40 persen laga mereka dan nyaris tak punya pengalaman bersaing untuk tiket Eropa.

    Newcastle, yang punya poin yang sama dengan Brentford di urutan kedelapan, kesulitan menjaga konsistensi setelah terkuras oleh jadwal Liga Champions. Sunderland, juga dengan 33 poin, tak memiliki kualitas murni untuk mempertahankan laju empat besar. Adapun Everton, Fulham, dan Brighton di bawah mereka tampak memiliki terlalu banyak kekurangan untuk bisa menyusun rentetan kemenangan yang konsisten.

0