Dalam wawancara eksplosif bersama The Times, Borini tak menahan diri saat menceritakan tekanan emosional dan fisik yang ia alami di bulan-bulan terakhirnya di Italia.
“Orang-orang terdekat saya tahu betapa sulitnya situasi itu, karena direktur klub sudah mengambil keputusan yang sangat keras bahkan sebelum bertemu saya,” ujarnya. “Dia memutuskan saya bukan pemain yang tepat, saya tidak ini, tidak itu, saya sumber masalah di ruang ganti—padahal kenyataannya justru sayalah yang menjaga ruang ganti tetap solid di masa-masa sulit. Pengalaman saya membuat saya bisa melakukan itu.”
“Saya bahkan siap menggugat klub. Saya punya semua dokumen yang diperlukan untuk melakukannya, karena mereka tidak boleh membuat saya berlatih sendirian di waktu berbeda, tanpa makanan, tanpa keterlibatan dengan tim—semua hal kecil itu. Itu sangat menguras batin saya,” lanjutnya.
“Saya sempat bicara dengan seorang teman yang juga pernah di Sampdoria dan mengalami hal sama. Dia bilang, ‘Saya merasa mulai sembuh setelah angkat kaki.’ Dan kemarin saya mengiriminya pesan, bilang, ‘Saya mulai merasakan perasaan-perasaan itu lagi.’ Karena ini proses yang panjang.”