GFX Brahim Diaz Luis EnriqueGetty/GOAL

"Jangan Lebay, Dia Bukan Pembunuh Bayaran!" - Brahim Diaz Dibela Luis Enrique Usai Bintang Real Madrid Itu Gagal Penalti Panenka Di Final Piala Afrika

  • Bos PSG pasang badan untuk Brahim Diaz

    Heboh-heboh yang terjadi di final Piala Afrika 2025 antara Maroko dan Senegal, Senin (19/1) kemarin, masih terus menggema. Bintang Real Madrid Brahim Diaz berada di pusaran badai kritik akibat nekat mengeksekusi penalti dengan teknik Panenka di masa injury time. Eksekusi tersebut dengan mudah diamankan kiper Senegal Edouard Mendy, dan akhirnya menjadi titik balik yang menggagalkan ambisi Maroko mengangkat trofi kampiun Afrika di tanah air sendiri, setelah Senegal bertahan dari tekanan dan memastikan kemenangan 1-0 lewat gol Pape Gueye di babak tambahan waktu.

    Namun, di tengah banjir kritik yang diarahkan kepada pemain berusia 25 tahun itu, mantan pelatihnya di timnas Spanyol, Luis Enrique, turun tangan untuk memberikan pembelaan. Dalam sebuah konferensi pers, pria yang kini menukangi PSG itu mengakui penalti tersebut memang “aneh” dan “sulit diterima” bagi masyarakat Maroko, tetapi ia menolak keras narasi yang menyerang karakter sang pemain. Ia meminta publik melihat sisi manusiawi sang pemain. Diaz terpaksa menunggu sangat lama sebelum menendang penalti akibat aksi mogok main skuad Singa Teranga, julukan timnas Senegal. Jeda waktu tersebut dinilai menguras mental dan meningkatkan tekanan psikologis.

    “Semua orang bisa melihat itu. Tapi ini cuma olahraga, tidak lebih,” ujar Enrique. “Menang atau kalah, tak ada yang akan terjadi. Yang penting adalah nilai yang kita berikan kepada generasi muda. Jangan berlebihan, dia bukan pembunuh bayaran atau pun orang jahat. Kita harus menghargai betapa sulitnya berada di posisi pemain muda dengan tekanan sebesar ini.”

  • Iklan
  • TOPSHOT-FBL-AFR-2025-MATCH 52-SEN-MARAFP

    Belajar dari Zidane dan Ramos

    Lebih jauh, Enrique menempatkan teknik Panenka dalam konteks sejarah sepakbola. Ia menegaskan bahwa Diaz bukan pemain pertama yang nekat melakukan teknik cungkil di panggung sebesar final Piala Afrika. Ia mencatat bahwa narasi seputar teknik Panenka sepenuhnya bergantung pada apakah bola masuk atau tidak. Saat berhasil, aksi itu dipuja sebagai kegeniusan berdarah dingin; namun dicap sebagai keangkuhan konyol saat gagal.

    “Saya ingat Zinedine Zidane, yang merupakan dewa sepakbola, melakukan Panenka di [final] Piala Dunia,” ucap Enrique, merujuk pada gol ikonik Zidane pada final PD 2006 ke gawang Italia. “Saya juga ingat Sergio Ramos melakukan Panenka di laga-laga yang sangat penting. Banyak pemain hebat pernah melakukannya.”

    Mantan arsitek Barcelona itu juga menyentil standar ganda yang kerap ditemui dalam analisis sepakbola. "Kalau gol, tidak ada yang komplain, semua orang malah bertepuk tangan," tegasnya. "Tapi begitu gagal, semua orang langsung menghujat pemain tersebut, padahal dia pemain yang fenomenal."

  • Sergio Ramos kirim pesan dukungan

    Dukungan untuk Diaz juga mengalir dari Sergio Ramos, sosok yang paham betul rasanya memikul beban berat di Real Madrid. Ia memberikan dukungan moral secara terbuka kepada mantan rekan setimnya itu. Ramos sendiri pernah mengalami pahit-getirnya eksekusi penalti; tendangannya sempat melambung jauh melawan Bayern Munchen di semifinal Liga Champions sebelum akhirnya sukses menebusnya dengan teknik Panenka melawan Portugal di Euro 2012.

    Lewat media sosial, sang legenda menulis: "Tetap tegakkan kepalamu, bro. Sepakbola selalu menawarkan kesempatan untuk balas dendam, dan kamu sudah memberikan jauh lebih banyak kepada kami daripada apa yang gagal hari ini..."

    Bantuan dari Ramos punya dampak besar. Sebagai salah satu pemain paling berprestasi sepanjang sejarah, dukungannya terhadap karakter Diaz mementahkan narasi bahwa sang pemain "tidak menghormati" lawan. Pesan Ramos mempertegas bahwa dedikasi panjang bagi tim tidak boleh dihapuskan oleh satu momen apes saja, sembari memotivasi Diaz untuk menjadikan rasa sakit di Rabat sebagai pelecut semangat di masa depan.

  • FBL-EUR-C1-ATHLETIC BILBAO-PSGAFP

    Kedekatan Luis Enrique dan Diaz

    Pembelaan Luis Enrique dilandasi oleh hubungan emosional yang sudah terjalin jauh sebelum Diaz memilih membela Maroko. Enrique-lah yang memberikan debut internasional senior bagi Diaz di timnas Spanyol pada 2021 lalu, setelah terus memantau perkembangannya sejak di tim junior. Meski akhirnya Diaz memilih berseragam Singa Atlas, Enrique tetap menaruh hormat tinggi pada bakat dan kepribadiannya.

    "Dia pemain yang luar biasa dan pribadi yang sangat baik," tegas Luis Enrique. "Sangat tidak adil melihatnya diperlakukan seperti itu."

0