AFPDennis Bergkamp Ungkap Memori Piala Dunia, Gol Magis Ke Gawang Argentina, Dan Prediksi Belanda di 2026
Nostalgia Sang Maestro di Panggung Terbesar
Legenda sepakbola Belanda, Dennis Bergkamp, baru-baru ini melakukan wawancara eksklusif bersama FIFA untuk bernostalgia tentang kiprahnya di panggung terbesar dunia. Dikenal karena keanggunan, ketajaman, dan kemampuannya mencetak gol luar biasa, Bergkamp sukses menorehkan enam gol dalam 12 pertandingan Piala Dunia dan masuk dalam jajaran legenda besar sepakbola.
Dalam perbincangan tersebut, sang maestro membahas perjalanan kariernya dari debut internasional pada 1990 hingga momen-momen krusial di Piala Dunia 1994 dan 1998. Ia juga memberikan pandangannya mengenai kondisi tim nasional Belanda saat ini yang bersiap menghadapi turnamen mendatang di bawah arahan pelatih Ronald Koeman.
AFPGenerasi Emas Oranje dan Kutukan Penalti
Bagi Bergkamp, Piala Dunia adalah panggung tertinggi yang memberikan kebanggaan sekaligus kepercayaan diri ekstra bagi seorang pemain. Ia merefleksikan era keemasan Belanda di tahun 1990-an, di mana skuad Oranje yang bertabur bintang tampil memukau, namun harus tersingkir secara menyakitkan oleh Brasil di perempat-final 1994 dan semi-final 1998.
Meski Belanda konsisten menghasilkan pemain kelas dunia, Bergkamp menyoroti ironi kegagalan mereka meraih trofi juara, terutama karena seringnya kalah di babak adu penalti. Menurutnya, hal ini bukan sekadar nasib sial semata, melainkan ada indikasi kekurangan pada mentalitas dan determinasi akhir tim untuk benar-benar menuntaskan sebuah pertandingan krusial.
Momen Magis '98 dan Harapan Kuda Hitam 2026
Mengenang memori pertamanya soal Piala Dunia, Bergkamp menyebut laga final 1978 antara Belanda dan Argentina sebagai pengalaman yang membekas. "Panggungnya besar, pertandingan besar, final—gambaran sepakbola di televisi itu terus melekat di pikiran saya," ujarnya mengingat momen saat orang tuanya membangunkannya untuk menonton laga tersebut.
Terkait gol spektakulernya di menit akhir ke gawang Argentina pada perempat-final 1998, ia tanpa ragu menyebutnya sebagai gol favoritnya sepanjang masa. "Melakukannya di panggung sebesar itu, di perempat-final, melawan salah satu tim terbesar, dengan cara yang saya lakukan—itu menjadikannya gol favorit saya. Itu adalah momen saya," kenang Bergkamp.
Ia juga menyinggung kekalahan menyesakkan dari Brasil di semi-final 1998. Menurutnya, skuad saat itu adalah salah satu tim Belanda terbaik sepanjang masa yang dibangun dengan rasa kebersamaan tinggi. "Kalah saat pertandingan berjalan sangat ketat karena sedikit nasib buruk, itulah yang membuatnya benar-benar membuat frustrasi," jelasnya.
Menjawab pertanyaan apakah kegagalan beruntun Belanda murni karena ketidakberuntungan, eks bintang Arsenal itu merespons dengan tegas, "Tidak, ini jelas bukan hanya soal keberuntungan." Ia menyadari bahwa meski Belanda kerap menembus final dan semi-final, timnya kadang kehilangan insting pembunuh di langkah terakhir.
Mengenai peluang skuad Oranje di Piala Dunia mendatang, ia menaruh harapan positif kepada mantan rekan setimnya. "Saya mengenal Ronald Koeman dengan baik, ia pelatih yang bagus. Ia memberi para pemain banyak kepercayaan diri dan rasa percaya," tuturnya.
"Belanda memang bukan favorit utama, tetapi mereka adalah kuda hitam yang sangat kuat dan bisa melaju jauh. Jika para pemain fit dan dalam performa terbaik, mereka bisa melakukan sesuatu yang spesial," pungkasnya.
AFPSang Bintang Patah Hati
Bergkamp merupakan lulusan akademi Ajax yang sukses menyarangkan 37 gol dari 79 penampilan bersama timnas Belanda. Menariknya, ia bermain di lima turnamen besar sepanjang kariernya, dan empat di antaranya harus berakhir dengan kekalahan pahit lewat adu penalti.
Piala Dunia 1998 di Prancis menjadi salah satu panggung terbaiknya. Ia memulai turnamen dalam kondisi cedera setelah bermain di Liga Primer, namun perlahan bangkit hingga puncaknya mencetak gol ke gawang Argentina yang kini diakui secara luas sebagai salah satu gol terhebat dalam sejarah sepakbola.
Tantangan Kedalaman Skuad
Tantangan terbesar Belanda di turnamen mendatang adalah soal kedalaman skuad. Bergkamp memperingatkan bahwa untuk memenangkan Piala Dunia, sebuah tim tidak bisa hanya mengandalkan 11 pemain utama, melainkan butuh 16 hingga 20 pemain yang kualitasnya merata.
Kebugaran pemain setelah melewati musim yang panjang dan padat akan menjadi kunci utama. Jika skuad asuhan Koeman mampu menjaga kondisi fisik dan mental mereka di tengah padatnya jadwal perjalanan dan pertandingan ekstra, Belanda memiliki potensi besar untuk menaklukkan rintangan di turnamen mendatang.
Iklan