Itu adalah malam yang tak sama dengan malam mana pun sepanjang musim Al Nassr, bukan hanya karena hasil akhir yang berujung kekalahan 0-4 tanpa balas, tetapi karena hampir segala hal di dalam tim Saudi itu tampak terbaca jelas oleh mata Al Ain.
Lini-lini yang berjauhan, ruang-ruang yang terbuka, pertahanan yang melakukan kesalahan, dan serangan yang tak mampu menciptakan reaksi nyata, sementara tuan rumah bergerak seakan sudah tahu sebelumnya di mana celah berikutnya akan muncul.
Di Stadion Hazza bin Zayed, Al Ain tak butuh banyak percobaan untuk mengubah kesalahan Al Nassr menjadi gol, dan sihir Maroko hadir dengan kuat melalui Hussein dan Soufiane Rahimi, yang memainkan peran utama pada malam ketika kembalinya Cristiano Ronaldo ke Liga Champions Elite Asia berubah menjadi kejatuhan yang menggema.
Namun, kekalahan empat gol dari Al Ain bukan sekadar hasil berat yang bisa dilewati dengan melihat jadwal pertandingan atau tekanan musim, melainkan menyimpan dalam detail-detailnya pertanyaan-pertanyaan yang lebih serius tentang wujud Al Nassr, identitas tim, dan kemampuannya untuk bersaing ketika kualitas lawan meningkat. Sebab masalahnya tak lagi terletak pada satu pertandingan, dan alasan-alasan tak lagi cukup untuk menutupi bencana.
Anda dapat mendiskusikan topik dan berita secara lebih mendalam di forum "Kooora"



