AFP
AFPBarcelona remuk di Madrid
Barcelona kalah mengenaskan di ibu kota Spanyol dan kini menghadapi tugas berat untuk lolos ke final Copa del Rey. Kekalahan 4-0, dengan semua gol dicetak di babak pertama, di markas Atletico Madrid menunjukkan bagaimana tim asuhan Diego Simeone memanfaatkan performa Barcelona yang tidak padu, terutama di babak pertama ketika tim tamu tampak kehilangan koordinasi.
Pembantaian diawali pada menit ketujuh via blunder fatal kiper Barca Joan Garcia, yang gagal mengontrol back-pass Eric Garcia sehingga bola meluncur bebas ke dalam gawangnya. Hanya butuh tujuh menit lagi untuk Los Rojiblancos menggandakan skor, ketika Antoine Griezmann menerima bola nyaris tanpa kawalan di kotak penalti dan menjebol gawang Garcia.
Rekrutan musim dingin Ademola Lookman meneruskan start gemilangnya di Metropolitano dengan menyelesaikan serangan balik terukur armada Simeone pada menit ke-33, sebelum memberi assist untuk mengakhiri paceklik gol Julian Alvarez pada penghujung babak.
Hansi Flick secara terbuka mengakui timnya gagal melakukan pressing secara efektif dan menjaga jarak antarlini, sehingga memberi keleluasaan bagi tuan rumah untuk mengendalikan permainan. Meski skor akhir terlihat amat telak, jalannya laga sempat menunjukkan potensi cerita berbeda. Barca tampil lebih solid di babak kedua dan sempat mencetak gol sebelum momentum mereka terhenti akibat keputusan kontroversial VAR. Sebagai juara bertahan, Blaugrana kini berada dalam posisi genting dan membutuhkan penampilan hampir sempurna di leg kedua untuk membalikkan defisit empat gol.
AFPVAR 'nge-hang'
Pau Cubarsi sebenarnya berhasil menyarangkan bola ke gawang kawalan Juan Musso untuk memperkecil ketertinggalan, namun gol tersebut dianulir setelah proses tinjauan VAR yang memakan waktu sampai delapan menit.
Komite Teknis Wasit Spanyol (CTA) kemudian mengakui adanya eror yang menyebabkan lamanya waktu pemeriksaan. Dalam pernyataan CTA yang dilansir Mundo Deportivo, sistem offside semi-otomatis diklaim mengalami gangguan akibat banyaknya jumlah pemain di dalam kotak penalti saat momen gol terjadi.
Pernyataan tersebut berbunyi: “Terkait situasi yang menghasilkan gol FC Barcelona yang kemudian dianulir, dalam proses evaluasi dan sesuai protokol, tim VAR melakukan analisis menggunakan sistem offside semi-otomatis (SAOT). Dalam analisis tersebut terdeteksi bahwa sistem mengalami kegagalan dalam pemodelan pemain melalui kerangka, setelah mendeteksi situasi dengan kepadatan pemain yang tinggi."
"Setelah mencoba melakukan kalibrasi ulang terhadap sistem pemodelan dan memastikan bahwa hal tersebut tidak memungkinkan, sesuai prosedur yang berlaku, tim VAR kemudian melanjutkan dengan menggambar garis offside secara manual untuk mengambil keputusan akhir yang benar."
"Oleh karena itu, dan secara pengecualian, proses peninjauan insiden tersebut memakan waktu lebih lama dari biasanya serta membuat tayangan ulang tidak dapat diberikan kepada produksi televisi, karena sistem SAOT tidak dapat digunakan.”
Meski CTA menyatakan keputusan akhir sudah “benar”, insiden ini memicu perdebatan luas tentang keandalan teknologi perwasitan dalam pertandingan berisiko tinggi.
Getty Images SportFlick amuk teknologi wasit
Fokus utama Flick tertuju pada lamanya proses VAR tersebut. Ia menyebut situasi itu sebagai “kekacauan” yang merusak ritme pertandingan.
“Bisa-bisanya menunggu sampai tujuh menit, yang benar saja!” ujar Flick dengan nada frustrasi, dilansir Marca. "Sepenglihatan saya, sudah jelas tidak offside. Mungkin mereka melihat sesuatu yang berbeda, kalau iya ya sampaikan pada kami! Sama sekali tidak ada komunikasi. Jelek sekali."
Selain itu, Flick menilai standar wasit sejak awal laga sudah bermasalah, terutama ketika Alejandro Balde dilanggar. Ia menambahkan: "Dari kartu kuning, pelanggaran pertama terhadap Balde harusnya [kartu kuning], pertandingan akan berbeda andai wasit mengeluarkan kartu."
"Dengan tidak memberi kartu, dia seolah mengundang mereka untuk bermain seperti ini (bermain keras). Kacau sih, asli."
Getty Images SportTetap percaya pada skuad Barcelona
Meski kalah telak, Flick tetap membela para pemainnya. Ia menegaskan bahwa skor 4-0 memang “kekalahan yang menyakitkan”, tetapi ia tidak kecewa dengan karakter maupun usaha timnya.
"Permainan kami tak bagus di babak pertama, kami tak bermain sebagai satu kesatuan tim," imbuh mantan manajer Bayern Munich & timnas Jerman tersebut. "Jarak antara mereka dan kami besar sekali, kami tidak melakukan pressing. Di 45 menit pertama, kami mendapat pelajaran berharga. Kami lebih baik di penghujung laga."
"Saya tak kecewa dengan tim ini, saya senang dengan tim ini musim ini. Ada banyak cedera, dan kalah adalah bagian dari permainan. Ini kekalahan yang menyakitkan tapi saya bangga pada anak-anak. Kami harus belajar, mereka lebih lapar mencetak gol. Dan saya ingin kami seperti itu. Kami gagal melakukannya di 45 menit pertama. Tim ini memang masih muda, tapi saya emoh kebanyakan alasan."
(C)Getty ImagesMisi 'remontada' di Camp Nou
Kini fokus beralih ke leg kedua di Camp Nou yang baru digelar 4 Maret mendatang. Barca harus melakukan sesuatu yang hampir mustahil demi lolos, tapi toh mereka pernah comeback alias remontada dari situasi serupa, yakni ketika mengalahkan Paris Saint-Germain 6-1 (agregat 6-5) usai kalah 4-0 pada leg pertama 16 besar Liga Champions 2016/17.
"Masih ada dua babak lagi dan kami akan berjuang. Kalau menang 2-0 di setiap babak... kami membutuhkan dukungan para penggemar di kandang," pungkas Flick.
Iklan



