Ada momen-momen dalam sepak bola yang melampaui batas kemenangan dan kekalahan, dan tetap terukir dalam ingatan olahraga ini betapa pun generasi terus berganti.
Momen ketika salah satu bintang berdiri di hadapan dunia, setelah berhasil mengungguli para pesaingnya dan menuliskan namanya dalam catatan para pemain besar, lalu menggenggam sebuah bola emas di tangannya, sesuatu yang telah lama menjadi impian setiap pemain dan ambisi yang diperjuangkan para bintang besar sejak awal karier mereka.
Selama puluhan tahun, penghargaan ini terus dikaitkan dengan nama-nama yang menciptakan kejayaan sepak bola, dan berubah dari sekadar penghormatan tahunan menjadi simbol kejayaan individu, yang selalu memunculkan perdebatan baru dan menyulut persaingan, hingga meraihnya menjadi penanda penting dalam perjalanan karier seorang pemain, serta bukti yang dijadikan pegangan para pendukungnya ketika membandingkannya dengan legenda masa lalu dan masa kini.
Namun di balik gemerlap lampu yang mengelilingi acara penghargaan, jas-jas elegan yang dikenakan para bintang, dan lensa kamera yang menanti momen penyerahan trofi, ada kisah lain yang tidak mendapat perhatian sebesar itu, kisah yang dimulai lebih dari 7 dekade lalu, dan sepanjang waktu itu penghargaan ini terus berkembang dalam bentuk maupun kedudukannya, sejalan dengan perubahan yang dialami sepak bola itu sendiri.
Jadi, apa rahasia di balik jimat yang diperebutkan para bintang terbaik dunia ini? Bagaimana ia dibuat hingga menjadi salah satu simbol olahraga paling terkenal sepanjang masa? Berapa nilai sebenarnya, dan keuntungan apa yang bisa diraih pemain yang berhasil menambahkan namanya ke dalam daftar penerimanya? Pertanyaan-pertanyaan yang membuka pintu untuk menyingkap sisi lain dari Ballon d'Or, bertepatan dengan semakin dekatnya jadwal baru untuk menentukan siapa yang akan duduk di takhta pemain terbaik dunia.

