Dunia sepakbola kembali menyajikan kisah dongeng yang menakjubkan, kali ini datang dari negara termiskin di Benua Amerika, Haiti. Di tengah krisis kemanusiaan, politik, dan keamanan yang melumpuhkan negara tersebut, tim nasional mereka berhasil mencetak sejarah dengan lolos ke Piala Dunia 2026. Tiket menuju Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada diraih setelah kemenangan meyakinkan 2-0 atas Nikaragua dalam laga penentuan.
Namun, sorotan utama bukan hanya pada keberhasilan para pemain di lapangan, melainkan sosok di balik layar: Sebastien Migne. Pelatih asal Prancis berusia 52 tahun ini berhasil meracik strategi dan membangun tim yang solid tanpa pernah sekalipun menginjakkan kakinya di tanah Haiti sejak ditunjuk 18 bulan lalu. Situasi keamanan yang ekstrem memaksa Migne mengelola timnas dari jarak jauh, sebuah tantangan yang hampir mustahil bagi pelatih manapun.
Kondisi dalam negeri Haiti yang dikuasai oleh geng-geng bersenjata, terutama di ibu kota Port-au-Prince, membuat penerbangan internasional terhenti dan risiko penculikan sangat tinggi. Akibatnya, laga kandang Haiti harus dimainkan sejauh 500 mil di Curacao. Meski terpisah jarak dan kendala logistik, semangat "Les Grenadiers" tidak surut untuk memberikan kebahagiaan bagi rakyat yang menderita.
Keberhasilan ini menjadi oase di tengah gurun penderitaan rakyat Haiti yang telah lama menanti kabar baik. Lolosnya Haiti ke Piala Dunia untuk kedua kalinya sejak 1974 bukan sekadar prestasi olahraga, melainkan simbol harapan dan ketahanan sebuah bangsa. Migne dan anak asuhnya kini menjadi duta besar bagi negara yang sangat membutuhkan alasan untuk merayakan sesuatu di tengah kekacauan.





