Dua pesawat carteran mendarat di Kingston, membawa pendukung paling fanatik Curacao yang disebut oleh kapten Leandro Bacuna sebagai "ultras" mereka. Misinya jelas: memberikan dukungan penuh dalam laga kualifikasi yang menentukan di National Stadium, Jamaika. Malam itu bukan sekadar pertandingan sepakbola biasa, melainkan sebuah ambang pintu menuju sejarah baru bagi sebuah pulau kecil di Karibia.
Di tengah lautan pendukung tuan rumah yang berjumlah 35.000 orang dengan atribut kuning yang mendominasi stadion, sekelompok kecil pendukung Curacao mengibarkan bendera biru mereka dengan bangga. Enklave kecil pemberontakan ini menjadi saksi bisu bagaimana tim nasional mereka bertarung mati-matian untuk mengamankan tiket ke panggung sepakbola terbesar di dunia.
Hasil imbang yang diraih dengan susah payah malam itu sudah cukup untuk memastikan Curacao melangkah ke Piala Dunia 2026. Pencapaian ini sekaligus menobatkan mereka sebagai negara terkecil yang pernah lolos ke putaran final Piala Dunia dengan populasi hanya sekitar 185.000 jiwa. Mereka berhasil melampaui rekor yang sebelumnya dipegang oleh Islandia pada Piala Dunia 2018, sebuah prestasi yang terasa mustahil bagi banyak pengamat sepakbola.
Keberhasilan ini mengubah mimpi menjadi kenyataan bagi warga pulau tersebut. Perayaan pun tumpah ruah, tidak hanya di tribun stadion di Kingston, tetapi juga di jalanan Curacao. Sebuah petualangan sepakbola yang luar biasa telah mencapai puncaknya, membuktikan bahwa ukuran sebuah negara bukanlah penghalang untuk berprestasi di level tertinggi.





