FBL-EUR-C1-TOTTENHAM-FRANKFURTAFP

Aturan Liga Champions: Beli Pemain Januari, Bisakah Langsung Diturunkan?

Bursa transfer Januari selalu menjadi periode yang sibuk bagi klub-klub top Eropa untuk memperbaiki kedalaman skuad mereka. Dengan jadwal kompetisi yang semakin padat, kedatangan pemain baru sering kali dianggap sebagai solusi instan untuk mendongkrak performa tim, baik di liga domestik maupun di panggung antarklub Eropa. Ekspektasi penggemar pun melambung tinggi, berharap bintang anyar bisa langsung menjadi pembeda di lapangan.

Namun, realitas regulasi UEFA sering kali berbeda dengan harapan tersebut. Banyak yang belum menyadari bahwa otoritas sepakbola Eropa memiliki aturan spesifik mengenai kapan seorang pemain baru bisa didaftarkan dan dimainkan. Hal ini menjadi krusial mengingat format baru kompetisi Eropa yang kini menggunakan sistem fase liga, bukan lagi fase grup tradisional, yang menyisakan pertandingan hingga akhir Januari.

Secara garis besar, klub tidak bisa serta-merta menurunkan rekrutan musim dingin mereka dalam laga-laga sisa fase liga yang berlangsung di bulan Januari. Ada mekanisme pendaftaran ulang yang memiliki tenggat waktu ketat dan persyaratan tertentu. Hal ini memaksa manajer untuk tetap memutar otak dengan skuad lama mereka untuk menyelesaikan kewajiban pertandingan di fase awal kompetisi sebelum bisa menyuntikkan darah segar.

Aturan ini tidak hanya berlaku eksklusif untuk Liga Champions, melainkan juga diterapkan secara seragam di Liga Europa dan Liga Konferensi Eropa. Memahami detail regulasi ini sangat penting untuk menakar peluang sebuah tim yang sedang berburu tiket ke babak gugur. Apakah belanja besar di Januari akan berdampak instan, atau justru pemain mahal tersebut hanya akan menjadi penonton setia di pinggir lapangan untuk sementara waktu?

  • Larangan Bermain di Sisa Pertandingan Fase Liga

    Berdasarkan regulasi yang berlaku, pemain yang direkrut pada jendela transfer Januari tidak akan tersedia untuk dimainkan hingga fase liga kompetisi benar-benar berakhir. Klub peserta Liga Champions saat ini masih menyisakan satu pertandingan fase liga yang sangat menentukan sebelum melangkah ke babak 16 besar. Artinya, para rekrutan anyar harus "diparkir" dulu dan tidak bisa membantu tim di laga-laga krusial tersebut.

    Dampak dari aturan ini langsung dirasakan oleh raksasa Inggris, Manchester City. Mereka dipastikan tidak bisa menurunkan dua rekrutan anyar, Antoine Semenyo dan Marc Guehi, dalam waktu dekat. City harus menjalani pertandingan terakhir fase liga melawan Galatasaray tanpa kehadiran dua pemain tersebut, meski mereka sudah resmi bergabung dengan klub.

    Situasi serupa juga dihadapi oleh Tottenham Hotspur di bawah asuhan pelatih Thomas Frank. Gelandang baru mereka, Conor Gallagher, dipastikan tidak akan tersedia untuk diturunkan dalam laga berat melawan Eintracht Frankfurt. Gallagher harus bersabar menunggu hingga seluruh rangkaian pertandingan fase liga tuntas sebelum bisa mengenakan seragam Spurs di kancah Eropa.

    Kebijakan ini dibuat untuk menjaga integritas kompetisi selama fase liga berlangsung. UEFA ingin memastikan bahwa tim yang memulai fase liga memiliki komposisi yang relatif sama hingga fase tersebut selesai. Oleh karena itu, strategi transfer klub di bulan Januari lebih ditujukan sebagai investasi untuk babak gugur yang akan dimulai pada Februari, bukan sebagai penyelamat instan di sisa fase liga.

  • Iklan
  • Tenggat Waktu dan Kuota Maksimal Pemain Baru

    Setelah fase liga berakhir, UEFA baru membuka pintu bagi klub untuk melakukan perubahan pada skuad mereka yang terdaftar. Klub diberikan kesempatan untuk mendaftarkan pemain baru dengan batas waktu terakhir pada Kamis, 5 Februari. Lewat dari tanggal tersebut, tidak ada lagi penambahan atau perubahan nama yang diizinkan untuk sisa kompetisi musim ini.

    Namun, kebebasan mendaftarkan pemain ini tidak bersifat tanpa batas. UEFA menetapkan aturan ketat bahwa setiap klub hanya boleh mendaftarkan maksimal tiga pemain baru yang memenuhi syarat untuk masuk ke dalam skuad Daftar A (List A). Aturan ini memaksa klub untuk sangat selektif di bursa transfer, karena tidak semua pemain yang dibeli bisa didaftarkan jika jumlahnya melebihi kuota tiga orang.

    Batasan kuota ini sering kali menimbulkan dilema manajerial yang pelik. Jika sebuah klub sangat agresif di bursa transfer dan mendatangkan empat atau lima pemain bintang, pelatih harus mengambil keputusan kejam dengan mencoret beberapa nama dari daftar skuad Eropa. Pemain yang dicoret tersebut hanya akan bisa bermain di kompetisi domestik, sebuah situasi yang tentu tidak ideal bagi moral pemain maupun investasi klub.

    Regulasi ini dirancang untuk mencegah klub-klub kaya merombak total tim mereka di tengah musim, yang dapat merusak keseimbangan kompetisi. Dengan hanya tiga slot tambahan, kesinambungan tim tetap terjaga. Klub harus benar-benar menghitung kebutuhan taktis mereka: apakah mereka butuh bek, gelandang, atau penyerang untuk mengisi tiga slot berharga tersebut menuju babak gugur.

  • FK Bodo/Glimt v Manchester City - UEFA Champions League 2025/26 League Phase MD7Getty Images Sport

    Pengecualian Khusus Daftar B: Kasus Max Alleyne

    Meski aturan umum sangat ketat, terdapat celah regulasi yang bisa dimanfaatkan klub, seperti yang terlihat pada kasus Max Alleyne di Manchester City. Meski baru dipanggil kembali dari masa peminjaman di Watford pada Januari, Alleyne ternyata diperbolehkan untuk langsung bermain di kompetisi Eropa. Hal ini berbeda dengan nasib Semenyo atau Guehi.

    Kunci dari pengecualian ini terletak pada status pendaftaran pemain. UEFA membagi skuad menjadi Daftar A (tim utama) dan Daftar B (pemain muda). Max Alleyne memenuhi syarat untuk masuk dalam Daftar B (List B), yang berisi pemain muda kelahiran setelah 1 Januari 2004. Daftar ini lebih fleksibel dan memungkinkan pendaftaran pemain di luar batas waktu ketat Daftar A.

    Agar memenuhi syarat Daftar B, seorang pemain tidak hanya harus muda, tetapi juga harus menghabiskan waktu di klub tersebut dalam periode yang cukup. Alleyne memenuhi kriteria ini karena ia berusia 20 tahun dan telah menghabiskan tiga tahun berturut-turut di Manchester City. Statusnya sebagai pemain binaan klub memberinya keistimewaan administratif.

    Selain itu, masa peminjamannya di Watford tidak menggugurkan statusnya. Aturan UEFA menyebutkan bahwa peminjaman ke klub dalam satu asosiasi nasional yang sama dengan durasi maksimal satu tahun tidak menghapus kelayakan pemain masuk Daftar B. Ini menjadi keuntungan strategis bagi klub dengan akademi kuat, di mana "memulangkan" pemain muda bisa menjadi solusi darurat yang legal dan cepat.

  • Struktur Skuad dan Kuota Pemain Lokal

    Dalam proses pendaftaran ulang skuad nanti, klub juga harus tetap mematuhi struktur komposisi pemain yang ditetapkan UEFA. Setiap klub wajib menyetorkan Daftar A yang berisi maksimal 25 pemain tim utama. Dari 25 nama tersebut, tidak semuanya bisa diisi oleh pemain asing atau pemain yang dibeli dari klub lain.

    Minimal delapan tempat di Daftar A harus dialokasikan untuk "pemain yang dilatih secara lokal". Jika klub tidak mampu memenuhi kuota delapan pemain lokal ini, maka jumlah maksimal skuad mereka harus dikurangi. Misalnya, jika hanya ada enam pemain lokal, klub hanya boleh mendaftarkan total 23 pemain, bukan 25.

    Aturan ini menjadi tantangan tersendiri bagi klub yang sangat aktif membeli pemain internasional. Menambah tiga pemain baru di Januari sering kali berarti harus membuang pemain lama dari daftar untuk memberi ruang, terutama jika kuota pemain asing sudah penuh. Manajemen roster menjadi seni tersendiri bagi direktur olahraga dan pelatih.

    Tujuan dari aturan ini adalah untuk memastikan bahwa klub tetap berkomitmen pada pengembangan bakat lokal dan nasional, serta tidak sekadar menjadi tim instan yang berisi bintang bayaran. Oleh karena itu, sebelum belanja pemain di bulan Januari, klub harus mengecek slot kosong di Daftar A mereka agar rekrutan baru tersebut bisa benar-benar didaftarkan.

  • Evolusi Aturan: Tidak Ada Lagi 'Cup-Tied'

    Kabar baik bagi dunia transfer modern adalah penghapusan aturan cup-tied yang dulu menjadi momok. Sebelum musim 2018/19, pemain yang sudah bermain untuk satu klub di Liga Champions dilarang membela klub lain di kompetisi yang sama pada musim tersebut. Hal ini dulu sering menghambat transfer pemain bintang di Januari.

    Kini, UEFA telah menghapus aturan tersebut sepenuhnya. Pemain diizinkan untuk membela dua klub berbeda dalam kompetisi Liga Champions di musim yang sama. Artinya, partisipasi seorang pemain di fase liga bersama klub lamanya tidak lagi menghalangi dia untuk membela klub barunya di fase gugur. Ini membuat pasar transfer Januari menjadi jauh lebih menarik.

    Contoh nyata dari kesuksesan aturan ini adalah transfer Khvicha Kvaratskhelia. Paris Saint-Germain (PSG) merekrut pemain sayap ini dari sesama kontestan Eropa, Napoli, pada Januari. Berkat aturan baru, Kvaratskhelia bisa langsung didaftarkan dan bahkan membantu PSG memenangkan kompetisi untuk pertama kalinya.

    Tanpa penghapusan aturan cup-tied, transfer besar seperti Kvaratskhelia mungkin tidak akan terjadi karena klub enggan mengeluarkan dana besar untuk pemain yang tidak bisa dipakai di Eropa. Fleksibilitas ini memungkinkan klub untuk terus meningkatkan kualitas kompetisi hingga partai puncak, menjadikan Liga Champions turnamen yang mempertemukan pemain-pemain terbaik tanpa hambatan administrasi masa lalu.

0