Salah HIC 2-1GOAL

Analisis: Bagaimana Mohamed Salah Berubah Dari Pahlawan Gelar Menjadi Beban Liverpool

Mohamed Salah, yang selama bertahun-tahun menjadi ikon tak tergantikan Liverpool, kini menghadapi realitas baru yang pahit. Keputusan Arne Slot untuk mencadangkannya dalam laga melawan West Ham bukan lagi kejutan, melainkan konsekuensi logis dari penurunan performa yang mengkhawatirkan. Statistik menunjukkan bahwa Raja Mesir ini bukan lagi kekuatan dominan yang sama seperti musim lalu, di mana ia memecahkan rekor kontribusi gol Liga Primer.

Musim ini, Salah baru mencetak lima gol dan tiga assist dalam 19 penampilan, sebuah penurunan drastis dari standar tingginya. Namun, masalahnya lebih dalam dari sekadar angka gol. Perubahan struktural, hilangnya rekan-rekan kunci di tim, dan peran taktis baru telah menggerus efektivitasnya. Salah kini lebih sering menyentuh bola di area yang tidak berbahaya, jauh dari kotak penalti lawan.

Yang paling mencolok adalah dampak kepergian Trent Alexander-Arnold. Salah kehilangan penyuplai bola utamanya, dan statistik membuktikan bahwa tidak ada pemain saat ini yang mampu mereplikasi koneksi telepati tersebut. Ditambah dengan efisiensi penyelesaian akhir yang menyentuh titik terendah, posisi Salah di starting XI kini benar-benar berada di bawah ancaman serius.

GOAL coba membedah secara mendalam data di balik penurunan Salah, mulai dari pergeseran area operasinya, anjloknya angka Expected Goals (xG), hingga statistik duel yang mengkhawatirkan. Apakah ini akhir dari era Salah, atau hanya masa transisi yang sulit?

  • FBL-ENG-PR-LIVERPOOL-SUNDERLANDAFP

    Perubahan Area Operasi: Menjauh dari Kotak Penalti

    Salah satu indikator paling jelas dari penurunan ancaman Salah adalah lokasi di mana ia menerima bola di atas lapangan. Meski jumlah sentuhannya per pertandingan sedikit meningkat menjadi 50 kali per 90 menit (dibandingkan 49 musim lalu), kualitas area sentuhannya justru menurun drastis. Ia kini lebih sering terlibat permainan di zona yang jauh dari gawang lawan, mengurangi potensi bahayanya secara signifikan.

    Statistik menunjukkan bahwa sentuhan Salah di dalam kotak penalti lawan anjlok dari rata-rata 9,6 menjadi 7,3 per 90 menit. Penurunan ini memaksanya untuk melakukan lebih banyak kerja keras menggiring bola dari sisi sayap atau lini tengah sebelum bisa menciptakan peluang tembakan. Hal ini membuatnya lebih mudah diisolasi oleh bek lawan sebelum mencapai area berbahaya.

    Pergeseran posisi ini berdampak langsung pada kualitas peluang yang ia dapatkan. Rata-rata Expected Goals (xG) per tembakannya musim ini mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir, yaitu hanya 0,1 per tembakan. Angka ini mengindikasikan bahwa Salah lebih sering melepaskan tembakan spekulatif dari posisi yang sulit dan jarak jauh, alih-alih mendapatkan peluang emas di mulut gawang.

    Kombinasi antara posisi yang melebar dan kualitas peluang yang rendah ini menjadi resep utama kemacetan keran golnya. Salah tidak lagi menjadi ujung tombak yang mematikan di kotak penalti, melainkan sayap yang terisolasi di pinggir lapangan. Tanpa perbaikan dalam distribusi bola ke area berbahaya, sulit bagi Salah untuk kembali ke level produktivitas terbaiknya.

    Perbandingan Sentuhan Salah (per 90 menit)

    AreaMusim 2024/25Musim Ini
    Total Sentuhan4950
    Di Kotak Penalti9,67,3
    TrenFokus di Area BerbahayaMelebar Jauh
  • Iklan
  • FBL-ENG-PR-LIVERPOOL-CRYSTAL PALACEAFP

    Kehilangan 'Pelayan' Setia: Dampak Absennya Trent Alexander-Arnold

    Faktor eksternal terbesar yang memengaruhi performa Salah secara signifikan adalah hilangnya Trent Alexander-Arnold dari sisi kanan Liverpool. Musim lalu, kombinasi keduanya adalah salah satu yang paling mematikan di dunia sepakbola, di mana Trent memberikan rata-rata 10,5 operan per 90 menit kepada Salah. Koneksi telepati ini adalah sumber utama peluang Salah yang kini telah hilang tak berbekas.

    Dominik Szoboszlai dan Conor Bradley memang berusaha mengisi kekosongan tersebut, namun kualitas dan frekuensi suplai bola mereka jauh berbeda. Statistik mencatat Szoboszlai hanya memberikan rata-rata 7 operan per laga kepada Salah, sementara Bradley memberikan 9,1 operan. Penurunan volume suplai bola dari rekan setim di sisi kanan ini memaksa Salah untuk lebih sering turun menjemput bola, yang menguras staminanya.

    Selain itu, Salah juga kehilangan koneksi dengan para penyerang tengah. Striker baru seperti Alexander Isak dan Hugo Ekitike memberikan operan yang jauh lebih sedikit kepada Salah dibandingkan Darwin Nunez dan Luis Diaz di musim lalu. Isak hanya mengoper 2 kali per laga, dan Ekitike lebih rendah lagi dengan 1,2 operan, sangat kontras dengan Nunez yang mencapai 3,4 operan.

    Hilangnya "pelayan-pelayan" setia ini membuat Salah terisolasi dalam sistem permainan yang baru. Ia harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan bola dan menciptakan peluang bagi dirinya sendiri. Tanpa dukungan distribusi bola yang memadai dari bek kanan dan striker, Salah kehilangan efektivitasnya sebagai penyerang sayap yang menusuk ke dalam.

    Suplai Bola ke Salah (Operan per 90 menit)

    PemainJumlah OperanStatus
    Alexander-Arnold (Musim Lalu)10,5Pindah
    Dominik Szoboszlai7,0Rekan Saat Ini
    Florian Wirtz4,9Rekan Saat Ini
  • Mohamed Salah Liverpool 2025Getty Images

    Hilangnya Efisiensi: Finishing yang Tumpul

    Masalah Salah musim ini bukan hanya soal kurangnya suplai bola, tetapi juga kegagalannya dalam memanfaatkan peluang yang ada. Tingkat konversi tembakan (shot-conversion rate) Salah anjlok hampir separuhnya, dari 20,2 persen pada musim lalu menjadi hanya 11,1 persen di musim ini. Penurunan tajam ini menunjukkan bahwa sentuhan emasnya di depan gawang sedang memudar.

    Ketika peluang emas datang, seperti saat melawan Chelsea dan Manchester United, penyelesaian akhir Salah terlihat terburu-buru dan tidak klinis. Ia kehilangan ketenangan yang biasanya menjadi ciri khasnya di depan gawang. Hal ini diperparah dengan statistik fisik yang juga menunjukkan penurunan signifikan dalam kemampuan duel satu lawan satu.

    Persentase kemenangan duelnya turun drastis dari 40,7 persen menjadi hanya 28 persen, sementara tingkat keberhasilan dribelnya anjlok dari 42,3 persen menjadi 23,4 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Salah tidak lagi memiliki keunggulan fisik dan teknis untuk melewati bek lawan dengan mudah seperti dulu. Ia kini lebih mudah dimatikan dan kehilangan bola saat mencoba melakukan penetrasi individu.

    Penurunan dalam aspek dribel dan duel ini membuat Salah kurang efektif dalam situasi isolasi, yang dulunya merupakan kekuatan utamanya. Tanpa kemampuan untuk melewati lawan dan tanpa finishing yang tajam, Salah berubah dari ancaman utama menjadi pemain yang bisa diredam dengan relatif mudah oleh pertahanan lawan yang disiplin.

    Statistik Efisiensi Salah

    StatistikMusim LaluMusim Ini
    Konversi Tembakan20,2 persen11,1 persen
    Duel Menang40,7 persen28,0 persen
    Dribel Sukses42,3 persen23,4 persen
  • Liverpool FC v PSV Eindhoven - UEFA Champions League 2025/26 League Phase MD5Getty Images Sport

    Beban Defensif dan Perubahan Struktur Tim

    Di bawah asuhan Slot musim lalu, sistem Liverpool dibangun secara khusus untuk membebaskan Salah dari tugas bertahan yang berat. Hal ini memungkinkan Salah untuk menyimpan energinya dan tetap segar saat melakukan serangan balik cepat di area tinggi lapangan. Namun, musim ini, lawan semakin cerdas dalam mengeksploitasi kebebasan tersebut dan menyerang sisi kanan pertahanan Liverpool.

    Ketidakefektifan Salah saat tanpa bola (out of possession) kini menjadi liabilitas atau beban bagi struktur pertahanan tim. Lawan dengan mudah melewati sisi yang dijaga Salah, memaksa gelandang dan bek kanan bekerja ekstra keras untuk menutup celah. Hal ini membuat Slot harus melakukan penyesuaian taktis yang merugikan posisi Salah.

    Keputusan Slot untuk memainkan Szoboszlai di sayap kanan saat melawan Sunderland adalah pengakuan taktis yang jelas. Slot mengakui butuh pemain yang lebih rajin membantu pertahanan, sesuatu yang tidak bisa diberikan Salah saat ini. Langkah ini terbukti membuat Liverpool terlihat lebih solid secara struktural dalam beberapa laga terakhir.

    Situasi ini menempatkan Salah dalam posisi sulit: ia harus beradaptasi dengan tuntutan kerja keras defensif atau risiko kehilangan tempatnya semakin besar. Jika ia tidak bisa berkontribusi dalam fase bertahan, kontribusi serangan yang minim saat ini tidak cukup untuk membenarkan posisinya sebagai starter yang tak tergantikan.

  • West Ham United v Liverpool - Premier LeagueGetty Images Sport

    Posisi Utama Tak Lagi Terjamin

    Salah sedang berada di persimpangan jalan paling kritis dalam kariernya di Liverpool. Kombinasi faktor usia yang mulai mengejar, perubahan drastis rekan setim, duka pribadi pasca-tragedi Diogo Jota, dan sistem taktik baru telah menciptakan badai sempurna yang menggerus performanya. Ia bukan lagi pemain yang bisa mengubah hasil pertandingan sendirian.

    Meski statistik menunjukkan ia masih mampu menciptakan peluang (2,3 chances created per laga), kualitas peluang tersebut (xG assist 1,9) tidak cukup tinggi untuk menutupi kekurangan di aspek lain. Slot telah menunjukkan keberanian besar sebagai pelatih kepala untuk mencadangkan bintang terbesarnya demi keseimbangan dan kebaikan tim secara keseluruhan.

    Pesan bagi Salah sangat jelas dan tegas: reputasi masa lalu dan rekor gol historis tidak lagi menjamin tempat di starting XI. Liverpool sedang berevolusi, dan jika Salah tidak bisa menyesuaikan diri dengan realitas baru ini, ia akan tertinggal. Ia harus menemukan cara untuk berevolusi kembali agar tetap relevan.

    Masa depan Salah di Anfield kini penuh tanda tanya. Ia harus membuktikan bahwa dirinya masih memiliki motivasi dan kemampuan fisik untuk bangkit dari periode sulit ini. Jika tidak, ia harus bersiap menghadapi kenyataan pahit sebagai pemain rotasi atau bahkan mempertimbangkan masa depannya di luar klub di sisa kontraknya.

0