Mohamed Salah, yang selama bertahun-tahun menjadi ikon tak tergantikan Liverpool, kini menghadapi realitas baru yang pahit. Keputusan Arne Slot untuk mencadangkannya dalam laga melawan West Ham bukan lagi kejutan, melainkan konsekuensi logis dari penurunan performa yang mengkhawatirkan. Statistik menunjukkan bahwa Raja Mesir ini bukan lagi kekuatan dominan yang sama seperti musim lalu, di mana ia memecahkan rekor kontribusi gol Liga Primer.
Musim ini, Salah baru mencetak lima gol dan tiga assist dalam 19 penampilan, sebuah penurunan drastis dari standar tingginya. Namun, masalahnya lebih dalam dari sekadar angka gol. Perubahan struktural, hilangnya rekan-rekan kunci di tim, dan peran taktis baru telah menggerus efektivitasnya. Salah kini lebih sering menyentuh bola di area yang tidak berbahaya, jauh dari kotak penalti lawan.
Yang paling mencolok adalah dampak kepergian Trent Alexander-Arnold. Salah kehilangan penyuplai bola utamanya, dan statistik membuktikan bahwa tidak ada pemain saat ini yang mampu mereplikasi koneksi telepati tersebut. Ditambah dengan efisiensi penyelesaian akhir yang menyentuh titik terendah, posisi Salah di starting XI kini benar-benar berada di bawah ancaman serius.
GOAL coba membedah secara mendalam data di balik penurunan Salah, mulai dari pergeseran area operasinya, anjloknya angka Expected Goals (xG), hingga statistik duel yang mengkhawatirkan. Apakah ini akhir dari era Salah, atau hanya masa transisi yang sulit?



.jpeg?auto=webp&format=pjpg&width=3840&quality=60)



