Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Halaman ini berisi tautan afiliasi. Ketika Anda melakukan pembelian melalui tautan yang disediakan, kami dapat memperoleh komisi.
Al Ittihad v Al Fayha: Saudi Pro LeagueGetty Images Sport

Diterjemahkan oleh

Analisis: Bagaimana Fesing menata ulang kartu Al-Ittihad dalam 60 hari?

Hanya 60 hari sudah cukup untuk memunculkan wajah Al Ittihad yang benar-benar berbeda, sebuah tim yang tidak bergantung pada nama-nama bintangnya sebesar ketergantungannya pada sistem yang terintegrasi, di mana semua bergerak demi satu tujuan, dan setiap pemain mengetahui apa yang diinginkan rekan setim dan pelatihnya di dalam lapangan.

Sejak pelatih muda asal Jerman, Jens Wissing, mengemban tugas melatih Al Ittihad pada 10 Juli lalu, sang direktur teknik mulai menata ulang lembaran "Sang Dekan" secara bertahap, hingga dalam waktu singkat tim ini memiliki identitas yang jelas yang dapat terlihat dalam cara membangun serangan, pressing setelah kehilangan bola, transisi, bahkan peran-peran defensif para penyerang.

Yang menarik, Wissing tidak membutuhkan bertahun-tahun untuk menerapkan gagasannya, melainkan berhasil dalam kurun sekitar dua bulan menciptakan sebuah tim yang tampak seolah telah lama bekerja sama, hal yang terlihat jelas dalam semangat kolektif yang kini dimiliki Al Ittihad, serta dalam kemampuan para pemain menjalankan peran mereka bahkan ketika bola jauh dari area berbahaya.

  • imago-sport-1080559235.jpgZUMA Press Wire

    Sistem yang tidak bergantung pada individu

    Hal pertama yang menarik perhatian dari Ittihad Viecing adalah bahwa tim tidak terlihat bergantung pada satu pemain untuk menciptakan perbedaan, melainkan bergerak sebagai satu kesatuan. Bola berpindah dengan cepat, para pemain bergerak untuk satu sama lain, dan setiap pergerakan seorang pemain membuka ruang bagi rekan lainnya.

    Ketika Ittihad menguasai bola, tujuannya bukan sekadar mempertahankannya, melainkan segera mencari ruang di belakang para bek, baik melalui umpan-umpan langsung yang memecah lini pertahanan maupun bola-bola panjang yang dimanfaatkan dalam transisi serangan.

    Baca juga: Dari penyerang menjadi bek, bagaimana gaya bermain Youssef En-Nesyri berubah bersama Ittihad?

    Kecepatan berpindah dari kondisi bertahan ke menyerang ini memberi Ittihad kemampuan besar untuk memukul lawan sebelum mereka memulihkan organisasi permainannya, terutama karena tim memiliki pemain-pemain yang mampu memanfaatkan ruang dan berlari di belakang lini pertahanan.

    Yang terpenting, cara ini tidak hanya bergantung pada kualitas umpan terakhir, melainkan pada pergerakan seluruh kelompok, karena penyerang bergerak, pemain sayap masuk ke area tengah, bek sayap maju, dan gelandang bergerak untuk mengamankan ruang, sehingga serangan menjadi rangkaian pergerakan yang selaras alih-alih menunggu solusi individu.

  • Iklan
  • Pressing: senjata utama Al-Ittihad

    Ketika Al Ittihad kehilangan bola, dimulailah fase lain dari sistem Vicente, yaitu upaya untuk merebutnya kembali secepat mungkin, ketimbang menarik diri dan menunggu lawan di dekat kotak penalti.

    Tim bergerak secara kolektif untuk menekan pemegang bola, dan ruang-ruang di sekitarnya menjadi sasaran para pemain, sehingga Al Ittihad berusaha memaksa lawan mengambil keputusan cepat yang bisa berujung pada kehilangan bola lagi.

    Di sinilah muncul pentingnya kesepahaman antarlini, karena tekanan tidak akan berhasil jika seorang pemain bergerak sendirian. Oleh sebab itu, kini kita melihat para pemain Al Ittihad bergerak sebagai satu kesatuan, di mana pemain tengah maju bersamaan dengan sayap, bek sayap bergerak untuk mempersempit ruang, sementara penyerang menekan para bek.

    Cara ini memberi Al Ittihad keunggulan tambahan, karena merebut bola di area yang lebih maju berarti tim tidak perlu membangun serangan dari belakang, melainkan bisa langsung beralih ke gawang lawan, dan hal itu sesuai dengan keinginan Vicente untuk bermain cepat dan langsung.

    Anda dapat mendiskusikan topik dan berita secara lebih mendalam di forum "Kooora"

  • Al Ittihad v Al Hazem: Saudi Pro LeagueGetty Images Sport

    Bek sayap dan pemain sayap: persamaan ofensif yang berbeda

    Salah satu detail taktis paling menonjol dalam sistem Viesing adalah ketergantungan besar pada kedua bek sayap untuk memberikan lebar lapangan bagi tim, sementara para pemain sayap bergerak masuk ke area tengah, yang menciptakan kepadatan jumlah pemain lebih besar di dekat kotak penalti lawan.

    Ketika bek sayap maju, pemain sayap mendapatkan kebebasan untuk masuk ke ruang-ruang di dalam, alih-alih tetap menempel di garis lapangan, dan di sinilah pertahanan lawan menghadapi lebih dari satu ancaman sekaligus, baik dari tengah maupun dari sisi tepi.

    Viesing juga berusaha menempatkan para pemain sayapnya dalam situasi satu lawan satu, karena ia menyadari bahwa memiliki pemain yang mampu melewati lawannya dapat membuka seluruh sistem pertahanan, dan karena itulah pergerakan kolektif hadir untuk menyediakan kondisi yang tepat bagi duel-duel individual ini.

    Dengan cara ini, serangan Al-Ittihad tidak lagi sekadar upaya untuk mencapai kotak penalti, melainkan sebuah proses terorganisir yang bertujuan menciptakan lebih dari satu pilihan bagi pembawa bola, hingga pertahanan lawan terpaksa mengambil keputusan-keputusan sulit antara menutup area tengah, mengawal pemain sayap, atau menghadapi majunya bek sayap.

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Al Ittihad v Al Fayha: Saudi Pro LeagueGetty Images Sport

    Nesyri: Bukti Paling Jelas dari Sebuah Transformasi

    Youssef En-Nesyri barangkali menjadi contoh terbaik dari besarnya perubahan yang dibawa Blessing di Al-Ittihad. Sang penyerang asal Maroko itu tak lagi sekadar ujung tombak yang menunggu bola di dalam kotak penalti, melainkan kini menjalankan peran-peran yang melampaui tugas ofensif tradisionalnya.

    Pada beberapa momen dalam pertandingan, En-Nesyri terlihat turun ke area pertahanan yang lebih tinggi untuk membantu menutup ruang dan mengawal sejumlah sumber ancaman dari lawan, lalu dengan cepat berubah saat bola direbut kembali menjadi seorang penyerang yang mencari ruang di belakang para bek.

    Peran semacam ini mencerminkan gagasan dasar Blessing: seorang pemain tidak hanya dituntut menjalankan fungsi aslinya, tetapi juga harus melayani sistem di setiap momen pertandingan, baik ketika bola berada dalam penguasaan Al-Ittihad maupun lawan.

    Baca juga: Ronaldo menantang hukum fisika, usia 42 tahun namun tak berhenti menghancurkan para pengkritiknya!

    Di sinilah bisa dipahami mengapa Al-Ittihad tampak lebih padu dan bersemangat secara kolektif belakangan ini; sebab tim ini tidak bermain dengan sekumpulan individu, melainkan dengan sekumpulan pemain yang bergerak berdasarkan satu gagasan, sebuah transformasi yang berhasil ditanamkan Blessing hanya dalam 60 hari.

    Pada akhirnya, masa yang dilalui Blessing bersama Al-Ittihad mungkin singkat, tetapi jejaknya kini terlihat jelas. Tim ini kini memiliki identitas yang bertumpu pada transisi cepat, pressing langsung, majunya para bek sayap, masuknya para pemain sayap ke area tengah, memanfaatkan duel satu lawan satu, di samping kesiapan para penyerang menjalankan peran defensif.