"Saya seperti Benjamin Button," ucap Zlatan Ibrahimovic di satu kesempatan. Klaim dirinya itu barangkali ada benarnya bila menengok statistik dia di lapangan.
Layaknya tokoh film dalam Benjamin Button, semakin tua justru semakin produktif. Legenda Swedia tersebut bak mengalami pubertas kedua di AC Milan.
Menjalani periode kedua bersama Rossoneri di usianya yang hampir menyentuh 40 tahun, Zlatan benar-benar tidak memperlihatkan penurunan performa.
Tergres, dia kembali mempertontonkan kontribusi pentingnya bagi Milan dengan memberi satu assist dan gol untuk membawa timnya menaklukkan Udinese 2-1 di Dacia Arena dalam laga lanjutan Serie A Italia.
Pertama, kreasi Zlatan memudahkan Franck Kessie untuk membuka gol di menit ke-18. Tuan rumah sempat membalas lewat sepakan penalti Rodrigo de Paul di menit ke-48. Akan tetapi, Zlatan tak membiarkan sang lawan berbuat banyak dengan golnya di menit ke-83 memastikan raihan tripoin bagi Milan.
Opta mencatat, sejak pulang ke Milan pada Januari 2020, Zlatan telah terlibat untuk 23 gol timnya dalam 22 pertandingan Serie A Italia [17 gol dan 6 assist].
Statistik di atas menunjukkan betapa vitalnya peran mantan bomber Juventus, Inter Milan, Barcelona, PSG dan Manchester United tersebut di tubuh Milan saat ini. Sah-sah saja bila kemudian fans melabelinya sebagai 'Lord' Zlatan.
Total, hanya dalam empat penampilannya bagi Milan di musim ini, Zlatan telah mengemas tujuh gol. Mungkin bisa lebih dari torehan ini jika dia tidak absen ketika timnya mengalahkan Crotone dan Spezia akibat sempat terpapar Covid-19. Sekarang, dia pun mejeng di puncak top skor Serie A, dengan koleksinya itu.
Di Liga Europa juga dia sudah membuat sebiji gol untuk satu penampilannya ketika Il Diavolo melibas Sparta Praha 3-0.
Secara keseluruhan sejak kembali mengenakan seragam Rossoneri di awal tahun ini, Zlatan sudah mengepak 19 gol buat Milan dalam 27 pertandingan yang dilakoninya di seluruh kompetisi resmi.
Yang lebih menarik lagi, hanya ada tiga pemain dalam sejarah AC Milan yang sanggup selalu membuat gol dalam enam pertandingan Serie A secara beruntun di era tiga poin sejak 1994/95, yakni Andriy Shevchenko pada 2001, Zlatan sendiri di periode pertamanya membela Rossoneri pada 2012, dan Zlatan di periode saat ini!
(C)Getty ImagesTak ayal, pemain yang mengawali karier sepakbolanya di Malmo FF dan Ajax itu dipandang sebagai aktor penting di balik kebangkitan Milan musim ini. Penampilan kontributifnya sejauh ini memang telah membawa Milan menikmati pucuk klasemen di Serie A dengan rengkuhan 16 poin, unggul empat angka dari Atalanta selaku rival terdekat.
Sementara, di fase grup Liga Europa, skuad Stefano Pioli juga menguasai klasemen dengan enam poin hasil dari dua kemenangan di dua laga pertama.
Perlu diingat, terakhir kali Milan merebut Scudetto ketika mereka diperkuat Zlatan muda di musim 2010/11. Sekarang, bumi seolah memberi isyarat, periode kedua Zlatan di Milan tampak akan berakhir manis.
Kuncinya, Milan harus konsisten mulai dari sekarang sampai akhir musim. Namun selama ada sang Benjamin Button sepakbola, Il Diavolo berada di jalur yang tepat untuk berpesta di akhir musim nanti.





