Chaowat Veerachat tak menyia-nyiakan kesempatan ketika ditawari masuk ke akademi Cereo Osaka untuk bermain bagi tim U-23.
Bekal pengalamannya selama menempa diri di tim berjuluk Bunga Sakura itu benar-benar membawa pemain 26 tahun itu beranjak ke level yang lebih tinggi. Puncaknya, untuk pertama kali dalam kariernya, dia sukses menjuarai Liga Thailand bersama BG Pathum United sebelum kembali ke Osaka untuk bermain bagi tim utama Cerezo.
Eksklusif kepada GOAL, Chaowat bercerita perjuangan dia hingga berada di titik ini.
Apa yang membuatmu bermain sepakbola?
Ayah saya mencintai sepakbola dan ketika saya kecil, saya menonton sepakbola dengannya di TV dan lewat itu, saya benar-benar tertarik. Setelah saya masuk sekolah, saya menendang bola dengan teman-teman saya sepulang sekolah, itu benar-benar menyenangkan. Ayah dan ibu saya bilang ke saya, "Jika kamu sangat menyukai sepakbola, kenapa tidak kamu bergabung ke akademi?" Lalu saya jawab, "Saya mau ke sana."
Liga negara mana yang Anda tonton di TV ketika kamu masih kecil?
Hanya Liga Primer yang disiarkan, jadi satu-satunya cuma Liga Primer saat itu. Arsenal adalah tim favorit saya. Saya suka dengan gaya bermainnya dan mendukung mereka.
Di tengah-tengah itu, Anda bergabung ke Bangkok Glass FC [saat ini BG Pathum United FC] pada 2017 dan bergabung Cerezo Osaka U-23 di 2018 sebagai hasil dari kerja sama dengan Cerezo Osaka. Bagaimana perasaan Anda ketika diputuskan pindah ke Cerezo?
Saat itu, saya tidak banyak memainkan pertandingan, jadi saya sangat terkejut dipanggil. Di saat yang sama, saya bahagia.
Saat itu, apakah Anda mengetahui tentang Cerezo Osaka? Atau Anda mencari tahu Cerezo Osaka setelah Anda mendengar mengenai transfer itu?
Saya tahu dari sebelumnya. Saya di akademi Buriram United FC dan saya menonton pertandingan ACL menghadapi Cerezo kala itu. Jadi, saya tahu Cerezo dari sebelumnya. Saya sangat senang. Dalam hal sepakbola, saya kira Cerezo U-23 berada di level yang lebih tinggi. Saya ingin mempelajari sepakbola Jepang, dan saya juga punya ambisi untuk menjadi lebih baik, jadi saya sangat bahagia mendengar mengenai transfer itu.
Itu negeri asing dan bahasa yang berbeda. Apakah Anda menyimpan kekhawatiran?
Saya tidak khawatir. Seperti biasa, perasaan "saya hanya ingin bergabung" lebih kuat.
Apa Anda mengingat pertama kali berpartisipasi dalam latihan?
Saya ingat sekali, hari pertama saya berlatih di latihan tim U-23.
Bagaimana itu jika dibandingkan dengan apa yang Anda bayangkan, seperti level teknis dan atmosfer tim itu?
Cukup berbeda dari apa yang saya bayangkan. Saya kira, saya bisa melakukannya sampai batas tertentu. Namun, saya sama sekali tidak bisa mengikutinya. Dalam hal ini, itu benar-benar kebalikan dari apa yang dibayangkan.
Pelatih Yuji Okuma, pelatih saat itu, cukup keras.
Ya [tersenyum kecut], benar-benar keras. Tidak ada satu pun di tim ini yang bisa bicara bahasa Inggris, jadi itu sulit. Jadi, ini memang lingkungan yang lebih sulit dibanding yang saya bayangkan [tersenyum kecut].
Di saat yang sama, saya ingat bahwa Toshiki Onozawa [FC Tiamo Hirakata] berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Ya. Dia juga tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, namun saya sangat bahagia karena dia mencoba yang terbaik untuk berbicara dengan saya, dan saya bersyukur dengan itu. Dari sana, sedikit demi sedikit, saya merasa seperti saya bisa berkomunikasi dengan rekan-rekan yang lain.
Saya punya kesan bahwa Anda cukup aktif di tahapan akhir musim itu. Saya ingat bahwa Anda memainkan peranan penting di tim ketika bekerja sama dengan Hinata Kida sebagai gelandang bertahan. Melihat kembali musim 2018, bagaimana musim itu bagi Anda?
Tentu, ada masa-masa cemerlang, demikian juga sebaliknya. Tapi, satu yang paling berkesan bagi saya adalah ketika saya mendapatkan cedera hamstring dan absen dari tim selama 10 pekan. Alasannya tak bisa saya pahami dan tak bisa mengungkapkan cedera saya itu bahkan ke diri sendiri, dan saya merasa frustrasi tak bisa bermain. Jadi saya depresi selama berhari-hari. Di tengah-tengah itu, saya bisa kembali ke Thailand suatu saat, bisa mendapat kata-kata penyemangat dari ayah saya, keluarga, teman-teman saya, itu sungguh berarti. Saya masih ingat itu.
Setelah melewati proses itu, apakah Anda merasa bahwa Anda telah berkembang ketika Anda meninggalkan Cerezo dibanding sebelum Anda datang?
Ya itu sangat besar. Saya sangat senang bisa bergabung ke Osaka. Saya kira, saya meningkat drastis.
Apakah itu dari sisi teknis? Kekuatan fisik seperti kekuatan dari tubuh?
Saya merasa meningkat untuk semua aspek. Saya kira, mentalitas saya di lapangan menjadi lebih tangguh.
Setelah kembali ke Thailand, Anda menjuarai liga bersama BG Pathum United dan memainkan peranan penting di ACL. Bagaimana tahun-tahun itu setelah Anda pulang ke Thailand?
Saya melalui masa hebat. Saya bermain di setiap laga, dan saya mampu berada di starting line-up. Saya bisa merasakan juara liga sekali, jadi saya kira itu benar-benar bagus bagi saya.
Anda terpilih untuk tim nasional Thailand dan mencetak gol, tapi apakah itu salah satu dari mimpi Anda terpilih ke timnas?
Jelas. Jika Anda menjadi pemain sepakbola, saya kira semua orang memimpikan hal tersebut. Tentu, itu adalah mimpi saya terpilih sebagai pemain untuk timnas Thailand. Walaupun itu adalah laga pemanasan, saya mampu mencetak gol di laga pertama, jadi saya sangat bahagia.

Apakah itu target Anda bergabung dengan timnas Thailand sejak Anda bergabung ke tim U-23?
Ya. Itu adalah target saya sejak saat itu.
Saya kira pelatih kepaka, para staf pelatih dan suporter tim U-23 saat itu sangat bahagia bahwa Anda bisa tumbuh di 2018, kembali ke Thailand, menuai pengalaman dan terpilih untuk timnas.
Saya ingin berterima kasih kepada direktur dan seluruh staf yang terlibat. Saya benar-benar bersyukur pada mereka dan saya juga sangat berterima kasih kepada seluruh fans atas support yang tak henti-hentinya.
Anda berkembang sangat pesat, dan sekarang Anda kembali ke tim utama. Apakah Anda merasakan perbedaan dari terakhir kali?
Itu salah satu mimpi saya kembali ke tim utama Cerezo, jadi saya sangat bahagia ketika diputuskan bahwa saya akan kembali bermain di Jepang. Saya kira, saya bisa menyadari mimpi itu dengan sangat cepat. Saya berpikir bahwa itu akan luar biasa jika saya bisa mendapatkan pengalaman dengan tim nasional untuk beberapa tahun, lalu memiliki kesempatan untuk kembali bermain di Jepang. Dalam hal itu, saya sangat bahagia karena saya memiliki kesempatan ini. Saya ingin menjadi lebih baik lagi dan lagi, dan saya akan berusaha keras untuk melakukannya, jadi saya benar-benar ingin melakukan yang terbaik.
Kali ini Anda akan beralih dari J3 ke J1, namun permainan yang seperti apa yang Anda inginkan di J1?
Saya masih tidak tahu permainan seperti apa yang bisa saya lakukan atau saya tunjukkan, tapi saya ingin menyesuaikan dengan tim sesegera mungkin dan melakukan yang terbaik untuk berkontribusi di tim ini. Ketika saya pergi ke pertandingan, saya ingin melakukan yang terbaik demi membantu tim saya menang.
Saya kira Anda memiliki Okuno, Harakawa, Suzuki di lini defensif, dan mereka bersaing menghadapi satu sama lain. Apakah Anda merasa bahwa Anda bisa tumbuh lebih jauh lagi jika Anda terus bermain di lingkungan ini?
Tentu, ketika Anda melihat mereka, Anda tahu mereka adalah pemain-pemain bagus. Saya kira, saya bisa meningkatkan diri saya dengan berlatih bersama, dan saya sudah merasakan itu. Mereka adalah para pemain dengan level yang sangat tinggi, jadi ada beberapa hal yang Anda bisa lihat dan curi. Bahkan di tempat seperti ini, saya kira bisa berlatih bersama akan membawa level saya meningkat.
Apakah Anda senang melihat kembali Funaki, Yamada, dan para pemain yang bermain dengan Anda di tim U-23?
[tertawa] Saya sangat bahagia. Saya sangat dekat dengan mereka. Saya benar-benar bahagia karena kami semua bisa bermain bersama di tim utama.
Apa motivasi dan pendorong bagi seorang Chaowat bermain sepakbola?
Jika Anda bertanya pada saya apa motivasi saya, saya kira hanya karena saya mencintai sepakbola, itulah yang melecut saya untuk terus bermain sepakbola. Lagipula, jika itu adalah sesuatu yang Anda sukai, Anda bisa menuangkan hasrat Anda ke dalamnya, dan tanpa perasaan itu, saya kira Anda tidak akan mampu meningkat. Jika Anda bertanya pada saya apa yang menjadi pendorong bagi saya, itu datang dari fakta bahwa saya mencintai sepakbola, jadi saya bisa melakukan yang terbaik.
Jadi, Anda masih punya perasaan yang sama ketika pertama kali bermain sepakbola saat Anda masih kecil.
Ya, perasaannya sama.
Saya juga ingin bertanya tentang masa depan. Apakah Anda punya target atau visi ingin menjadi pesepakbola seperti apa, atau ingin menjadi pemain seperti siapa, dalam waktu dekat atau jauh di masa depan?
Target utama saya hanyalah meningkatkan level saya sebagai pemain semaksimal mungkin dan menyelesaikan karier sepakbola saya sembari mempertahankan level tinggi sebisa mungkin. Lagipula, saya manusia biasa, jadi saya yakin akan ada saatnya ketika saya tidak dalam bentuk terbaik, dan saya kira akan ada ombak, tapi saya berharap saya bisa menyelesaikan karier sepakbola sambil mempertahankan level tinggi di sepanjang hidup saya.
Saya pikir orang-orang Thailand juga tak sabar melihat Chaowat bermain di J-League. Apa Anda juga ingin menunjukkan permainan Anda kepada mereka?
Saya ingin melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang mendukung saya di Thailand. Terima kasih kepada para pemain yang telah menorehkan prestasi di Jepang, termasuk Chanathip, Teerathong, dan Teera Singh, sekarang jadi salah satu mimpi anak-anak di Thailand bermain di Jepang. Saya ingin berkontribusi untuk itu bagi anak-anak yang punya mimpi bermain tanpa rasa malu.
