Harry Maguire Paulo DybalaGetty/Goal

Tolak Paulo Dybala, Mengapa Ole Gunnar Solskjaer Lebih Prioritaskan Pemain Britania Raya?


OLEH  KRIS VOAKES PENYUSUN  ADHE MAKAYASA

“What have you done for me lately?”, itulah penggalan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Janet Jackson pada 1986, yang dibalas Eddie Murphy dengan satir setahun berselang. Namun frasa itu sepertinya cocok untuk menggambarkan kondisi sepakbola sekarang ini.

Manchester United adalah contoh kasusnya. Dengan kegagalan mereka meraih gelar liga sejak 2013, dan bahkan tidak sanggup menjadi penantang, mereka lantas dianggap banyak pihak sebagai raksasa yang sedang jatuh. Katalog kegagalan dalam beberapa tahun terakhir, bagi sebagian orang, menjadi hal yang lebih melekat ketimbang keberhasilan mereka di masa lalu.

Namun, pada kenyataannya, United tetap menjadi kekuatan besar di dunia sepakbola. Tiga belas gelar liga dalam seperempat abad tentu tidak bisa dilupakan dalam sekejap, dan bagi Ole Gunnar Solskjaer, prospek untuk membangun ulang skuad yang bisa menjadi penantang adalah hal yang menarik sekaligus mengerikan.

Pria Norwegia itu pernah menekankan bahwa pembangunan ulang skuad yang ia lakukan bakal membutuhkan waktu, dan itu ia tegaskan setelah timnya gugur dari Liga Champions di tangan Barcelona pada April kemarin. “Kami tahu ada banyak hal yang harus dikerjakan. Saya selalu bilang bahwa ini tidak bisa diubah dalam semalam. Beberapa tahun ke depan akan masif buat kami untuk mencapai level Barcelona dan tim-tim lain yang setara.

“Kami perlu menciptakan lingkungan yang memiliki sikap kelas dunia setiap harinya. Kami punya banyak pemain untuk melakukan itu dan telah melakukan yang terbaik untuk mencapai perempat-final dan menantang empat besar.”

Manchester United - CarringtonGetty Images

United tentu harus punya target yang lebih tinggi dari itu, dan Ole telah memulai pembangunan ulangnya dengan menargetkan pemain Britania Raya yang masih muda, lapar, dan punya sikap positif.

Daniel James dari Swansea City dan Aaron Wan-Bissaka dari Crystal Palace jelas menghadirkan energi yang lebih besar, sementara Harry Maguire akan menambahkan kesiapan untuk bersaing di Liga Primer dan itu hanya dimiliki oleh pemain yang pernah merasakan lingkungan itu sebelumnya.

Dan ketiganya memahami bahwa Manchester United adalah raksasa di sepakbola Inggris. Pesepakbola sering kali merapat ke klub Inggris dari luar negeri dengan mengklaim tahu betul soal nama dan budaya serta segala hal yang berkaitan dengan klub tersebut, namun sebagian besar baru akan benar-benar mengerti ketika sudah menjadi bagian dari itu.

Anda dapat menonton dari berbagai belahan dunia dan merasakan besarnya status klub tersebut, tapi ketika kesuksesan Manchester United ada di seluruh TV Anda, di setiap laman olahraga yang kalian akses dan itu juga tercermin dari banyaknya jersey warna merah di setiap taman bermain, baru setelah itu Anda benar-benar mengetahui iming-iming yang dihadirkan United ketika mereka berjaya.

Dalam diri James, Wan-Bissaka dan Maguire, Ole telah mengidentifikasi pemain yang bisa langsung memahami arti untuk menjadi yang terbaik di Manchester United. Ketiganya tumbuh besar sebagai pesepakbola Britania yang melihat dominasi Setan Merah. Ketiganya pernah melihat periode sukses Sir Alex Ferguson yang seolah tiada henti. Dan ketiganya akan merasakan rindu untuk menjadi bagian dari itu.

Itu adalah rasa lapar yang ingin ditambahkan Ole, dan itu adalah salah satu alasan mengapa ia begitu getol memasuki pasar Britania pada musim panas pertamanya sebagai bos United.

Ketika ia masih menjadi pemain di bawah arahan Ferguson, Ole merupakan bagian dari pemain asing kunci yang ditanamkan, selain ada sosok lain mulai dari Jaap Stam dan Ruud van Nistelrooy hingga ke Cristiano Ronaldo, Patrice Evra dan Nemanja Vidic. Di sana selalu ada keinginan untuk menghadirkan hal tambahan dari luar negeri.

Tapi yang tidak pernah hilang dari United pada saat itu adalah keinginan mereka untuk mengidentifikasi ikon Liga Primer yang secara instan langsung mengerti klub, dan memahami tanpa harus dijelaskan soal kebutuhan Manchester United yang merupakan puncak rantai makanan di sepakbola Inggris.

Andreas Christensen - ChelseaGetty Images

Pemain-pemain seperti Teddy Sheringham, Dwight Yorke, Rio Ferdinand, Wayne Rooney dan Edwin van der Sar semuanya didatangkan United ketika Ole masih menjadi pemain, dan masing-masing dari mereka dipandang sebagai legenda. Bukan hanya karena pencapaian mereka di lapangan, namun mereka tidak perlu diceramahi soal arti mengenakan jersey kebesaran United.

Itu bukan berarti pemain seperti Paul Pogba, David de Gea dan Victor Lindelof tidak bisa menjadi bagian dari kesuksesan United, mereka hanya belum memiliki kesempatan itu. Ada hati orang Britania yang selalu jelas soal Manchester United ketika mereka menang, tapi itu tidak benar-benar terjadi lagi.

Sementara itu di United sekarang ada pemain lokal seperti Jesse Lingard dan Marcus Rashford, dan mereka masuk dalam rencana Ole di masa depan. Namun untuk urusan pemain Inggris yang sangat siap untuk mengeluarkan yang terbaik adalah Luke Shaw, yang di tahun lalu tampil mengesankan. Selain itu, ada Ashley Young merupakan pemimpin di ruang ganti tapi kualitasnya sedikit berkurang karena semakin berumur.

Beberapa orang mengklaim United perlu menjauh dari apa yang biasa mereka lakukan di zaman dahulu untuk bisa menjadi yang terbaik sekali lagi, tetapi mungkin mereka terlalu cepat untuk mengikuti cara Ferguson. Pemain seperti Angel di Maria, Memphis Depay, Bastian Schweinsteiger dan Zlatan Ibrahimovic adalah nama besar yang pernah didatangkan, tapi itu lebih seperti proyek jangka pendek ketimbang membangun dari akar untuk masa depan.

Itu juga menjadi alasan mengapa United perlu menjauh dari negosiasi mendatangkan penyerang Juventus Paulo Dybala ke klub. Dybala tidak pernah ingin merapat ke Old Trafford dan agennya menuntut gaji besar. Terlepas talenta yang dimiliki bintang Argentina itu, Ole hanya menginginkan pemain yang menginvestasikan kualitasnya ke klub – seperti halnya Maguire, James dan Wan-Bissaka.

Ole sekarang sedang membangun ulang United. Meski mereka belum meraih apa-apa, adalah hal yang tidak bijaksana untuk melupakan apa yang membuat mereka hebat di masa lalu, dan Ole tidak lupa akan itu.

Iklan
0