Timo Werner Chelsea Raphael Varane Real Madrid Champions LeagueGetty Images

Timo Werner Gagal Maksimalkan Peluang, Thomas Tuchel: Dia Marah Besar!

Manajer Chelsea Thomas Tuchel mengakui bahwa kegagalan Timo Werner memaksimalkan peluang di babak pertama melawan Real Madrid, Rabu (28/4) dini hari WIB tadi membuat dia dan striker Jerman itu merasa marah.

Sebelum Christian Pulisic membuka skor, tendangan jarak dekat Werner bisa diselamatkan oleh Thibaut Courtois pada menit kesepuluh dalam hasil imbang 1-1 di leg pertama semi-final Liga Champions yang digelar di Madrid.

Penyelesaian akhir pemain berusia 25 tahun itu telah mendapat sorotan sepanjang musim ini, meskipun ia sukses mencetak gol kemenangan penting pada akhir pekan kemarin melawan West Ham.

Apa Yang Dikatakan Tuchel?

"Dia melewatkan satu kesempatan besar di West Ham dan sekarang dia melewatkan satu peluang besar lainnya di sini," aku Tuchel setelah pertandingan di Madrid. "Itu tidak membantu, tetapi menangis atau menyesalinya sepanjang waktu tidak ada artinya. Demikian adanya.

"Ada jutaan orang yang memiliki hal-hal yang lebih sulit untuk dihadapi ketimbang peluang yang Anda lewatkan, jadi ini adalah hal baik tentang olahraga - besok tidak ada yang peduli. Hari ini kami sedih, kami marah saat ini, ini normal.

"Dia [Werner] juga marah. Dia mungkin kecewa. Besok dia memiliki hari bebas dan keesokan harinya dia harus mengangkat dagunya. Dia pemain profesional, pemain top, dia bekerja keras. Dia ada di posisinya dan kita coba lagi nanti.

"Kami tidak akan pernah berhenti berupaya, kami tidak akan pernah berhenti percaya dan saya yakin bahwa semua orang akan menerima situasi ini dan sebagai striker itu mudah, Anda tinggal mencetak gol pada pertandingan berikutnya dan tidak ada yang membicarakan [soal kegagalan kemarin].”

Layakkah Chelsea Menang?

Bisa dibilang ya, mengingat Madrid hanya berhasil melepaskan satu tembakan tepat sasaran dari gol penyeimbang Karim Benzema di menit ke-29.

Pelatih Madrid Zinedine Zidane membuat beberapa perubahan taktis di babak pertama untuk merebut kembali kontrol setelah tertinggal di sebagian besar babak pertama. Hal itu lantas membuat babak kedua lebih seimbang, di mana Tuchel mengakui bahwa timnya juga lelah karena memilih untuk tidak merotasi pemain jelang kick-off.

"Kami bertahan bersama sebagai satu tim dan semua pemain depan memainkan peran mereka," tambahnya. "Kami selalu bertahan sebagai satu kesatuan dengan 11 pemain, jadi saya tidak merasa harus ada yang disalahkan. Tapi tentu saja, penyerang adalah orang pertama yang ingin mencetak gol dan menjadi penentu.

"Mereka ingin melakukannya untuk diri mereka sendiri dan tim. Ini adalah level tertinggi. Terkadang jika Anda memiliki waktu setengah jam sebaik yang kami miliki, dengan peluang penuh dan setengah, Anda menginginkan lebih banyak ketenangan dan ketepatan dalam mengambil keputusan - membuat dan menyelesaikannya sendiri.

“Kami tida perlu khawatir terlalu lama, menyesal terlalu lama dan kehilangan kepercayaan diri. Kami melakukan ini di babak kedua dan bertahan dengan sangat-sangat baik. Kami menderita secara fisik karena kami hanya memiliki dua hari jeda.

"Anda tidak bisa mengganti pemain lima kali di Liga Primer, jadi itu cukup menuntut secara fisik. Hari ini Anda bisa merasakan itu di akhir pertandingan."

Iklan
0