Jurgen Klopp Liverpool 2019-20Getty Images

Senjakala Tiki-Taka & Gegenpressing? Revolusi Taktik Belum Selesai, Bung!

Sepakbola adalah permainan yang tidak akan pernah berhenti.

Dalam sekejap ide dan metodologi dapat berubah. Sempat untuk sementara waktu, tiki-taka menguasai dunia. Itu disempurnakan oleh Barcelona era Pep Guardiola dan direplikasi oleh timnas Spanyol yang spektakuler, kala penguasaan bola adalah segalanya.

Itu adalah taktik yang diadopsi di seluruh dunia. Gaya main berbasis penguasaan bola menjadi pedoman, tetapi sekarang tren telah bergeser. Setelah penguasaan bola adalah raja, sekarang gaya bermain menekan dengan intensitas tinggi telah mencuri perhatian.

Tiki-taka telah digantikan oleh gegenpressing. Jurgen Klopp, bukan Guardiola, yang kini berkuasa. Tetapi untuk berapa lama? Apakah gaya main menekan dengan intensitas tinggi ada di sini untuk jangka panjang, atau bisakah kita segera melihat perubahan pola sekali lagi? Apakah ada revolusi taktik lagi?

"Saya tidak berpikir itu akan berubah dalam beberapa tahun," ucap mantan pelatih Feyenoord, Jaap Stam, kepada Goal.

“Tetapi, saya pikir yang paling penting adalah manajer dan bagaimana dia ingin timnya bermain.”

“Sebagai manajer Anda harus menuju ke klub, lihat skuad Anda, dan kualitas setiap pemain, lalu pilih cara bermain tertentu. Pelatih seperti Klopp dan Guardiola memiliki kesempatan untuk membentuk tim mereka sendiri untuk menyesuaikan bagaimana mereka ingin bermain.”

“Di klub-klub besar tempat banyak uang bisa dihabiskan, mereka juga melihat liga yang mereka mainkan, dan jenis sepakbola yang bisa berbuah hasil.”

“Jika Anda melihat Pep, ia ingin bermain penguasaan bola, tetapi ia mengetahui juga bahwa di Liga Primer Inggris terkadang menjebak dan itu bisa menyebabkan kebobolan.”

“Jadi, sekarang dia terkadang memilih untuk lebih bertahan dan menunggu waktu yang tepat untuk menekan, dan memenangkan bola dan kemudian melakukan serangan balik cepat."

Kedatangan Klopp di EPL pada musim 2015/16 bertepatan dengan perubahan yang cukup drastis dalam cara bagaimana sepakbola dimainkan.

Butuh sedikit waktu bagi pelatih asal Jerman itu untuk membangun timnya, tetapi dia sekarang telah mengubah Merseyside Merah menjadi tim terbaik di Inggris dan membawa Jordan Henderson cs ke ambang gelar liga pertama mereka dalam 30 tahun.

Jurgen Klopp Liverpool 2019-20Getty Images

Liverpool baru kalah dua kali dalam dua musim terakhir EPL dan belum pernah kalah di Anfield pada kompetisi yang sama sejak April 2017.

Klopp telah menciptakan tim yang memiliki tulang belakang yang kuat. Bek sayap yang sama berbahayanya dengan pemain sayap murni di lini serang, Mohamed Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mane yang terus berlari dan posisinya dapat diotak-katik.

“Formasi kami ketika bermain dengan ketiganya di depan seperti berlian. Bisa menggunakan 4-5-1 atau 4-3-3. Tentu, saya lebih suka menyebutnya 4-2-3-1 atau 4-4-1-1. Dalam sebagian besar situasi, itu adalah formasi yang bagus,” ujar Klopp kepada Liverpool.com.

“Tetapi ini tidak melulu tentang formasi, namun tentang para pemain. Tugas saya adalah membawa para pemain ke posisi terbaik di mana mereka dapat membantu tim dengan hal-hal terbaik yang bisa mereka lakukan.”

“Jika saya ingin bermain dengan formasi tersebut, saya akan melakukannya. Tetapi bukan berarti kami melewati pekan ini dan menjadi sangat kreatif hanya karena hal-hal seperti itu. Kembali lagi pada akhirnya, penting bagi para pemain untuk bermain [dengan insting],” pungkasnya.

Jelas, saat menonton Liverpool, kita akan melihat bagaimana tim ini memiliki keinginan kuat untuk merebut bola kembali dengan cepat. Mereka menekan sejak dari garis pertahanan lawan. Ini yang terus mereka ulang-ulang di kamp latihan.

Bukan hanya di Liverpool yang mengalami perubahan taktik dalam beberapa tahun terakhir. Unai Emery sempat mencoba dan gagal mengaplikasikannya di Arsenal, terutama karena ia tidak memiliki pemain di lini tengah untuk dapat melakukannya.

Ralph Hasenhuttl cukup berhasil di Southampton. Ia mencoba menjalankan taktik Klopp tersebut. Sementara di Divisi Championship, Leeds United era Marcelo Bielsa mampu tampil memukau dengan gaya permainan mereka yang intens. Kini, mereka di ambang promosi ke EPL.

Tidak ada keraguan bahwa tempo laga berangsur cepat dari tahun ke tahun dan banyak yang memprediksi akan sulit bagi pemain muda jebolan akademi untuk konsisten di level terbaik jika mereka tidak diberkati dengan atribut yang elite sebagai atlet.

"Saya pikir permainan akan selalu berubah," kata Omer Riza, pelatih Watford U-23.

“Satu yang pasti adalah permainan sudah menjadi lebih cepat dan lebih fisikal. Saya pikir untuk menjadi pemain elite, Anda mungkin membutuhkan atribut-atribut tersebut untuk dapat bersaing di level tertinggi.”

“Di level muda ada dua tujuan. Salah satunya adalah untuk membawa anak-anak U-23 ke tim utama dan yang lainnya adalah untuk mengembangkan dasar-dasar bermain sehingga mereka siap untuk mengatasi kerasnya sepakbola profesional, serta memiliki pemahaman taktik.”

“Sebagai pelatih, saya mencoba sedikit fokus pada segala aspek. Intensitas sangat penting karena jika itu tidak ada, mereka hanya tersesat saat mereka mencoba untuk melangkah ke tim utama.”

Omer RizaAlan Cozzi/Watford FC

"Jadi saya mencoba menerapkannya semampu saya. Intensitas yang pas, mereka berlatih pada level yang akan diduplikasi ketika mereka naik ke tim utama.”

“Secara taktik sangat penting bagi mereka untuk memahami bagaimana cara mengalahkan lawan, bagaimana menghadapi lawan, dan mampu menghadapi perubahan untuk memenangkan pertandingan atau menjaga keunggulan."

“Satu hal yang pasti adalah, satu pemain tidak akan pernah bermain di bawah manajer yang sama untuk waktu yang panjang, jadi mereka juga harus dapat beradaptasi, mereka harus dapat memainkan cara yang berbeda, dan juga dalam posisi yang berbeda.”

“Itulah pentingnya Anda tidak hanya memberi pemain muda pemahaman yang sempit tentang permainan. Anda harus memberi mereka yang luas dan Anda mengeksplorasi mereka untuk berbagai jenis formasi, berbagai jenis taktik sepanjang musim.”

“Di Watford, kami pasti menyediakannya dalam kurikulum kami. Kami mungkin memainkan satu formasi dan kemudian mencoba memainkan formasi berbeda.”

“Itu sama dengan taktik, ketika kami ingin memainkan blok rendah, menengah, atau tinggi. Itu untuk memastikan kami memberi mereka berbagai cara mempelajari permainan, sehingga mereka bisa beradaptasi,” tambahnya.

Mampu beradaptasi dengan gaya main berbeda tetap menjadi atribut utama bagi pemain manapun jika mereka ingin menikmati kesuksesan panjang di tingkat manapun.

Seperti yang dikatakan Riza, periode pendek seorang manajer saat ini dalam suatu pekerjaan, menuntut para pemain harus menyesuaikan diri dengan filosofi yang berbeda secara konstan sebelum mereka gantung sepatu.

Sementara seni gegenpressing mungkin menjadi pilihan banyak pelatih saat ini, namun ada orang lain yang akan selalu melihat sesuatu melalui sudut pandang berbeda.

Stam, yang mengundurkan diri sebagai pelatih Feyenoord pada Oktober 2019, pernah bermain di bawah arahan sejumlah juru taktik kala aktif sebagai pemain, antara lain: Sir Alex Ferguson, Carlo Ancelotti, dan Roberto Mancini. Meski begitu, saat menjadi pelatih, ia tetap kukuh menggunakan gaya main penguasaan bola yang didapatkannya sejak kecil, di Belanda.

Gaya yang sama dibawa Stam saat melatih klub Divisi Championship, Reading, pada musim 2016/17. Pada musim perdananya, ia hampir mengantarkan The Royals promosi ke EPL. Sayang, mereka dikalahkan Huddersfield Town pada partai final play-off via adu penalti.

HD Jaap Stam

"Saya bukan orang yang suka menjiplak,” kata Stam.

“Saya suka tim yang saya latih bermain dengan pendekatan penguasaan bola, berduel untuk mendapatkan bola, lalu memindahkannya dengan cepat jika ada kesempatan untuk menciptakan peluang, dan mencetak gol.”

“Ketika Anda bermain dan masuk ke manajemen, Anda akan mulai menciptakan filosofi Anda sendiri dan cara berpikir Anda sendiri.”

“Tentu saja Anda akan memikirkan beberapa manajer yang pernah melatih Anda dalam karier dan bagaimana pendekatan permainan mereka atau cara melatih, tetapi saya jarang menggunakannya untuk diri saya sendiri.”

“Ketika saya dipercaya Reading, saya menghabiskan banyak waktu menonton mereka karena kesepakatan semakin dekat. Saya melihat bagaimana mereka bermain dan melihat mereka banyak bermain dengan formasi 4-4-2 dengan bola panjang dan distribusi langsung ke kotak penalti, tanpa berusaha menjaga penguasaan bola.”

“Jadi ketika saya mulai melatih di sana, pada hari pertama kami menggali dan mentransfer cara berpikir kami kepada skuad. Banyak yang berhasil dalam pertandingan, terkadang tentu saja tidak, tetapi itu normal untuk setiap tim ketika Anda mencoba dan bermain dengan cara tertentu.”

“Itu selalu punya pertaruhan tersendiri dalam penerapannya, apakah itu akan berhasil atau tidak. Akankah para pemain menyukainya? Akankah mereka mulai merasa percaya diri? Tetapi kami mencoba membuatnya menjadi hal yang menyenangkan bagi para pemain dan mereka mulai mempercayainya.”

"Pada awal musim, itu tidak mudah. Tetapi, akhirnya menjadi lebih mudah dan terus lebih mudah bagi mereka dan kami memenangkan banyak pertandingan pada musim pertama saya.”

“Salah satu perubahan terbesar sepakbola yang telah terlihat dalam beberapa tahun terakhir adalah bagaimana saat ini penjaga gawang dituntut untuk bermain.”

Kini, tidak cukup hanya menepis tendangan lawan jika kiper ingin tetap di papan atas, tanyakan saja pada Joe Hart. Saat ini kiper harus bisa mendistribusikan bola dari belakang, nyaman dengan bola di kaki mereka untuk memulai penguasaan bola, meskipun di bawah tekanan dan memberikan umpan berisiko, serta memulai serangan balik.

Kedatangan Alisson telah membantu mengubah Liverpool. Sementara Ederson telah mengilhami Manchester City sejak Guardiola merekrutnya dari Benfica pada 2017.

“Masa kini, kiper modern lebih terintegrasi dalam permainan,” ujar mantan kiper Chelsea Jurgen Macho, yang sekarang menjadi pelatih kiper di Rapid Vienna, kepada Goal.

“Kiper sekarang memainkan peran besar dalam sepakbola selama pertandingan.”

Ederson Pep Guardiola Manchester City CompositeGetty

“Mereka terintegrasi dalam taktik. Secara teknis, Anda harus bisa bermain dan ini adalah arah perjalanan dalam sepakbola. Anda juga harus lebih bugar.”

“Bagi saya, penting bahwa seorang penjaga gawang harus tetap pandai melakukan penyelamatan. Itulah tugas inti untuk menyelamatkan bola terlebih dahulu. Bagian itu tidak akan pernah berubah. Tapi sekarang Anda harus memiliki kedua atribut,” pungkasnya.

Sementara itu, Stam menegaskan bahwa baginya peran kiper memang sangat krusial bagi timnya saat ini.

“Bertahun-tahun yang lalu mereka hanya benar-benar digunakan untuk mempertahankan dan menendang bola panjang ke depan, tetapi sekarang mereka perlu membangun permainan dan membuat pilihan yang tepat dengan bola di kaki mereka,” kata Stam.

“Ada banyak perhatian pada mereka sekarang dan itu bagus jika bola menuju ke kiper dan dia bisa mengendalikannya dan membuat pilihan yang tepat untuk salah satu rekan satu timnya, daripada hanya meluncurkannya ke depan dan membuat mereka mencoba memenangkan bola.”

"Saat itulah Anda akhirnya mengejar bola sesering mungkin, itulah sebabnya banyak pelatih sekarang menggunakan penjaga gawang dan bermain dengan penguasaan bola.”

“Seni sebagai kiper yang telah berubah dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan perubahan yang telah kita lihat di semua aspek kepelatihan dalam sepakbola. Metode yang dicoba dan diuji akan selalu tetap, tetapi ide-ide baru dan filosofi gres akan memastikan permainan terus berkembang.”

"Masih banyak yang akan terjadi,” tutur Stam, memprediksi.

“Saya rasa para pelatih akan semakin memikirkan taktik selama beberapa tahun ke depan.”

“Sehubungan dengan manajer sebelumnya yang melakukannya dengan sangat baik dan memenangkan banyak trofi, permainan akan berubah sepanjang waktu.”

“Pemain menjadi lebih cepat. Mereka adalah atlet sekarang yang akan dibandingkan dengan atlet tahun lalu. Lalu, akan ada lebih banyak uang yang dipertaruhkan.”

"Jadi, akan ada rancangan taktik-taktik baru dan perkembangan permainan yang bisa dilakukan setiap pelatih,” pungkasnya.

Iklan

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google