Neymar boleh saja memenangkan penghargaan Pemain Terbaik Liga Champions Pekan Ini setelah bersinar di babak perempat-final, namun jika Dayot Upamecano bermain di peran yang lebih glamor, dia mungkin bakal menerima penghargaan tersebut.
Bek sentral itu kurang mendapat apresiasi di ajang penghargaan individu, tetapi pemain berusia 21 tahun itu tetap menampilkan yang terbaik di pertandingan terpenting guna membantu klubnya RB Leipzig menyingkirkan Atletico Madrid di Lisbon lewat skor 2-1.
Dengan Diego Simeone, master sepakbola defensif selama sedekade terakhir, mengawasi permainannya, dia benar-benar menampilkan performa luar biasa.
“Dia adalah binatang buas dari menit pertama hingga menit terakhir,” tegas pelatih Julian Nagelsmann di sesi konferensi pers setelah menyaksikan aksi pemain muda itu mendominasi bintang Atleti Diego Costa, salah satu penyerang paling tangguh dan lihai. "Dia selalu konsentrasi dan dia bermain dengan sangat cerdas."
Sayangnya untuk Nagelsmann, prospek dia melatih bek tengah itu selama lebih dari satu tahun lagi tampak semakin tipis.
Meskipun Upamecano telah menandatangani kontrak baru dengan Leipzig pada Juli kemarin, di dalamnya terdapat klausul penebusan di angka €50 juta (£45 juta / $59 juta).
Selagi si pemain ingin tetap bersama Leipzig setidaknya selama satu tahun lagi guna menyempurnakan permainannya yang sudah mengesankan, klub-klub besar seperti Bayern Munich, Paris Saint-Germain, Real Madrid dan banyak tim besar Liga Primer termasuk Manchester United dan Arsenal saat ini memantau situasinya.
Di era di mana bek tengah yang punya kualitas rata-rata dibanderol dengan harga lebih tinggi, klub-klub elite Eropa tentunya tidak akan melewatkan kesempatan mendatangkan Upamecano.
Ketika namanya sekarang semakin tenar, minat dari klub-klub besar bukanlah hal baru bagi pria Prancis tersebut, yang sudah terlihat potensinya sejak masuk akademi Valenciennes.
Sebelum hengkang dari tim Ligue 2 lima tahun lalu ke Austria, dengan ia merapat ke klub Red Bull di Liefering, Upamecano sempat dikaitkan dengan Manchester United.
Manajer Setan Merah Ole Gunnar Solskjaer, yang memiliki segudang masalah pertahanan yang harus diselesaikan pada musim panas ini, pastinya akan menyesal jika tidak bisa mencapai kesepakatan .
imago images / Sonntag“Upamecano adalah pemain terbaik malam ini, dia tangguh di lapangan,” kata legenda United Rio Ferdinand, salah satu bek tengah paling tangguh saat masih aktif bermain, kepada BT Sport setelah pertandingan Leipzig kontra Atletico.
Valenciennes, pastinya, juga harus menyesali momen di mana mereka hanya menghasilkan uang sebesar €2,2 juta dari hasil menjual aset berharga mereka, yang bahkan belum pernah tampil di tim utama.
Bagaimana pun, Upamecano adalah penyelamat sebuah klub yang sangat membutuhkan uang agar mereka dapat tetap bertahan, dan menurut salah satu pelatihnya saat itu, Olivier Bijotat, dia masih punya sejumlah atribut yang membuatnya menonjol sebagai bocah 15 tahun.
“Dia didorong oleh keinginannya untuk memenangkan kembali bola. Dia selalu menjaga kebugaran. Dia selalu mencoba untuk menempatkan dirinya dalam situasi yang menguntungkan,” katanya kepada Voix du Nord . “Bedanya sekarang dia melakukannya di perempat-final Liga Champions melawan Atletico, tim yang tidak pernah mudah untuk dihadapi.
“Sekarang ini dia memiliki segalanya, gabungan antara kekuatan dan kualitas teknis yang tak tertandingi. Ketika tiba di Valenciennes, dia memiliki kekuatan atletik tetapi banyak membuang bola. Dia waktu itu sudah menjadi bek yang hebat, jadi kami tidak takut untuk melatihnya di lini tengah atau latihan menyerang sehingga dia bisa menjadi lebih ‘fluid’, untuk memungkinkannya mencapai inti permainan dan melihat lebih banyak bola.
“Itu mudah karena dia sangat menuntut pada dirinya sendiri. Jika Anda memberinya lima sesi latihan sehari, dia akan berada di lapangan lima kali."
Tak mengherankan Upamecano kemudian dibandingkan dengan bek Real Madrid Raphael Varane. Keduanya sama-sama dibesarkan di utara Prancis, mempelajari dasar-dasar sepakbola mereka di ujung timur laut negara itu dan punya potensi sejak usia muda.
GettyBijotat menjadi saksi saat duo pemain itu hampir mencapai level permainan profesional, dan selagi keduanya berakhir dengan gaya bermain yang serupa, dia mengatakan bahwa Upamecano memulai kariernya dengan sangat berbeda dari Varane, yang berada di akademi Lens sejak usia sembilan tahun.
“Latar belakang Dayot adalah kekuatan. Sebelum dia di Valenciennes, dia di Evreux, yang merupakan sepakbola jalanan. Dia tidak memiliki ‘kemudahan’ yang sama dengan Raphael, tapi dia belajar dengan cepat,” katanya.
Bahkan setelah ia mencapai jalur profesional, jalan Upamecano untuk mencapai puncak terbilang tidak biasa.
Varane sendiri pindah dari Lens langsung ke Real Madrid, sedangkan rekan senegaranya yang lebih muda itu mencoba naik level di klub milik Red Bull, dengan melompat ke sepakbola Austria bersama Liefering dan Red Bull Salzburg sebelum berakhir di Leipzig.
Ujian terbesar dalam karier mudanya ini akan terjadi pada Rabu (19/8) dini hari WIB nanti, dengan membawa Leipzig menjalani semi-final Liga Champions melawan PSG sebelum kemungkinan final melawan Bayern Munich atau Lyon. Tidak mengejutkan, pemain bernomor punggung lima itu melihatnya sebagai tantangan menarik.
“Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk melangkah sejauh mungkin,” kata Upamecano. "Kami mengharapkan pertandingan besar dan kami akan melakukan segalanya untuk mencoba dan memenangkannya."


