Luka Modric menegaskan ambisinya untuk terus bersaing di level tertinggi setelah membawa Real Madrid mengeliminasi Atalanta dari Liga Champions.
Madrid menyingkirkan wakil Italia itu dengan agregat 4-1, setelah mengamankan kemenangan 1-0 di pertemuan pertama dan menang 3-1 di leg kedua babak 16 besar yang digelar di Estadio Alfredo Di Stafeno, Rabu (17/3) dini hari WIB tadi.
Di pertandingan semalam, Modric yang menjadi motor lini tengah Madrid memberi assist untuk gol pembuka Karim Benzema di menit ke-34, dengan timnya memperbesar keunggulan di satu jam permainan melalui penalti kapten Sergio Ramos.
Atalanta arahan Gian Piero Gasperini sempat membalas berkat gol tendangan bebas Luis Muriel di menit ke-83, namun pemain pengganti Marco Asensio menjauhkan kemenangan Los Blancos semenit berselang untuk sekaligus mengunci kelolosan.
Seusai bubaran, Modric kepada laman resmi UEFA mengatakan: “Pelatih [Zinedine Zidane] meminta kami untuk melakukan tekanan tinggi dan itulah yang kami lakukan dan itu memberi kami kepercayaan diri.”
Modric, yang kini sudah melewati usia kepala tiga, menolak untuk mengaku tua dan bertekad membawa Madrid melangkah jauh di kompetisi elite Eropa.
“Saya merasa seperti 27 tahun lagi!”, lanjut bintang asal Kroasia ini. “Saya tidak melihat usia saya, yang terpenting adalah apa yang Anda lakukan di lapangan, bukan apa yang dikatakan paspor Anda.
“Saya masih merasa lapar untuk bersaing di level tertinggi, saya bekerja setiap hari untuk melakukannya.
“Yang penting sekarang adalah lolos ke babak delapan besar setelah gagal di dua tahun terakhir. Kami menunjukkan kepada mereka bahwa tim ini masih punya rasa lapar. Kami bisa melangkah jauh.”
Berkat hasil semalam, Madrid kini telah lolos ke babak delapan besar Piala Eropa/Liga Champions untuk kali ke-36. Catatan itu enam lebih banyak dibanding pesaing terdekatnya yakni Bayern Munich (30).
Sementara itu, pelatih Madrid Zidane sukses memenangkan 30 pertandingannya di Liga Champions dari 49 kesempatan sebagai juru taktik, hanya kalah dari Jupp Heynckes (42) dan Pep Guardiola (48) yang memiliki jumlah pertandingan lebih sedikit untuk mencapai 30 kemenangan di kompetisi tertinggi Eropa.




