Penyerang Belanda Ruud van Nistelrooy mencatatkan total 150 gol bersama Manchester United di lima musimnya di Old Trafford, namun tak ada yang mengalahkan lesakannya ke gawang Fulham pada musim 2002/03 silam.
Pada 22 Maret 2003 silam, 18 tahun lalu, Van Nistelrooy yang memperkuat Setan Merah berlari dari tengah lapangan dengan menggirng bola. Ia melewati beberapa pemain The Cottagers sebelum melepaskan tendangan ke pojok kanan yang mengecoh kiper Maik Taylor.
Van Nistelrooy di pertandingan itu sukses mencetak hat-trick untuk membuat United menang 3-0, dan di akhir musim klub yang ia bela berhasil keluar sebagai juara Liga Primer Inggris.
Berbicara kepada laman resmi klub, pemain yang dahulu mengenakan jersey No.10 itu mengatakan: “Saya pikir gol terbaik yang pernah saya cetak di sepanjang karier - bukan cuma untuk United - adalah melawan Fulham di Old Trafford. Itu adalah gol di mana saya berlari dari tengah lapangan dan mencetak gol. Saya pikir itu adalah momen terbaik dalam karier saya, jika ditengok lagi ke belakang.
“Tentu saja, saya selalu mencetak banyak gol di dalam area penalti dan yang ini benar-benar berbeda dari yang lain mengingat di mana saya pertama kali menerima bola tersebut. Normalnya saya menuntaskan peluang dengan satu, dua sentuhan, mungkin tiga sentuhan, namun gol yang itu tidak seperti itu.
“Dilihat kembali, itu adalah assist yang luar biasa dari Roy Keane! Saya mendapatkan bola di tengah lapangan, saya berbalik dan mulai mendribel… dan saya tidak berhenti. Saya melakukan perubahan kecepatan, berlari melewati dua gelandang, melesat menghadapi salah satu bek sentral, melewatinya dan kemudian, saat saya mendekat ke kotak penalti, saya mengambil sentuhan ke kiri namun melakukan cut back ke kanan dan mendorongnya ke pojok.
“Karena saya melakukan penyelesaian di tengah langkah, kiper tidak punya waktu untuk dirinya; dia tidak bisa bereaksi dan bola itu langsung bergulir ke gawang. Itulah keistimewaan gol tersebut: melakukan cut back dan benar-benar mengejutkan kiper dengan itu. Dalam pikiran saya, saya seperti: woah! Saya sangat senang dengan gol tersebut.
“Kemudian terjadilah selebrasi. Kapan pun saya mencetak gol, fans United selalu meneriakkan, ‘Ruud! Ruud! Ruud!’ ke arah saya, itu menghadirkan perasaan yang luar biasa. Dari hari pertama, bahkan sebelum saya menyentuh bola, para suporter sudah menyanyikan nama saya.
“Perasaan itu sudah lama saya nantikan. Saya mendapatkan cedera lutut yang buruk pada 2000, hari di mana saya sejatinya merapat ke United. Saya akhirnya bergabung setahun kemudian, jadi waktu itu sudah spesial hanya untuk sekadar menjadi pemain United, tapi sesuatunya lantas berjalan luar biasa buat saya.
“Saya pernah juga mencetak dua gol melawan Fulham - menaklukkan Edwin [van der Sar], tentu saja - di Stretford End di debut saya di Liga Primer, dan semua tenaga seperti bersatu dan mendorong saya ke level yang lebih tinggi.
“Koneksi dengan fans adalah salah satu dorongan tersebut. Itu mendorong Anda. Anda menginginkan itu selalu, untuk memiliki stadion yang meneriakkan namamu. Itu adalah perasaan yang luar biasa, yang terbaik di dunia!”
