Ben Chilwell and Reece JamesGetty Images

Kejutan Dari Wing-Back: Reece James & Ben Chilwell Obat Mujarab Pereda Lara Chelsea

Newcastle United memarkir bus dan sukses membikin Chelsea frustrasi selama 64 menit saat keduanya bertemu di ajang Liga Primer Inggris, Sabtu (30/10).

Tapi tiba-tiba datanglah Reece James, yang memecah kebuntuan lewat sepakan geledek kaki kiri. Tak sampai 13 menit kemudian, bek kanan Inggris itu kian membenamkan tuan rumah lewat sepakan satu sentuhan, memanfaatkan gawang The Magpies yang nyaris tanpa kawalan.

Tak ada pemain Chelsea yang terlibat gol lebih banyak dari James musim ini, dan kontribusi terbarunya datang di saat yang sempurna: saat The Blues sedang krisis penyerang.

Pasca-laga, yang selesai dengan skor 3-0 berkat penati telat Jorginho, manajer Chelsea Thomas Tuchel berseloroh: "Reece tidak perlu latihan menembak, ia menembak bagai kuda!"

Beberapa bahkan bilang seharusnya ia yang mengeksekusi penalti, yang dimenangkan Kai Havertz, tetapi dua gol bukanlah torehan yang main-main bagi seorang wing-back.

Bahkan, dengan empat gol, jebolan akademi Chelsea itu merupakan topskor mereka di semua kompetisi, seimbang dengan Romelu Lukaku. Ia juga duduk di posisi kedua sebagai pemberi assist dengan tiga torehan.

Ajaibnya, bukan cuma James yang menyumbang gol dari wing-back; Ben Chilwell dan Marcos Alonso juga turut ambil bagian musim ini.

Skema Tuchel jelas berperan sebagai faktor, taktiknya mewajibkan wing-back Chelsea sering menyerang, dan James melakukan umpan silang lebih banyak dari pemain manapun di lapangan dalam 45 menit pertama di St. James' Park.

Namun, Tuchel juga melakukan perubahan subtil tetapi krusial yang memungkinkan James berkontribusi penting.

Ia menginstruksikan gelandang perusaknya, N'Golo Kante, bertukar posisi dengan sang wing-back, sehingga James mendekat ke kotak penalti dan bintang Prancis itu bergeser ke sisi sayap.

Perubahan itu, sekaligus masuknya Ruben Loftus-Cheek dan Ross Barkley, membuyarkan skema pertahanan bandel Newcastle.

Hasilnya James seolah diberi panggung untuk memamerkan kebolehan finishing-nya, yang memang pantas dipamerkan, apalagi dengan Hakim Ziyech dan Havertz yang masih mandul.

"Mungkin seharusnya saya coba memindahkan mereka ke wing-back," sindir Tuchel setelah laga.

Sejak sebelum sepak mula, Tuchel sadar betul pentingnya keberadaan wing-back dalam formasi 3-4-3 racikannya, yang sukses mengubah nasib Chelsea sejak penunjukkannya sebagai pengganti Frank Lampard Januari lalu.

"[Wing-back] adalah posisi yang sangat penting dalam sistem kami," ujar Tuchel kepada reporter. "Bagian yang amat penting dari posisi itu adalah mereka tiba di kotak penalti dan menjadi ancaman dari posisi tersebut – tidak hanya mendaur ulang penguasaan bola dari sayap atau mengontrol bola."

"Jadi inilah yang kami mau dan tuntut. Dan saya gembira Chilly berkembang memenuhi potensinya dan terus-terusan menembus batas dirinya karena, menurut saya, [posisi wing-back] sempurna bagi pemain seperti dia."

"Kalau Reecey, kadang ia bermain sebagai bagian dari tiga bek. Saya tak akan menugaskan hal yang sama kepada Chilly. Soal karakter, ia bukan orang yang bisa bermain sebagai tiga bek. Ia lebih sering mengambil risiko, dan butuh terbebas saat tiba di posisi menyerang."

"Untuk Reecey, kami harus mendorongnya untuk percaya diri menusuk kotak penalti dan menjadi ancaman, karena ia bisa menjadi ancaman nyata baik secara posisi maupun teknis."

"Golnya fantastis, ke gawang Arsenal dan ke gawang Norwich. Penyelesaian dan kemampuan tekniknya sangat brilian tetapi mereka masih harus meresapinya, memahami jalannya pertandingan dan tahu kapan harus menusuk kotak penalti lawan dan kapan harus ikut melapisi pertahanan kotak sendiri."

"Semakin paham, rasanya akan semakin natural. Semakin tak dipikirkan, semakin bagus. Tetapi saya senang dengan semuanya. Marcos kuat betul di awal. Chilly sekarang sangat kuat. Reecey, sangat kuat."

Sukar untuk membantahnya, apalagi sebelum tiga gol James dalam dua laga, Chilwell juga baru saja mencetak empat gol dalam empat pertandingan. Soal Alonso, ia tampil brilian menghadapi Southampton di Piala Liga dan memang sudah terkenal sebagai bek penjebol gawang sejak dulu.

Chelsea memang 'cuma' menang tiga gol tanpa balas melawan tim calon degradasi, namun tetap saja tak bisa diremehkan mengingat krisis ketajaman mereka di lini depan - dan absennya Mason Mount yang mencetak hattrick pekan lalu.

Alih-alih terseok di tengah jadwal yang padat tanpa diperkuat ujung tombak mereka, kini Chelsea justru memimpin Liga Primer berkat keganasan wing-back mereka.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0