Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
FBL-POR-LIGA-BENFICA-MOREIRENSEAFP
Diterjemahkan oleh

Real Madrid Terancam Meledak, Mourinho Khawatirkan Hal Terburuk

Real Madrid berhasil mengalahkan Villarreal, namun laga tersebut menyisakan jauh lebih banyak hal daripada sekadar 3 poin.

Menurut surat kabar Marca, kartu merah Vinicius, protes Mourinho, ketegangan yang menumpuk, serta catatan disiplin berupa 6 kartu kuning dan satu kartu merah bagi Los Blancos, melukiskan sebuah pemandangan yang ingin dihindari sang pelatih dengan segala cara, agar kemarahan itu tidak berubah menjadi masalah yang justru berdampak pada timnya sendiri.

Mourinho mengakhiri pertandingan dalam kondisi marah yang luar biasa. Pelatih asal Portugal itu beralih dari merayakan gol bersama Vinicius, gol yang semestinya membuat Real Madrid memimpin 2-0, menjadi memegang kepalanya dengan kedua tangan ketika teknologi VAR menganulir gol tersebut, sebelum akhirnya pemain Brasil itu diganjar kartu merah.

Sejak momen itu, pertandingan memasuki atmosfer yang sangat tegang, protes semakin bertambah, intensitas keberatan dari bangku cadangan meninggi, dan Real Madrid harus bertahan dengan 10 pemain.

Gambaran paling bermakna muncul setelah peluit panjang. Mourinho memutuskan untuk tidak tampil di hadapan media, sebuah keputusan yang diketahui Marca bertujuan menghindari pernyataan yang bisa membuatnya terkena sanksi dan mengancam keikutsertaannya di El Clasico. Sang pelatih memilih diam ketimbang memanaskan polemik yang tetap kuat terasa setelah pertandingan.

Di ruang ganti, kemenangan tidak menghapus rasa kecewa. Perasaan diperlakukan tidak adil akibat sejumlah keputusan perangkat pertandingan berbarengan dengan kelegaan karena meraih 3 poin penting. Meski demikian, Mourinho menyadari bahwa kemarahan, sekalipun bisa dipahami dari sisi para pemainnya, juga bisa berubah menjadi pedang bermata dua jika mulai memengaruhi perilaku dan level penampilan mereka.

Kartu merah Vinicius menjadi contoh paling nyata dari konsekuensi yang bisa ditinggalkan malam seperti itu. Pemain Brasil tersebut telah meminta maaf kepada rekan-rekannya dan kepada para suporter, tetapi rumusan laporan pengadil membuka pintu bagi penjatuhan sanksi yang bisa membuatnya absen di laga-laga penting.

Inilah skenario yang ingin dihindari Mourinho. Pelatih Portugal itu tidak meminta tim melupakan apa yang terjadi, dan tidak berharap rasa kecewa itu hilang dalam semalam. Ia justru ingin para pemain mampu mengarahkan kemarahan mereka ke jalur yang benar tanpa kehilangan fokus, serta mencegah protes, kartu, dan reaksi emosional menjadi lebih berpengaruh daripada sepak bola itu sendiri.

Risikonya melampaui sekadar polemik soal kepemimpinan wasit atau sebuah kartu merah. Dengan musim berat yang menanti tim dan laga-laga krusial yang membayang di depan, Real Madrid tidak bisa membiarkan setiap insiden kontroversial mendorong mereka ke dalam pusaran ketegangan, sanksi, dan pengurasan tenaga.

Persoalan perwasitan tetap berada di tangan Mourinho dan para pejabat klub, sedangkan jawaban tim harus diberikan di atas lapangan. Gagasannya jelas: pelatih Portugal itu tidak ingin krisis ini sampai menjatuhkan tim atau merusak perjalanannya.

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google