Manajemen PSIS Semarang berharap komiter disiplin (Komdis) PSSI lebih tegas dalam memberikan sanksi kepada pemain yang melakukan pelanggaran keras, dan membahayakan pesepakbola lainnya.
PSIS merasa kecewa dengan sanksi yang diberikan Komdis kepada Elisa Basna. Pemain Perebaya itu dikenakan sanksi larangan bermain di dua laga, serta denda Rp10 juta. CEO PSIS, AS Sukawijaya, menilai sanksi itu terlalu ringan.
Menurut pria yang akrab disapa Yoyok ini, pelanggaran yang dilakukan Basna terhadap Fredyan Wahyu sangat keras, dan bahkan membahayakan jiwa sang pemain. Yoyok mencontohkan kasus yang dialami pemain PKT Bontang, Jumadi Abdi, di tahun 2009, sehingga meninggal dunia.
“Kalau menurut saya hukumannya itu terlalu ringan. Kalau dilihat pelanggarannya, jelas sekali itu sangat disengaja, dan membahayakan keselamatan pemain, kok hanya dihukum seperti itu,” cetus Yoyok diwartakan laman Tribun Jateng.
“Semoga ke depan Komdis PSSI lebih tegas memberikan sanksi. Ini soal keselamatan pemain yang perlu mendapat perlindungan maksimal.”
“Hukuman dua kali [larangan bermain], dan denda Rp10 juta saya kira cukup ringan. Tidak membuat jera pemain. Saya kira Komdis harus lebih bijak menyikapi pelanggaran yang semua orang kalau melihat itu fatal. Itu bisa mengakibatkan kematian, karena sengaja,” timpal general manager PSIS Wahyu Winarto.
“Pelanggaran itu sangat jelas disengaja, dan rekamannya sangat jelas itu pelanggaran yang sangat fatal. Dengan posisi dia [Fredyan] di bawah, dan ke arah perut. Sudah ada pelanggaran yang menendang perut kemudian mengakibatkan kematian.”


