Kompetisi sepakbola tertinggi Korea Selatan K League 1 (atau yang dulu dikenal sebagai K-League) bakal dimulai pada Jumat (8/5) esok, namun otoritas setempat memberlakukan aturan yang ketat mengingat pandemi virus corona masih berlangsung.
Selagi Eropa mendekati dua bulan penuh tanpa sepakbola setelah ditangguhkan akibat pandemi ini, salah satu liga terbesar di Asia ini justru siap untuk memberikan gambaran awal tentang bagaimana rupa pertandingan setelah kembali dimainkan.
Meski secara geografis sangat dekat dengan tempat asal Covid-19, Korea Selatan berhasil menghindari dampak terburuk virus ini dengan hanya mencatat 255 kematian dari total 10.806 yang terinfeksi hingga saat ini.
Keberhasilan Korea Selatan dalam menanggulangi virus ini sebagian besar berkat pengujian ekstensif dan penelusuran efektif terhadap mereka yang terinfeksi - dua langkah yang juga akan dilakukan K League 1 agar sepakbola bisa kembali.
Setiap pemain dan perangkat pertandingan baru-baru ini dites untuk virus corona - dengan hanya hasil negatif yang dikembalikan - sebagaimana kompetisi diizinkan untuk segera dimulai.
Pengujian yang ketat seperti itu akan tetap berlaku dan jika ada seorang pemain yang positif, seluruh tim akan dikarantina selama dua minggu.
Pertandingan juga akan dimainkan tanpa penonton - meskipun pemerintah Korea Selatan telah melonggarkan aturan pembatasan pada 6 Mei, dengan membuka sekolah dan museum - yang itu berarti penggemar sepakbola diperbolehkan kembali lebih cepat dari yang diharapkan.
Sebelum skorsing sepakbola di seluruh dunia diberlakukan, Suwon Bluewings sempat menjadi tuan rumah pertandingan Liga Champions Asia dengan para suporter yang hadir diharuskan mengisi formulir kesehatan, memeriksakan suhu tubuh, menggunakan pembersih tangan sebelum memasuki stadion dan mengenakan masker. Tindakan serupa kemungkinan akan diterapkan lagi ketika fans diizinkan kembali ke tribun.
Musim K League 1 seharusnya dimulai pada awal Maret lalu tetapi tidak pernah terwujud karena Covid-19 ini, dengan kompetisi sekarang dikurangi dari 38 menjadi 27 pertandingan saja dan ancaman degradasi tetap ada meski musimnya menjadi lebih singkat.
Di lapangan, pemain tidak diperbolehkan meludah, berjabat tangan, dan bahkan dilarang berbicara satu sama lain untuk mengurangi potensi penyebaran virus corona.
"Hal-hal seperti tidak meludah selama pertandingan, kami tidak masalah dengan itu tetapi jika tidak berkomunikasi dengan rekan satu tim adalah hal yang mustahil," kata kapten Incheon United Kim Do-hyeok kepada wartawan bulan lalu.
"Jika kita tidak bisa melakukan komunikasi di lapangan, kita mungkin juga tidak akan bermain sepakbola sama sekali."
Manajer juga harus mengenakan masker setiap waktu, sesuatu yang diakui pelatih Suwon Kim Do-gyun membuat pekerjaannya jauh lebih sulit ketika di pinggir lapangan.
"Benar bahwa itu tidak nyaman ketika Anda mencoba memberikan instruksi selama pertandingan," kata Kim. "Tetapi pada saat ini, ini adalah hal-hal yang harus Anda lakukan."
Dengan kurangnya siarang langsung sepakbola di seluruh dunia, minat terhadap siaran K League 1 telah mencapai permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat ini sudah tercapai sepuluh kesepakatan di pasar luar negeri, mulai dari Tiongkok hingga ke Kroasia. Minat itu juga datang dari Australia, Jerman, Prancis, Italia, dan Amerika Serikat karena para penyiar ingin mengembalikan tayangan sepakbola di layar mereka.
