Laporan media mengungkap detail baru di balik pengunduran diri Osama Hawsawi dari jabatannya di Al Ahli, setelah periode terakhir diwarnai perselisihan seputar masa depan Marino Pusic asal Belanda, pelatih kepala tim, di tengah perbedaan pandangan yang jelas di dalam klub mengenai kelanjutan sang pelatih.
Menurut laporan surat kabar "Okaz", Hawsawi menuntut pemecatan Pusic dan mendatangkan pelatih pengganti, dengan alasan ketidakpuasannya atas kinerja yang ditunjukkan tim kepelatihan, di samping adanya rasa tidak puas di kalangan sejumlah pemain Al Ahli terhadap gaya dan cara sang pelatih mengelola tim.
Namun tuntutan Hawsawi berbenturan dengan sikap berbeda dari komite eksekutif Al Ahli, yang menolak gagasan pemecatan Pusic dan bersikeras mempertahankannya, dengan menegaskan bahwa sang pelatih terikat kontrak dengan klub dan harus diberi kesempatan penuh untuk melanjutkan pekerjaannya pada periode mendatang, hal yang membuat perselisihan seputar urusan teknis semakin meruncing.
Dengan komite eksekutif yang tetap pada pendiriannya, Hawsawi mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari jabatannya, sehingga tugasnya di Al Ahli berakhir setelah periode yang singkat, dan krisis sang pelatih berubah dari perdebatan teknis menjadi perselisihan administratif yang mengungkap perbedaan visi mengenai cara tim utama seharusnya dikelola.
Baca juga: Felix dan Jesus, hubungan layaknya ayah dan anak yang meledakkan bakat sang bocah emas
Krisis ini muncul di tengah hasil yang tidak stabil bagi Al Ahli di bawah kepemimpinan Pusic, di mana tim meraih 6 kemenangan dalam 11 pertandingan, berbanding 4 kekalahan dan satu hasil imbang, mencetak 21 gol dan kebobolan 14 gol, sebuah catatan yang mencerminkan kemampuan tim meraih kemenangan, tetapi pada saat yang sama menyisakan tanda tanya seputar tingkat stabilitas teknis.
Kekalahan terakhir dari Mamelodi Sundowns dengan skor 2-1 menjadi pukulan baru bagi tim, setelah mengakhiri perjalanan mereka di Piala Antarklub Benua, dalam sebuah pertandingan yang sempat membuat Al Ahli unggul sebelum tim Afrika Selatan itu membalikkan keadaan dan mencetak gol kemenangan, sehingga kritik terhadap penampilan tim dan keputusan tim kepelatihan pun kembali bermunculan.
Dengan demikian, pengunduran diri Hawsawi menjadi babak terbaru dari krisis di dalam Al Ahli, di saat komite eksekutif tetap bersikeras mempertahankan Pusic dan memberinya kesempatan baru, sementara hasil yang tidak stabil dan kritik yang kian meningkat menempatkan sang pelatih pada ujian berat pada periode mendatang, terlebih setiap kegagalan baru bisa membawa isu masa depannya kembali ke permukaan dengan lebih besar.



