OLEH YUDHA DANUJATMIKAIkuti di twitter
Nama Pietro Pellegri kembali mencuat ke permukaan setelah mencetak sepasang gol ke gawang Lazio, Senin (18/9) dini hari tadi. Meski pada akhirnya Genoa takluk 3-2, striker berusia 16 tahun itu masih hangat dibicarakan – sebab Pellegri menjadi pemain termuda yang mampu mencatatkan brace di Serie A Italia.
Tak berhenti sampai di situ, deretan klub besar ternyata sudah memantau perkembangan pemuda kelahiran Genoa tersebut. Manchester City, Manchester United, dan Tottenham Hotspur jadi perwakilan dari Inggris yang datang menyaksikan debutnya di Grifone musim lalu. Sementara itu, Inter Milan dan AC Milan diduga sudah mengajukan penawaran untuknya.
Apa yang sebenarnya menjadi daya tarik striker dengan tinggi 191 cm tersebut hingga para raksasa rela mengirim utusan untuk menontonnya langsung?
The New Luca Toni
"Saya punya The Next Lionel Messi di sini dan saya berharap pujian ini tak masuk ke dalam kepalanya," ungkap presiden Genoa, Enrico Preziosi, setelah Pellegri melakoni debutnya bersama Il Grifone pada Desember 2016.
SIMAK JUGA - Pellegri Idolakan Ibrahimovic
Tak hanya mencatatkan debut, Pellegri yang saat itu masih berusia 15 tahun 280 hari juga jadi pemain termuda sepanjang sejarah Serie A. Catatan ini sama dengan rekor Amedeo Amadei yang melakoni debut bersama Roma di usia yang sama pada 1937.
Pendapat presiden Preziosi tentu saja tidak bisa disalahkan. Kesan pertama orang awam ketika menyaksikan Pellegri bermain dalam debut memang seperti itu. Dribelnya lincah dan mampu memanfaatkan celah sempit, apalagi pemuda Italia itu dimainkan sebagai Second Striker atau sayap kanan.
PSNamun tampaknya terlalu sempit kalau menyandingkan Pellegri dengan Messi. Jujur saja, dribel Pellegri tidak selincah dan segesit Messi, bahkan gaya bermainnya sama sekali tidak mendekati La Pulga. Messi adalah pemain mungil yang komplet, mampu menginisiasi serangan dan mengakhirinya. Dribel, visi, dan semua atribut unggul striker ada pada Messi walau secara fisik La Pulga tak bisa dibandingkan dengan pemain top.
Pietro Pellegri adalah pemain yang benar-benar berbeda. Jika harus mencari kemiripan, tentu saja striker 16 tahun itu lebih layak disejajarkan dengan Luca Toni. Dengan tinggi badan 193 cm, Toni bukanlah striker yang mengandalkan sundulan. Sebaliknya, striker veteran Italia itu justru mahir dalam mengolah bola dengan kaki dan mencetak gol lewat tendangan geledek.
Sebagai salah satu striker terbaik Italia di masanya, Toni merupakan pembunuh ulung di dalam kotak penalty. Kemahiran dalam menggunakan kedua kaki sering merepotkan bek-bek yang mengawalnya. Belum lagi dengan postur nyaris dua meter dan otot kekar, sangat sulit untuk menggeser kuda-kuda eks pemain Bayern Munich dan Hellas Verona itu.
SIMAK JUGA - Seedorf: Italia Beruntung Punya Pellegri
Ketika kalah 3-2 dari Lazio, Pellegri menampilkan atribut-atribut mirip dengan Toni. Adapun pemuda tersebut memiliki keunggulan dalam hal kecepatan kaki. Sprint jarak dekatnya mampu membuat bek-bek Lazio terlihat seperti kura-kura. Dalam penciptaan gol pertama dan kedua Genoa, Pellegri memamerkan kelebihan itu.
Gol pertama tercipta dari umpan terobosan, di mana Pellegri mendribel bola ke kotak penalty, lalu melepas tembakan yang berbelok karena membentur bek Aquile. Gol kedua tercipta dari early cross Ervin Zukanovic, Pellegri melewati kawalan dua bek Lazio dan lebih dulu menjangkau bola untuk menempatkannya ke gawang Strakosha. Selain keunggulan postur dan kelincahan, tercipta kesan bahwa Pellegri memiliki daya juang plus naluri tajam di depan gawang. Meskipun begitu, Pellegri masih punya jalan panjang untuk menyamai – atau bahkan melampaui – prestasi Luca Toni.
Jalan Masih Panjang
“Ia punya ruang yang lebar untuk perkembangan dan jika ia bisa terus tumbuh seperti saat ini, maka kami akan memiliki pemain besar di tangan kami dalam beberapa tahun ke depan,” ungkap Ivan Juric, pelatih Genoa.
Apa yang dikatakan oleh Juric memang bukan omong kosong. Naluri gol dan postur tubuh Pellegri adalah berkat yang datang dari langit, belum lagi kecepatan kakinya. Striker berusia 16 tahun itu sudah memiliki keunggulan fisik sebagai bekalnya bersaing di papan atas Italia.
Pellegri perlu melengkapi bakatnya itu dengan determinasi tanpa henti untuk berkembang, mengasah kelincahan dribelnya, dan menajamkan konsentrasinya. Kualitas Pellegri dalam mencetak gol memang layak diacungi jempol, namun pemuda itu masih sering kehilangan bola di area krusial. Kecerdasan sepakbola Pellegri perlu ditingkatkan, tentu saja dengan memberinya menit bermain rutin.
Memang masih terlalu dini untuk menyandingkan Pellegri dengan Toni, tapi patut diketahui potensi sang striker memang begitu besar. Inter Milan, AC Milan, Juventus, hingga duo Manchester boleh saja mengincarnya, namun bermain secara rutin harus jadi prioritas Pellegri.
Pindah tanah ketika masih berada dalam tahap tunas bisa menghambat pertumbuhan sang striker. Setidaknya untuk empat hingga lima tahun ke depan, Genoa masih menjadi tempat yang ideal untuknya.
