Bertahan Seperti Islandia, Menyerang Seperti Meksiko

Komentar()
Goal Indonesia
Hasil yang diraih Islandia dan Meksiko pada Matchday 1 Piala Dunia 2018 banyak diperbincangkan fans sepakbola.

Pertandingan pertama seluruh grup Piala Dunia telah selesai Selasa (19/6) malam. Sejumlah hasil menjadi pokok pembahasan fans, termasuk beberapa yang mengajutkan. Hasil imbang 3-3 antara Spanyol dan Portugal di Grup B dianggap sebagai pertandingan paling memikat sejauh ini. Namun, kemenangan Meksiko atas Jerman juga mengasyikkan. Sementara, keberhasilan Islandia membendung Argentina pun mencuri perhatian.

Dari 16 pertandingan yang sudah digelar sudah tercipta 38 gol. Skor dengan selisih satu gol mendominasi hasil pertandingan. Hanya tiga pertandingan, yaitu Rusia versus Arab Saudi, Kroasia versus Nigeria, dan Belgia versus Panama, yang mencatat selisih skor di atas dua gol. Meski hasil imbang hanya terjadi pada tiga pertandingan, tapi kemenangan dengan selisih satu gol mendominasi, yaitu sebanyak sepuluh kali.

Mayoritas pertandingan berjalan ketat. Setiap tim yang bertanding mencoba memaksa tim lawan tidak leluasa memainkan operan dengan baik sambil menutup rapat-rapat setiap celah yang bisa dieksploitasi di wilayah pertahanan sendiri. Keberhasilan Islandia mencuri poin dari Argentina dapat dijadikan contoh sempurna.

Piala Dunia 2018 dibuka dengan skor telak, tapi setelahnya hasil pertandingan banyak berakhir dengan selisih satu gol saja.

Islandia terlihat tidak tertarik menguasai bola sama sekali. Hampir seluruh pemain mereka berada di wilayah pertahanan sendiri tanpa terlihat berupaya melakukan perebutan bola. Mereka membiarkan pemain Argentina bolak-balik melepas operan horizontal, tetapi memastikan tidak ada pergerakan vertikal yang membahayakan.

Zonal defense ini berhasil diterobos oleh kecepatan berpikir Sergio Aguero. Ketika menerima bola umpan Marcos Rojo, dengan cepat Aguero meghujamkan tendangan keras kaki kiri ke dalam gawang Hannes Halldorsson. Namun, dengan cepat pula Islandia berhasil membalas. Berawal dari operan kombinasi di sayap kanan, Alfred Finnbogason memanfaatkan bola liar untuk menjadi gol penyeimbang skor.

Puas mencetak gol penyeimbang. Para pemain Islandia menghabiskan sisa pertandingan dengan menutup setiap celah di area pertahanan. Argentina sebenarnya berpeluang mencetak gol kemenangan, tetapi eksekusi penalti Lionel Messi dapat dipatahkan Halldrosson.

Bisa dimaklumi jika Messi tidak menyukai penerapan taktik Islandia. "Buat saya Islandia praktis tidak melakukan apa-apa, yang mereka lakukan hanya lah bertahan," keluh sang megabintang. "Saya pikir kami pantas memenangkan pertandingan."

Dikurung lawan seperti ini, jelas Lionel Messi bukan penggemar sepakbola Islandia.

Messi boleh saja mengeluh. Namun, tren zonal defense di Rusia 2018 tidak bisa dicegah. Setelah demam possession football melanda dunia pada periode kesuksesan Barcelona dan timnas Spanyol pada periode akhir 2000-an hingga awal 2010-an, telah banyak tim memilih menerapkan penangkalnya. Dengan tujuan untuk mencegahl segala kreasi peluang yang lahir dari pergerakan vertikal.

Tren yang terjadi pada Euro 2016 sudah mengindikasikan skema anti-possession football . "Turnamen ini menampilkan banyak tim dengan taktik yang teratur," jelas anggota tim teknik UEFA Alain Giresse dalam laporan teknis turnamen. "Tidak ada pertandingan yang mudah dan tujuan utama tim adalah menutup segala celah, membentuk skema pertahanan, serta mencari kesempatan untuk melancarkan serangan balik."

Saat Euro 2016 terjadi 108 gol. Sejumlah 36 gol di antaranya hasil set piece atau peningkatan lima persen dari Euro empat tahun sebelumnya. Mirip seperti yang terjadi pada Piala Dunia saat ini ketika jumlah gol set piece mengalami peningkatan yang signifikan.

Mungkin saja jika Finnbogason gagal mencetak gol balasan, Islandia pada akhirnya akan melakukannya melalui set piece . Semua dari 16 gol Islandia selama kualifikasi berasal dari dalam kotak penalti dan 38 persen di antaranya dihasilkan berkat situasi bola mati.

Selain penalti, gol bunuh diri banyak tercipta pada Piala Dunia 2018.

Bahkan, tren zonal defense pada Rusia 2018 menimbulkan fenomena baru. Tujuh gol tercipta melalui eksekusi penalti. Bahkan jumlah itu bisa lebih banyak jika dua eksekusi tidak gagal dilaksanakan Messi dan Christian Cueva pada laga Peru versus Denmark.

Selain itu, jumlah gol bunuh diri pun meningkat. Empat gol percuma disarangkan rekan sendiri sepanjang Matchday 1 atau sama dengan yang terjadi sepanjang Piala Dunia empat tahun lalu. "Pencapaian" ini akhirnya dilewati ketika kapten Ahmed Fathy menjebol gawang sendiri pada laga perdana Matchday 2. Gol bunuh diri menjadi penentu kemenangan pada pertandingan Grup B antara Iran dan Maroko.

Pelatih Iran, Carlos Queiroz sengaja merancang taktik bertahan yang disiplin guna membuat pemain Maroko frustrasi. Puncaknya, striker Aziz Bouhaddouz menceploskan bola ke dalam gawang sendiri saat injury time babak kedua.

Kini, rekor gol bunuh diri tinggal berselisih satu gol lagi dari rekor terbanyak yang terjadi pada Prancis 1998. Bukan tidak mungkin rekor itu disamai atau bahkan terpatahkan karena dengan para pemain bertahan yang berada sangat dekat dengan gawang sendiri, tentu peluang terciptanya gol bunuh diri kian besar. 

Namun, terburu-buru menuduh zonal defense ini membosankan. Tanyakan kepada pendukung Jerman. Bagaimana perasaan mereka melihat Sami Khedira naik terlalu tinggi bernafsu memburu gol, lalu kehilangan bola yang dimanfaatkan lawan menyerang balik, melihat gelandang kreatif seperti Mesut Ozil melakukan sprint defensif untuk menutup celah, lalu kebobolan? Tidakkah mereka lebih suka melihat pertahanan Jerman yang lebih terorganisir dan tidak ceroboh?

Dari sudut pandang lain, Meksiko menangkal taktik Jerman dengan serangan balik yang sangat apik dan terencana. Para pemain El Tri seperti telah menjadikan buku taktik Joachim Low sebagai bacaan tidur selama enam bulan terakhir. Mereka sudah tahu betul ke mana Jerman akan menyerang dan ke mana mereka dapat mengeksploitasi kelemahan lawan.

Pelatih Juan Carlos Osorio menerangkan pendekatan Meksiko, "Kami sudah merancang rencana sejak enam bulan lalu. Ada sejumlah perubahan karena adanya cedera, tapi pada dasarnya kami memanfaatkan pemain yang sangat cepat di kedua sayap."

Kemenangan Meksiko tercipta berkat perencanaan yang matang.

Bagi Osorio, Meksiko adalah tim yang mengedepankan prinsip sepakbola menyerang. Namun, harus dilihat pula penampilan Meksiko secara keseluruhan. Setelah mencetak gol di babak pertama melalui Hirving Lozano, El Tri memilih bermain sabar di area sendiri sambil mengintip kesempatan melakukan serangan balik. Dalam kata lain, Meksiko pun secara sadar melakukan perubahan pendekatan taktik. Salah satunya dengan pertimbangan tidak mungkin memainkan sepakbola menyerang sepanjang 90 menit penuh.

Hal yang lebih harus disorot bagaimana dengan tekun Osorio mengantisipasi taktik Jerman. Termasuk ketika lawan melakukan perubahan. Ketika Low menugaskan Mario Gomez ke dalam lapangan pada menit ke-79, Osorio telah lima menit lebih dahulu memainkan Rafael Marquez. Osorio belajar banyak dari hasil pertemuan melawan Jerman di Piala Konfederasi. Ketika itu Meksiko kebobolan dua gol pada sepuluh menit pertama dan akhirnya kalah 4-1.

Itulah wajah sepakbola modern. Mempersiapkan rencana permainan, menerapkannya, mengantisipasi taktik lawan, melakukan perubahan, mengantisipasi lagi, melakukan perubahan -- begitu seterusnya seperti sebuah siklus. Islandia dan Meksiko, bahkan Iran, telah mempraktekannya dan itu membuktikan kepantasan mereka berlaga di Piala Dunia.

Tujuannya? Hasil akhir. Ada banyak cara bagaimana melakukannya. Bertahan seperti Islandia atau menyerang seperti Meksiko? Tidak ada yang berhak melarang.

 

LIMA ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Striker Korsel U-23 Rela Disingkirkan Son Heung Min
2. Nikola Kalinic Resmi Dipulangkan Kroasia
3. Jadwal Persija, Persib & Tim Liga 1 Lainnya Di Piala Indonesia 2018
4. Kemarahan Zinedine Zidane Masih Tersimpan Di Leipzig
5. Hazard Bersaudara & Deretan Kakak Beradik Di Piala Dunia

 

Tutup