Laporan media mengungkap adanya penolakan dari sejumlah pejabat terkemuka di dalam Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) terhadap usulan kembali menggelar turnamen Piala Afrika setiap dua tahun, seiring peninjauan ulang atas keputusan menyelenggarakan kompetisi tersebut sekali dalam 4 tahun, yang sebelumnya telah diumumkan sebelum dimulainya edisi 2025.
Menurut jurnalis investigasi Romain Molina, Ahmed Ould Yahya, presiden Federasi Sepak Bola Mauritania, dan Souleiman Hassan Waberi, presiden Federasi Sepak Bola Djibouti, memberikan suara menentang kembalinya sistem penyelenggaraan turnamen setiap dua tahun, dalam diskusi di dalam Komite Eksekutif CAF.
Laporan tersebut tidak mengungkap alasan yang mendorong kedua pejabat itu mengambil sikap demikian, sembari menyebutkan bahwa keduanya merupakan minoritas di dalam Komite Eksekutif, yang sebagian besar anggotanya cenderung mendukung penyelenggaraan turnamen setiap dua tahun, mengingat pendapatan finansial yang dihasilkan kompetisi tersebut.
Mundur dari rencana turnamen tiap 4 tahun
Sebelumnya, Patrice Motsepe, presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika, telah mengumumkan sebelum dimulainya Piala Afrika 2025 adanya arah kebijakan untuk menggelar turnamen setiap empat tahun alih-alih dua tahun, dengan penerapan sistem baru itu dimulai sejak tahun 2028.
Namun Motsepe belakangan kembali membuka pintu bagi peninjauan ulang keputusan tersebut, setelah menegaskan, di sela-sela sebuah konferensi strategis yang digelar di Tanjung Verde pekan lalu, bahwa usulan untuk kembali ke sistem sebelumnya sedang dikaji.
Topik Terkait
Perkembangan ini mencerminkan kemunduran dari arah kebijakan yang diumumkan sebelumnya, di tengah perdebatan mengenai kelayakan ekonomi penyelenggaraan turnamen setiap empat tahun, karena para pendukung penyelenggaraan setiap dua tahun menilai bahwa pengurangan jumlah edisi akan berdampak negatif pada sumber daya finansial Konfederasi Afrika, mengingat posisi turnamen tersebut sebagai salah satu sumber pendapatan terpentingnya.
Benturan kepentingan di balik perubahan format Piala Afrika
Menurut analisis Molina, pertimbangan politis dan keseimbangan kepentingan internasional bisa menjadi salah satu faktor utama di balik peninjauan ulang keputusan tersebut, selain perhitungan finansial yang terkait dengan turnamen itu.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa penerapan sistem penyelenggaraan Piala Afrika setiap empat tahun dipandang sebagai konsesi demi kepentingan klub-klub besar Eropa, yang menghadapi kesulitan karena harus mengizinkan para pemain Afrika mereka bergabung dengan tim nasional negara masing-masing selama musim kompetisi.
Laporan itu menambahkan bahwa ketegangan antara Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), di tengah dukungan yang diterima Gianni Infantino, presiden FIFA, dari pihak Konfederasi Afrika, mungkin turut berkontribusi pada berubahnya perhitungan dan diajukannya kembali sistem sebelumnya.
Laporan tersebut mengaitkan perkembangan ini dengan perselisihan yang menyusul terbongkarnya sebuah proyek yang tidak terwujud terkait privatisasi kuota-kuota yang berkaitan dengan Piala Dunia, dengan menilai bahwa pertikaian antara pihak-pihak berpengaruh dalam sepak bola dunia bisa menjadi salah satu faktor yang membentuk ulang sikap mengenai periodisasi turnamen Afrika tersebut.

